Hera Sri Rahmawati, Mahasiswi yang Sukses Berbisnis Kerudung Velvet

DALAM rentang tahun 2015 lalu, kerudung jenis Velvet persegi empat mulai digandrungi kaum Hawa di Garut, khususnya kalangan pelajar dan mahasiswi. Hera Sri Rahmawati, yang saat itu masih berstatus mahasiswi memandang, kemunculan kerudung Velvet sebagai peluang usaha yang layak dicoba. Terlebih untuk kerudung jenis ini terbilang jarang ada di pasaran.

Dengan tekad yang kuat, Hera memulai usahanya dengan modal Rp 112.000. Dengan modal yang pas pasan inilah ia membeli bahan kain Velvet yang kemudian diproduksi di rumahnya. Menurutnya, memproduksi sendiri lebih menguntungkan dibanding memesan barang yang sudah jadi pada orang lain.

“Dari awal, kepikirannya bikin sendiri untungnya lumayan, daripada jadi reseller. Yam meski capenya dobel,” ungkap perempuan kelahiran Garut, 1 Agustus 1995 ini, saat dijumpai ‘GE’ di kediamannya, Kampung Dangdeur, Desa Suci, Kecamatan Karangpawitan, Garut, Ahad (8/1/ 2017).

Memulai awal pemasaran, Hera menjual produknya dengan harga mulai dari Rp 35.000. Produk hasil kreasinya ini dijual kepada teman temannya sesama mahasiswi di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Garut.

Dalam menjalankan bisnisnya, Ia tak menghiraukan “kegengsian,” bahkan Hera kerap kali membawa barang dagangannya yang hanya diwadahi kantong kresek, dan digelar di depan pintu kelasnya. Momen lalu lalang mahasiswa dijadikannya sebagai kesempatan untuk menawarkan dagannya.

“Berani aja, jangan malu-malu, kalo nurutin gengsi iraha prakna atuh,” tutur Hera yang sempat berprofesi sebagai News Anchor di 9TV Garut ini. Ia berkisah, saking antusiasnya pembeli, kresek untuk menenteng barang dagannya sampai terkoyak.

“Ya, dulu awalnya pake kresek besar buat nenteng jilbab, saking antusiasnya pembeli si kresek sampe robek,” kenangnya, seraya tergelak.

Tak cukup berjualan di Fikom saja, Hera gencar mempromosikan produknya di akun Instagram miliknya,  “Herazwan”. Nama itu sekaligus sebagai label untuk produk daganngannya yang terinspirasi dari nama pendeknya, nama Ayah dan Kakeknya. Bulan pertama pemasaran, pengorder dari online shop nya hanya 30 orang yang kebanyakan warga Garut.

Bagi Hera jumlah pengorder tersebut cukup membuatnya semangat karena dianggap lumayan banyak. Tak disangka, beberapa bulan berikutnya ia dibanjiri 500 orderan dalam sebulan dari berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan ia sempat terkejut karena salah seorang pembelinya datang dari Papua.  Ia tak menduga produknya sampai dikenal ke daerah tersebut.

Hingga kini ia sudah terbiasa melayani ratusan pengorder yang mendorongnya berhasil mendapatkan satu unit mobil. Berkat perkembangan pesat usahanya, ia sempat dilirik salahsatu Televisi swasta di Jakarta yang meliputnya sebagai pengusaha muda.

Perempuan yang berhasil meraih gelar sarjana di usia 21 tahun ini mengakui usahanya terinspirasi dari dosen mata kuliah Wirausaha Komunikasi. Mata kuliah inilah yang mengajarkannya berani dalam mengambil peluang meski modal tak seberapa.

Ia bersyukur karena mengambil jurusan kuliah yang ilmunya sangat berpengaruh pada bisnisnya. Salahsatunya komunikasi bisnis yang mendorongnya menciptakan komunikasi yang nyaman dengan konsumen. Baginya bisnis  merupakan ruang untuk menerapkan hasil belajarnya.

Sejak SMA, Hera sempat jatuh bangun merintis usaha. Mulai dari berjualan pulsa yang membuatnya dipanggil “Hera Pulsa” sampai membuka usaha ”Seblak Gadun Kampus” bersama dua rekannya. Usaha makanan tersebut kini hanya dikelola rekannya lantaran Hera tak cukup membagi waktunya dengan berjualan jilbab yang semakin pesat.

Tak mau tanggung mendongkrak usahanya, Hera kini bekerjasama dengan rekannya yang lain dalam merancang konsep marketing untuk projek barunya yang mengarah pada desain pakaian. Tentu, keinginannya mampu menjadi desainer yang bisa membesarkan branding produknya. Rupanya, Hera terinspirasi oleh desainer favoritnya, Rina Hatta, yang dinilainya memiliki kreasi sederhana namun elegan.

Kedepannya ia menandaskan pasti akan sering bekerjasama dengan orang lain, apalagi masih banyak mimpinya yang harus tercapai. Ia berharap memiliki galeri hijab sendiri dan bisa memiliki jaringan pemasaran di setiap kecamatan Di Garut.

Meski dalam tahap pengembangan usaha, Hera tetap menyarankan sebagian pengorder untuk berbelanja di Online Shop milik temannya jika dirinya sedang rehat membuka order.

“Kalo lagi off order, aku alihin konsumennya ke temen yang juga bisnis sama. Karena rezeki takkan kemana lah.” Tutupnya. (Rohmah Nashruddin)***

Editor: Kang Cep.