Hj. Siti Mufattahah: Idul Adha Memiliki Dua Dimensi Ibadah

BAGI Hj. Siti Mufattahah Anggota DPR  RI dari Komisi IX Partai Demokrat Daerah Pemilihan ( Dapil)  Jabar XI ini,  saling berbagi di moment Idul Adha  memiliki  nilai tersendiri yang membuatnya bahagia.

Berbagi  hewan kurban bagi masyarakat di dapilnya,  Kabupaten Garut,  dan Kab Kota Tasikmalaya selain tradisinya setiap  tahun  itu merupakan salah satu bentuk kepeduliannya pada masyarakatnya terutama dindapilnya.  Karena itu ditahun ini,  kembali ia membagikan ribuan hewan qurban untuk warga di  dapilnya.

Hj. Siti Mufattahah kini tengah berada ditengah suci Mekah bersama jutaan umat muslim Indonesia dalam menunaikan ibadah Haji sekaligus menjadi pembingbing  para jemaah Haji.


Melalui asisten pribadinya, Yadi,  Hj.Siti Mufattahah menyampaikan permohonan maafnya bila masih ada warga yang belum kebagian hewan qurban.  Diakuinya warga didapilnya jumlahnya jutaan Jiwa.  Karena itu ia berharap semoga setiap tahun semakin meningkat jumlahnya,  namun yang terpenting   adalah  makna  qurban itu sendri.  Baik bagi dirinya maupun warganya.

Menurutnya,  Makna qurban dalam idul adha adalah bahwa kita harus ikhlas dalam menjalankan cobaan dari Allah.  Selain itu, katanya Makna Qurban memiliki dua dimensi yaitu Dimensi Ibadah- spritual dan dimensi sosial.

Dimensi ibadah dalam tradisi qurban, lanjut Hj. Siti , sudah jelas menjadi bentuk ketaatan hamba kepada Tuhannya. Ketaatan itu harus dilandasi dengan rasa ikhlas sepenuhnya, sehingga kita menjadi dekat dengan Allah. Hal inilah yang dimaksud qurban dalam pengertian ibadah, yakni qarib.

Dari segi sosial dalam tradisi qurban sudah bisa dibaca dengan kasat mata bahwa ibadah qurban memberikan kesejahteraan kepada lingkungan sosial berupa daging kurban yang notabene hanya bisa dijangkau kalangan elite. “Ini berlaku di desa, bukan di kota-kota yang memang sudah terbiasa makan daging. Dengan qurban dari perspektif sosial, ini menjadi bagian dari ketakwaan kita kepada Allah secara horizontal,” imbuh Hj. Siti Mufattahah .

“Jadi, Allah selalu memerintah hamba-Nya untuk selalu mengharmonisasikan antara ibadah vertikal (hablum minallah) dan ibadah horizontal (hablum minannas). Keduanya berjalan beriringan tanpa ada sekat dan harus senantiasa berdialektika,” tuturnya.

Makna pertama merujuk pada kata qarib yang identik pada ibadah vertikal, dan arti qurban kedua merujuk pada makna kata udhhiyah atau dhahiyyah yang dilekatkan pada ibadah horizontal. (TAF Senopati/ Adv.) ***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI