Hj. Teti Salehati, S.Pd.,M.Pd, “Srikandi” SMP Tunas Harapan

NASIB SMP Tunas Harapan Cibatu yang dikenal dengan sebutan SMP TH sempat mengalami vakum selama setahun (2011-2012). Bahkan tersebar isu miring, bahwa sekolah tersebut telah gulung tikar.

Namun, ketika Hj. Teti Salehati, S.Pd.,M.Pd., dipercaya memangku jabatan Kepala SMP Tunas Harapan, sekolah yang berdiri sejak tahun 1982 itu, akhirnya bisa terselamatkan.

Sebelumnya para pendiri Yayasan Tutwuri Handayani mengajukan permohonan kepada Pemda Tasik, demi menarik Hj. Teti Salehati, untuk bisa memimpin SMP Tunas Harapan Cibatu. Menurut para pendiri yayasan tersebut, hanya Hj. Teti-lah sebagai “Srikandi” yang akan menyelamatkan dan mampu memberdayakan lagi SMP Tunas Harapan Cibatu.


Hj. Teti, merupakan putri dari pendiri SMP TH Cibatu, juga pengalamannya pernah menjadi guru honor di sekolah itu. Kemudian diangkat PNS pada tahun 1955 yang bertugas menjadi pelaksana teknis pendidikan di SMPN 2 Tasik.

Hj. Teti bisa dibilang sangat layak sekali menjadi sosok kepala sekolah. Pasalnya, dari sejak menjadi guru honor hingga diangkat menjadi PNS, pengalamannya sebagai tenaga pendidik sudah berusia 18 tahun.

“Akhirnya pada awal Desember tahun 2012, saya menjadi kepala sekolah. Namun ketika saya mengawali mengabdikan diri menjadi kepala sekolah di SMP Tunas Harapan, sempat dihantui rasa bingung melihat ruangan kelas yang mesti diperbaiki. Soalnya di satu sisi saya harus membenahi fisik sekolah ini, karena keadaan ruangan kelasnya kurang memadai. Selain itu, bagaimana kita harus mengembalikan kepercayaan sekolah ini kepada masyarakat,” ujar Hj.Teti.

Diungkapkannya, ntuk meyakinkan kembali kepada masyarakat mengenai kesuksesan SMP TH yang sudah terkenal sejak tahun 1982. Ia bekerja sama dengan beberapa satuan pendidikan sekolah dasar.

“Sehingga sewaktu membuka penerimaan siswa baru untuk tahun ajaran 2012-2013 per rombelnya memenuhi standarisasi minimal. Saat ini di SMP Tunas Harapan memiliki peserta didiknya sebanyak 85 siswa,” katanya.

Kini Hj. Teti, boleh dibilang menuai sukses menyelamatkan nasib sekolah tersebut. Tak percuma telah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan materi.

“Yang penting dalam suatu perjuangan itu harus diiringi dengan keikhlasan, dan senantiasa menyerahkannya kepada Allah SWT,” pungkasnya.(Ilham Amir)***

Editor: Kang Cep.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI