Ini Kisah Penulis Muda Bertalenta dari Garut Utara, Sindy Puji Astari

Sindy Puji Astari

PERJALANAN panjang Sindy Puji Astari sebelum mengapai impiannya menjadi seorang penulis cerpen dan novel. Kisahnya ingin menjadi seorang penulis, ternyata muncul ketika Ia menjelang masuk sekolah dasar karena termotivasi dengan dongeng-dongeng sebelum tidur dari ibundanya.

Jika diceritakan pengalaman Sindy dari awal sampai menjadi penulis cerpen dan novel, memang bagaikan benang merah yang tak terputus. Kisahnya masih membekas dalam ingatannya dari sejak kecil ingin menjadi pengarang hingga saat ini. “Waktu itu, ketika saya masih belum sekolah, setiap menjelang tidur selalu dininabobokan oleh ibuku dengan dongeng-dongeng sebelum tidur, seperti fabel, legenda, mite, hikayat, kisah-kisah nabi maupun para sahabat nabi. Dongeng menjelang tidur itu malah menjadi awal ketertarikan saya terhadap sastra,” tutur Sindy dirumah orangtuanya, di Kampung Angkrek RW 14 Desa Wanakerta Kecamatan Cibatu.

Dikisahkan oleh Sindy, sebelum masuk sekolah dasar, cerita-cerita itu semakin mendorong semangatnya untuk belajar membaca. Setelah bisa membaca, pertama tulisan yang dibacanya, yaitu cerita rakyat Sibungsu, Buyut waringin, Legenda Situ Bagendit, dan Dalem Boncel. Cerita itu berulang kali dibacanya hingga hapal dibenaknya. Bahkan ia mampu menceritakan ulang secara lisan kepada teman-temannya.

Meskipun masih anak-anak, Sindy mengakuinya, setelah membaca cerita-cerita tersebut, didadanya menggebu keinginan untuk bisa menulis suatu cerita karangan sendiri, seperti para penulis cerita rakyat yang selalu dibacanya. Namun masih bingung, bagaimana untuk mengawalinya.

“Barulah ketika saya duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar. Waktu itu pada awal semester genap, Bu Ipah Rosipah, S.Pd., sebagai wali kelas menugaskan kepada anak-anak didiknya harus membuat karangan bertema pengalaman setelah libur sekolah. Saya benar-benar merasa bersemangat untuk menulis karangan. Soalnya saya punya cerita pengalaman liburan bersama orang tuaku sewaktu bertamasya ke kebun binatang Bandung, bermain di taman Ganesha, dan berkeliling di kampus ITB,” ujar Sindy.

Tugas membuat karangan tersebut, bagi Sindy merupakan tugas yang mengawalinya menjadi semangat dalam dunia tulis menulis. Sehingga ia yang paling pertama selesai mengerjakan tugas mengarang. Hasilnya pun meraih nilai 90. Meskipun setiap kalimat dalam untaian karangan itu selalu diawali dengan kata “Aku”. Namun dengan nilai sebesar itu memberikan suatu kepuasan tersendiri yang memicu semangatnya menjadi rasa senang terhadap dunia tulis menulis.

Biarpun masih duduk dibangku sekolah dasar, ternyata Sindy telah bisa menuangkan pikiran dan perasaannya lewat tulisan. Maka munculah inisiatif untuk menuliskan, apa yang dilihat, didengar dan dirasakannya sebagai pengalaman ke dalam buku hariannya (diary). Bagi Sindy tulisan-tulisan dalam buku diary itu bisa dijadikan sebgai pengingat, hiburan dan pembelajaran apabila dibacanya kembali.

“Terkadang saya suka tersenyum dan tertawa tipis ketika membaca catatan saya sewaktu duduk dibangkus sekolah dasar,” ujarnya.

Menurut Sindy, sewaktu kelas 6, sebelum menulis novel, terlebih dahulu senang menulis jurnal dalam buku diary-nya, dan tertarik dengan menulis puisi. Suatu saat tatkala dirinya menimba ilmu di kelas VII SMPN Cibatu, ia selalu tampil dengan puisi-puisi karyanya yang sempat ditulis menjadi kumpulan puisi dengan tulisan tangan sendiri. Namun, kala itu ia belum percaya diri untuk berpartisipasi dalam event lomba menulis puisi narasi tingkat kabupaten. Hal itu diakuinya, setelah melampirkan lembar puisi yang sudah ditulis kepada panitia seleksi di sekolah, selalu diurungkannya.

Talenta Sindy semakin hari semakin terlihat. Hal itu terbukti sewaktu ia duduk dibangku kelas XI SMAN 3 Garut, bakat menulisnya bukan hanya sebatas rajin menulis catatan harian dan puisi saja, melainkan ia rajin menulis cerpen. Kemampuan menulis cerpen muncul ketika ia menimba ilmu agama di Pesantren Darul Muta’alimin, Babakan loa (Sekarang menjadi Pesantren Babakan Cimanuk, di blok Mangkubumi). “Entah kenapa, inspirasi itu selalu hadir saat saya sedang menerima pelajaran kitab kuning,” ungkap Sindy. Menurut pengakuannya, saat itu seperti ada yang membisikan kata-kata indah, seraya mendorongnya untuk menggerakan tangannya untuk merakit untaian-untaian kalimat menjadi suatu buah pena.

Selain itu dipacu dengan kata mutiara dari seorang tokoh sufi, yakni Imam Al-Ghazali. Kata mutiara itu masih teringat dalam benaknya yang berbunyi, “Jika engkau bukan anak raja, atau ulama besar, maka menulislah engkau, dan jadilah penulis.”

Apalagi semangatnya semakin termotivasi untuk menjadi penulis, tatkala Drs. Nandang Kusdiana guru kimia di SMAN 3 Garut yang mengatakan, “Sok ku bapa dido’akeun sing jadi penulis.” Namun salah satu temannya mengatakan kata-kata yang berkesan menyindir. “Lain nulis novel, tapi nulis karangan ilmiah,” ujar temannya seperti sinis.

Meski sempat geram waktu itu, tapi Sindy percaya bahwa dengan keuletan dan ketekunan, pasti akan melahirkan secara bertahap mengenai kemampuan menulis dari menulis jurnal, puisi, pidato, cerpen, novel, hingga mampu menulis karya ilmiah sesuai dengan keinginannya. Maka ia mulailah menguntai kata yang mengandung nilai-nilai keindahan melalui jurnal pribadinya, menulis puisi, dan cerpen yang kemudian tergugah untuk berkarya menulis novel.

Rasa penasaran pun muncul menghantui hati Sindy. Apakah buah penanya itu layak atau tidak diterbitkan? Tiba-tiba munculah gagasan untuk menghubungi semua kontak penulis dan penerbit yang sudah dicatat. Diantara yang dihubungi tersebut ada yang merespon dan ada pula yang tidak membalasnya. Namun hal itu tidak dijadikannya kecil hati. Masalah tulisannya ditolak, atau diterimanya oleh penerbit, bagi Sindy merupakan kewajaran. Justru dengan adanya penolakan atau kritikan dari penerbit, adalah suatu kesempatan untuk membenahi karya-karyanya.

Akhirnya muncul keinginan dan keberanian untuk mengikuti ajang lomba menulis. Berbagai lomba diikutinya. Walau tidak selamanya terpilih. Akan tetapi terus mencobanya tanpa kenal menyerah. Karena mencoba itu bagi Sindy merupakan senjata ampuh, bahwa satu saat akan meraih apa yang diimpikannya.

Ternyata pernyataan tersebut memang terbukti, Sindy terpilih sebagai konstributor lomba menulis cerpen dengan tema “Tuhan Tidak Pernah Melupakan Kita”. Waktu itu ia menulis Cerpen berjudul “Bukan Makhluk Monodualistik”. Cerpen itu masuk volume 1 terbitan Oksana Publishing (2015). Kemudian terpilih lagi sebagai konstributor lomba menulis cerpen bertema “Jatuh Cinta Diam-diam”. Dengan tema tersebut, Ia menulis cerpen berjudul “Setitik Rasa Tak Terdefinisi” yang selanjutnya terjaring pada volume 1 terbitan Bebook Publisher Purwokerto (2015).

Selain terpilih sebagai konstributor lomba menulis cerpen remaja, Sindy juga terpilih sebagai konstributor lomba menulis Cerpen Anak Islami. Tiga judul cerpen, yaitu Ayo Menghapal Al-Qur’an!, Jangan Putus Asa, dan Hati-hati Menggunakan Barang Orang lain, telah diterbitkan oleh Pro-U Media Jogjakarta (2015) serta mendapatkan apresiasi vocer penerbitan novel secara gratis dari La Book Publisher (2016).

