IPB Usulkan Perhutani Buat Hutan Pendidikan

TARKID, (GE).- Sebagai sarana untuk membangun kesadaran cinta lingkungan dan hutan di kalangan generasi muda dalam jangka panjang, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) mengusulkan kepada Perhutani untuk membangun kawasan hutan pendidikan di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

“Kami telah mengusulkan kepada Perhutani agar ada kawasan sebagai hutan pendidikan yang berguna untuk edukasi masyarakat tentang hutan,” ujar Dekan Fakultas Kehutanan Dr Rinekso Soekmadi saat pemberian bantuan sekaligus meninjau daerah terdampak banjir bandang di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis, (13/10/16).

Menurut Rinekso, pendidikan tentang manfaat dan fungsi hutan perlu diterapkan kepada seluruh elemen masyarakat sejak dini sebagai langkah menjaga kelestarian lingkungan untuk menghindari bencana alam yang mengancam di kemudian hari.


Perhutani, lanjut dia, dapat menyiapkan lahan kosong untuk belajar menanam pohon danĀ  lahan pengembangannya bagi anak anak sekolah, sekaligus dibuat dalam bentuk kawasan wisata alam.

“Perhutani tinggal menyiapkan lahan untuk hutan pendidikan ini, untuk wisata bisa membuat camping ground, semua itu untuk meningkatkan rasa kecintaan terhadap lingkungan,” ujarnya.

Usulan tersebut, katanya, merupakan hasil kajianĀ  bersama dengan Alumni Fakultas Kehutanan IPB yang mengharapkan adanya sinergi dengan pemerintah dalam menjaga kawasan hutan. IPB dan Alumni Fakultas Kehutanan, lanjut dia, siap membantu membuatkan skenario peta termasuk memberikan dampingan teknis dalam pengelolaan hutan pendikan itu.

“Program hutan pendidikan itu sudah berjalan di Bogor, kita sudah membina beberapa sekolah SD, SMP dan SMA dalam menerapkan hutan pendidikan,” katanya.

Ketua Himpunan Alumni Fakuktas IPB, M Auria Ibrahim menambahkan bencana banjir bandang di Garut bukan persoalan kerusakan hutan yang dilakukan dalam waktu singkat, tetapi sudah berlangsung lama yang dampak negatifnya terjadi saat ini.

“Kejadian banjir di Garut ini terjadi bukan karena kerusakan hutan sekarang, masalah hutan itu bukan sekarang rusak besok terjadi (bencana), tapi sudah lama,” katanya.

Menurut dia, sejak era reformasi terjadi, ternyata telah diikuti perubahan perilaku manusia dalam perlakuan terhadap lingkungan, yang dengan cepat lahan hutan beralihfungsi menjadi tanaman sayuran.

Namun alihfungsi hutan itu, kata dia, bukan berarti dilakukan oleh masyarakat sekitar hutan, tetapi bisa juga dipengaruhi oleh pihak luar, seperti halnya para pemodal. “Saya percaya masyarakat tidak mengganggu hutan, bisa saja pengaruh dari luar,” pungkasnya. (Slamet Timur)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI