Hemm, Begini Cara ‘Raibnya’ Tunjangan Fungsional Sejumlah Guru di Darul Ulum

CISEWU,(GE).- Dalam pemberitaan sebelumnya di www.garut-express.com disebutkan, sedikitnya 5 orang yang selama ini mengajar di MTs. Darul Ulum yang berlokasi di kawasan Desa Sukajaya, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, mengaku uang tunjangan fungsionalnya ‘ditilap’ pihak yayasan (Darul Ulum) selama hampir 3 tahun, terhitung sejak para guru ini tercatat mendapatkan tunjangan ini.

Belakangan pemberitaan ini mengundang kekhawatiran beberapa pihak, karena bisa saja berita ini mengada-ngada. Pasalnya, dalam juklak juknisnya memang tunjangan ini didistribusikan secara langsung ke rekening masing-masing guru penerima tunjangan, mana mungkin tunjangan ini bisa dipotong atau diambil pihak lain.

Nah, menurut pengakuan guru di MTs. Darul Ulum, sejak mereka tercatat mendapatkan tunjangan fungsional, pihak yayasan menginstruksikan membuka rekening kepada masing masing guru. Bahkan, pihak yayasan memberikan sejumlah uang antara Rp. 150- Rp 200 ribu kepada para staff pengajarnya untuk membuka rekening di bank yang telah ditunjuk. Anehnya, setelah para guru membuka rekening, semua buku tabungan (rekening) termasuk kartu ATM beserta nomor PIN-nya diambil yayasan.

“Dan, setiap pencairan pihak yayasan lah yang mencairkannya dengan menggunakan kartu ATM para guru itu. Jadi kita tidak dapat apa apa. Selain honor bulanan, yang katanya sudah termasuk tunjangan fungsional, kalau memang sudah disatukan dengan tunfus, kenapa jumlahnya tidak bertamabah, malah berkurang?” Tutur salah seorang guru MTs Darul Ulum.

Sementara itu, Ahmad yang merupakan Kepala MTs Darul Ulum, saat dikonfirmasi, menyanggah jika tunfus itu ‘diambil’ pihak yayasan. “Tidak, sudah diambil masing masing guru melalui rekeningnya masing-masing,” tuturnya, sat dihubungi melalui telfon selulernya, Selasa (22/ 12/ 2015).

Para guru MTs Darul Ulum yang merasa dirugikan ‘keukeuh’ mengaku tunfusnya telah diambil pihak yayasan. Adapaun yang diakui Ahmad sebagi Kepala MTs Darul Ulum itu hanya tunfus yang semster akkhir per Bulan Oktober 2015 itupun dengan syarat harus memberikan ke pihak yayasan 50%. Sedangkan yang bulan bulan sebelumnya mutlak yayasan yang mengambilnya.

“Memang, yayasan baru memberikannya semster terakhir ini (per Bulan Oktober/2015) memberikan tunfus dan masing-masih guru mencairkannya, itupun masih dengan syarat kita harus tetap memberikan ‘upeti’ 50 % ke pihak yayasan. Yang jadi pertanyaan dikemanakan tunfus kita pada bulan bulan lalu, dan tahun tahun lalu?!” Ungkap, salah seorang guru yang tetap minta dirahasiakan namanya. (Deni-ST)***