Realita itu semakin menggelorakan semangatnya untuk terus berkarya. Bahkan bukan hanya sebatas menulis cerpen, tapi ia lebih giat dan senang menulis novel. Hal itu terinspirasi dari guru kelasnya (kelas XII), Dra. Midah Samidah yang mengajarkan bidang study bahasa Indonesia. Guru bahasa Indonesia itu pernah mengatakan, Biasakan menuliskan pengalaman! Siapa tahu jadi novelis. Misalnya waktu SMA, seperti suka surat menyurat dengan orang yang digemari secara rahasia, bisa saja dibuat judul novel, contohnya surat terakhir. Ya, mulailah dari kisah-kasih di sekolah. Siapa tahu jadi penulis terkenal.

Maka dari itu, Sindy mulai mencoba menulis novel dari hasil pengalamannya sendiri. Dengan apa adanya, ia mengungkapkan secara jujur, inspirasinya terilhami dari Dra. Midah Samidah (Guru bahasa Indonesia), dan pernah membaca karya Chairil Anwar yang tidak tanggung-tanggung menuliskan nama-nama wanita yang pernah ditaksirnya semasa muda dalam beberapa syairnya..

Alhamdulillah, ujarnya, ada beberapa novel sebagai buah penanya yang telah diterbitkan oleh perusahaan penerbitan, diantaranya “Cinta Gue Tragis” adalah novel remaja yang merupakan novel perdananya. Diterbitan oleh Bebook Publisher (2015). Nilai religi yang terkadung dalam cerita itu, kata Sindy, yakni mengarah pada takdir manusia yang telah disiapkan oleh Tuhan.

Selanjutnya novel berjudul “Riswan, Memori Titipan Tuhan” diterbitan Bebook Publisher tahun 2015. Novel tersebut, ujarnya, mengandung nilai sosial, dan nilai religi. Nilai sosialnya adalah jangan terlalu menggantungkan diri terhadap orang lain agar tidak menemukan kekecewaan. Sedangkan Nilai religinya, yakni memacu pada pentingnya Dzikrillah sebagai Maha Obat dari segala obat.

Kemudian Novel berjudul “Putus” diterbitan oleh Labook Publisher (2015). Dalam novel itu, ucap Sindy, nilai religinya, yaitu setiap permasalahan akan terselesaikan jika kita dekat dengan Tuhan, dan jangan sampai kita memutuskan hubungan dengan Tuhan. Begitu juga nilai sosialnya, adalah setiap manusia memiliki kehidupan yang dinamis yang mengarah kepada dua aspek, yaitu antara perubahan atau kemunduran.

Lalu novel “Rindu Punya Pacar Baru” yang diterbitan oleh Oksana Publishing (2016). Isi novel tersebut, yaitu tersirat nilai edukatif yang menyadarkan bahwa pendidikan akademik sangat penting. Akan tetapi harus diseimbangkan dengan pentingnya pendidikan religius. Sedangkan nilai sosial dari cerita tersebut adalah menyadarkaan pentingnya pemanfaatan media sosial sebagai alat komunikasi. Dan nilai religi yang terkandungnya mengarah kepada sufistik. Serta nilai moralnya adalah menyadarkan kepada pria, bahwa pria adalah penjaga kaum wanita, maka tidak terlepas, bahwa wanita juga harus menjaga kehormatannya sendiri.

Berikutnya adalah novel berjudul, Jika Kamu Punya Mimpi yang diterbitan oleh Oksana Publishing (2016). Pesan dari isi novel tersebut nilai edukatifnya, yakni tentang pentingnya pencapaian ilmu. Sedangkan nilai moralnya adalah jangan mudah menyerah untuk meraih cita-cita. Karena satu dari beberapa yang pernah kita cita-citakan pasti akan ada yang terwujud. Sedangkan nnilai religinya dari novel itu, adalah nilai religi yang mengarah kepada sufistik. Khususnya terkait dengan tarekat Qodiriyah wal Naqsabandiyah.

Kini Sindy Puji Astari masih berstatus sebagai mahasiswa progam S1 di Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya. Fokusnya di Fakultas Dakwah, Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI). Dipertengahan tahun 2016 ini, ia baru akan masuk tingkat dua, semester tiga.

Menurutnya, dunia tulis menulis itu sudah memiliki tempat istimewa dihatinya. Meskipun dalam keadaan sesibuk apapun sewaktu meniba ilmu dibangku kuliah, namun ia tetap akan berkarya. (Ilham Amir)***