Heboh, Kentongan Buhun Ditabuh “Makhluk Lain”

WARGA Kampung Biru, RW 02/ RT 01 Desa Situsari, Kecamatan Karangpawitan, Rabu (28/10/2015) sekira pulul 15.30 WIB atau waktu tibanya shalat asyar dikagetkan dengan bunyi ‘Kentongan Buhun’ yang tergantung di kompleks Masjid Al-Barokah. Kentongan yang diperkirakan berumur ratusan tahun ini tiba-tiba terdengar berbunyi dengan nada yang berirama khas. Padahal warga disana tak seorangpun yang mengaku memukul kentongan ini. Terang saja kejadian ini membuat heboh seisi kampung yang siang itu kebanyakan tengah beristirahat.

Saat itu sedikitnya ada tiga orang ibu-ibu yang tengah ngobrol di halaman rumah Yeti yang letaknya berhadapan dengan Masjid Al-Barokah. Ke tiga orang ibu-ibu ini mengaku melihat ada bunyi kentongan beberapa kali, padahal di dekat kentongan tersebut tak ada seorangpun, apalagi yang menabuh kentongan. Mendapati kejadian ganjil ini, terang saja ibu-ibu yang tengah berkumpul langsung heboh terkaget-kaget.

“Jelas sekali disana (dekat kentongan/red) tidak ada seorangpun, apalagi yang memukul. Mungkin ada makhluk lain yang iseng,. Iih, jadi merinding,“ ungkap Yeti, seraya mengusap-ngusap pundaknya.

Dengan sorot mata yang hampa, ke-3 ibu rumah tangga tampak ketakutan mendapati kejadian langka ini “Beruntung peristiwa itu terjadinya menjelang asyar, dan pas ada tetangga main ke rumah saya. Sehingga dengan beberapa saat bisa mengusir rasa takut,” tutur Yeti.

Beberapa saat usai terdengarnya bunyi kentongan yang misterius, akhirnya dengan cepat khabar ini tersebar hingga diketahui Kades setempat. Kades Situsari, Santi Cahyati membenarkan adanya kejadaian aneh ini. “Ia, menurut cerita dari kakek dan ayah saya, kentongan itu, sebelum berdirinya Masjid Al-Barokah yang didirikan oleh Mama KH. Hambali pada Tahun 1880, katanya sudah ada. Mungkin saja kentongan buhun tersebut dibuat sejak zaman para waliyullah,” ungkap Santi Cahyati.

Dikisahkannya, Kentongan Buhun Masjid Al-Barokah imi memiliki sejarah panjang. Namun seiring dengan kemajuan jaman, jasa dari alat komunikasi itu kini sudah terlupakan. Padahal, pada masa penjajahan hingga zaman pemberontakan DI-TII, kentongan dan keberadaan masjid itu memiliki jasa tersendrir. Bahkan orang tua dulu untuk merahasiahkannya agar isyarat bunyi dari kentongan ini tidak diketahui oleh musuh. Sejak masa itu Kentongan Buhun Masjid Al-Barokah itu dijuluki dengan nama “Si Ungkluk.”

“Peranan Si Ungkluk waktu dulu, selain sebagai pemberitahuan waktu ibadah shalat tiba, atau ada bencana kebakaran. Juga dijadikan sebagai sarana komunikasi yang memberi isyarat tanda bahaya setelah didahului oleh cahaya lampu batrey. Misalnya bila ada musuh yang menyerang malam hari, baik melalui udara atau darat, kentongan itu dibunyikan sesuai dengan cahaya lampu batrey yang menunjukan keberadaan posisi musuh,” ungkap Kades Situsari, mengisahkan.

Ditambahkannya, karena tergilas jaman teknologi, jasa Si Ungkluk itu bagaikan pahlawan yang terlupakan. Biasanya di jaman sekarang, Si Ungkluk itu dibunyikan sebagai pemberitahuan waktu ibadah shalat, atau ada bencana kebakaran saja. Namun, ketika sejumlah warga yang berada diseputar Masjid Al-Barokah yang tiba-tiba mendengar suara Si Ungkluk berbunyi sendiri, dan heboh menjadi buah bibir, merupakan suatu tanda agar kita mengingat kembali akan jasa-jasanya. Bahwa Si Ungkluk dan Masjid Al-Barokah itu merupakan bukti sejarah yang harus dilestarikan.

“Dengan adanya peristiwa Si Ungkluk berbunyi sendiri, semakin menguatkan niatan saya membuat etalase kaca untuk melastarikannya. Dan duplikatnya akan disesuaikan dengan bukti fisiknya yang terbuat dari kayu pohon nangka, supaya digunakan sebagai mana mestinya oleh warga masyarakat,” pungkas Ibu Kades Situsari. (Ilham Daris/Doni Melody)***