IPM Kabupaten Garut Menunjukan Tren Positif

DALAM konsep pembangunan manusia diperkirakan sebelum tahun 1970-an, pembangunan itu dipandang sebagai ekonomi semata saja. Dari catattan United Nations Development Programme (UNDP) atau Badan Program Pembangunan PBB, menyebutkan, ada beberapa poin penting tujuan utama pembangunan. Diantaranya menciptakan lingkungan yang memungkinkan rakyat untuk menikmati panjang umur, sehat dan menjalankan hidup yang produktif.

Pembangunan manusia didefinisikan sebagai proses perluasan pilihan bagi penduduk ( a proces of enlarging the choices of people ). Sementara itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah indeks yang mengukur pembangunan manusia tiga aspek dasar yang meliputi, Umur Panjang dan Hidup Sehat (A Long and Healty Life), Pengetahuan (Knowlege) dan Standar Hidup Layak ( A Decent Standard of Living ).

Demikian dipaparkan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Garut, H. Iman Alirahman, SH.,M.Si., saat menyampaikan materinya dalam acara Sosialisasi Metode Baru Perhitungan IPM dihadapan sejumlah Kepala SKPD dan Para Camat di Lingkungan Pemerintahan Kabupaten Garut, Jumat (05/02/2016) di Aula Bappeda Kabupaten Garut.

“Dalam perkembangannya, selama periode 1990-2014 setidaknya terjadi 6 kali perubahan metodologi perhitungan IPM dengan alasan beberapa indikator yang dianggap sudah tidak tepat lagi untuk digunakan,” jelasnya.

Sekda menjelaskan, ada beberapa perubahan metodologi penghitungan IPM, diantaranya Pertama, beberapa indikator sudah tidak tepat digunakan dalam perhitungan IPM. Angka melek huruf sudah tidak relevan dalam mengukur pendidikan. Selain itu, karena angka melek huruf di sebagian besar daerah sudah tinggi, sehingga tidak dapat membedakan tingkat pendidikan antar daerah dengan baik. Kedua, penggunaan rumus rata-rata aritmatik dalam penghitungan IPM menggambarkan bahwa capaian yang rendah di suatu dimensi dapat ditutupi oleh capaian tinggi dimensi lain.

Dengan metodologi baru ini dapat dilihat dari beberapa perubahan dengan indikatornya, Angka melek huruf pada metode lama diganti dengan Angka Harapan Lama Sekolah. Sementara Produk Domestik Bruto (PNB) per kapita diganti dengan Produk Nasional Bruto (PNB) per kapita. Kemudian metode perhitungannya, dari Metode agresi diubah dari rata-rata aritmatik menjadi rata-rata geometrik.

Dalam sosialisasi IPM kali ini juga, Kepala Bappeda Kabupaten Garut, Ir. Widiyana,CES., mengungkap terkait trend Perubahan Peningkatan IPM di Kabupaten Garut. Ir. Widiyana memaparkan, IPM Kabupaten Garut dalam rentang tahun 2010-2014 meningkat 2 poin, dari sebelumnya 60, 23 pada tahun 2010 menjadi 62,23 pada tahun 2014. Dengan demikian, jika dirata-ratakan IPM Kabupaten Garut di beberapa sektor meningkat setiap tahunnya 0,5 poin.

“Jadi kesimpulannya, keberhasilan pembangunan manusia bisa dilihat dari keberhasilan semua dimensi. Keberhasilan satu dimensi tentunya tidak akan dapat menutupi kekurangan dimensi lainnya,” jelasnya.

Dikatakannya, capaian pembangunan sektor kesehatan misalnya, dilihat dari derajat kesehatan masyarakat yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perilaku kesehatan, pelayanan kesehatan dan keturunan. Sementara itu, untuk peluang dan tantangan sektor pendidikan akan dipengaruhi oleh partisipasi sekolah yang bervariasi antar daerah.

“Sementara untuk daya beli masyarakat sangat dipengaruhi oleh kondisi makro ekonomi,” pungkasnya. (Cep)***