Jadi Guru, Guru Jadi, Sebuah Refleksi dari sebuah Profesi

0
17038

Oleh : Cucu Supiandi, S.Pd

“Terpujilah wahai engkau ibu, bapak guru… Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku…”

Penggalan lagu dari Hymne Guru, sebuah kata pujian bagi sebuah profesi yang kental kita kenal dengan pegiat pendidikan, elemen pencerdas anak bangsa. Profesi guru merupakan nasib yang harus disyukuri atau sebuah pilihan yang harus dipertanggung jawabkan ? Entahlah… Yang jelas, profesi guru merupakan kegiatan yang mulia, dimana semua yang dilakukannya adalah kegiatan yang mulia…

Karena merupakan implementasi dari sebuah Hadist yang mengungkapkan bahwa..”Sampaikanlah ilmu walaupun satu ayat”. Dan tanpa disadari, terlepas dari sebuah konsekwensi pekerjaan bahwa guru setiap harinya melaksanakan ‘Sunnah Rosul’ dan tentunya akan dicatat sebagai sebuah ibadah.. Semoga !

Secara etimologis, guru berasal dari bahasa sanskerta, gur-‘u, yang berarti mulia, bermutu, memiliki kehebatan dan orang yang sangat dihormati. Senada makna guru dalam bahasa Sangsekerta. Pada kamus Jawa Kuno, kata guru berarti orang yang patut dimuliakan, pembimbing (spiritual).

Di era pemerintahan sekarang ini, profesi guru menjadi sebuah pilihan hidup yang menjanjikan untuk masa depan, dimana reward untuk pekerjaan ini begitu menggiurkan. Ini tergantung dari golongan bagi PNS dan jumlah jam mengajar setiap minggunya bagi Honorer. Selain itu, profesi guru juga sangat diburu oleh para pencari pekerjaan. Hal ini disebabkan, masuk untuk bekerja menjadi guru bisa dikatakan mudah. Walaupun hanya untuk sebagai honorer , dengan berbekal harapan nantinya akan diangkat menjadi PNS. Harapan inilah yang selalu ditunggu, bahkan baru-baru ini harapan ini berubah menjadi tuntutan.

Profesionalitas seorang guru saat ini sedang dipertanyakan keberadaanya. Hal ini dibuktikan dengan adanya kegiatan Uji Kompetensi Guru (UKG). Hal tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah mengoptimalkan kompetensi yang dimiliki oleh seorang guru, katanya.

Namun, pada pelaksanaannya menjadi kegiatan yang kontradiktif dengan banyaknya berbagai asumsi tentang kegiatan UKG ini.

Mungkin sebuah profesi sebagai guru bisa dianalogikan, apabila kita kembali ke bangku sekolah dalam pelajaran bahasa ada kata pertanyaan yaitu 5W1H, What, Who, Why, Where, When dan How, What ? : Apa itu Guru? Guru adalah sebuah profesi, Who ? : Siapa itu Guru? Guru adalah seseorang yang memiliki kompetensi sebagai media transformasi di bidang ilmu pendidikan. Why ? : Kenapa menjadi Guru? Guru merupakan sebuah pilihan profesi yang sangat mulia dan membanggakan,Where ? : Dimana Guru melakukan tugasnya? Guru melakukan atau mengimplemetasikan profesinya dimanapun dia berada, When ? : Kapan melaksanakan tugasnya. Guru melaksanakan atau mengaplikasikan profesinya kapanpun ketika dibutuhkan, How ? : Bagaimana menjadi Guru? Guru yang luar biasa adalah guru yang bisa memberikan motivasi kepada orang lain (siswa) untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Disinilah kita bisa mengklasifikasikan tentang mana yang hanya sekedar ‘JADI GURU’ atau mana yang benar-benar sebagai ‘GURU JADI.’ Apabila tercantum hanya beberapa poin saja yang sesuai dengan poin-poin di atas, maka bisa diklasifikasikan sebagai guru yang hanya sekedar ‘JADI GURU,’ namun apabila tercantum seluruh poin-poin diatas maka bisa diklasifikasikan sebagai guru yang matang dan benar-benar ‘GURU JADI.’

Apabila kita mau berkaca kepada tokoh guru yang sangat cocok disebut ‘Maha Guru’ di Indonesia, maka berkacalah pada sosok HOS Tjokroaminoto, Tirto Adhi Surjo dan KH. Agus Salim ini dikarenakan produk pendidikan yang dihasilkan sangatlah luarbiasa. Beliau beliaulah yang menelorkan produk pendidikan, murid-murid luar biasa, diantaranya Ir. Soekarno, Muso, Kartosuwirjo, Ahmad Dahlan, Abdul Muis, Ki Hajar Dewantara, Tan Malaka dan seabreg lagi anak didik yang patut dibanggakan oleh kita sebagai anak bangsa.

Penulis Adalah, Staf Pengajar SMAN 9 Garut dan SMP PGRI Malangbong.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR