Hasil Proyek Beton 2015 di Garut, Rata Rata Buruk

LELES, (GE).-  Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPKRI), menyatakan, masih banyak proyek betonisasi yang tidak memenuhi standar. Dalam rekomendasinya, hal ini tidak bisa terus dibiarkan.

Bupati Garut Rudy Gunawan membenarkan  adanya rekomendasi yang dikeluarkan BPK tersebut.  Oleh karenanya pihaknya dengan cepat langsung mengambil sejumlah langkah, untuk mencegah terulangnya hal serupa sehingga ke depannya kualitas proyek yang ada di Garut benar-benar layak dan bisa dipertanggung jawabkan.

“Masih ada sejumlah proyek yang tidak memenuhi standar berdasarkan rekomendasi BPK. Makanya, meski bisa dikatakan lulus, akan tetapi nilai Kabupaten Garut ini masih rendah sehingga masih harus ditingkatkan kualitasnya,” kata Rudy saat ditemui seusai melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke tiga perusahaan pembuatan beton ready mix, Rabu (15/6/2016).

Rudy mengatakan, jika diibaratkan angka, saat ini nilai yang diberikan BPK untuk Garut terkait hasil audit mutu proyek hanya mencapai 6. Sedangkan dirinya menginginkan nilai yang jauh lebih bagus dari 6, paling tidak 8.

Karena itu, tutur Rudy, pihaknya langsung menggelar sidak ke tiga perusahaan pembuatan beton ready mix yang ada di Garut, tak lama setelah menerima rekomendasi BPK. Ketiga perusahaan pembuatan beton ready mix tersebut adalah PT Mandala di Jalan Sudirman Kecamatan Garut Kota, PT Eka Beton di kawasan jalan Bandung-Garut tepatnya di Kampung pasirbajing Desa Sukaraja Kecamatan banyuresmi, serta PT Fauzan Putra Perkasa yang berlokasi di Jalan Leles-Leuwigoong, Kecamatan Leles.

Dari hasil sidak yang dilakukan terhadap tiga perusahaan pembuatan beton tersebut, hanya satu perusahaan yang dinilai telah memenuhi ketentuan yaitu PT Fauzan Putra Perkasa di Leles. Perusahaan tersebut telah menggunakan bahan-bahan sesuai dengan yang direkomendasikan oleh BPK.

“Hari ini kami sengaja memeriksa langsung ke pabrik-pabrik pembuatan beton untuk memastikan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan beton sudah sesuai dengan yang direkomendasikan oleh BPK. Ternyata, dari tiga pabrik yang ada, hanya satu perusahaan yang menurut kami telah memenuhi ketentuan yaitu PT Fauzan Putra Perkasa di Leles karena menggunakan pasir galunggung dan lagadar serta bersertifikat,” kata Rudy.

Dijelaskannya, K250 itu harus row materialnya seperti yang terkandung dalam pasir dari Galunggung dan batunya dari Lagadar Bandung. Sedangkan yang selama ini digunakan di Garut kebanyakan pasir dan batunya dari lokal yaitu Gunung Guntur yang menurut BPK tidak memenhi standar.

Dalam kesempatan tersebut Rudy juga mengakui kalau kualitas proyek yang dibiayai pemerintah tahun 2015 di Garut, khususnya proyek-proyek fisik sangat mengkhawatirkan. Bangunannya saja banyak yang tidak sesuai bestek. Namun demikian berdasarkan hasil pemeriksaan BPK, hingga saat ini dianggap tidak ada masalah

“Hasil pemeriksaan BPK memang tidak ada temuan akan tetapi saya tetap merasa tidak puas karena kualitas proyek masih banyak yang tidak sesuai bestek. Dan saya tidak mengingingkan hal seperti itu kembali terulang di tahun 2016 ini,” kata Rudy. (Slamet Timur). ***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI

Komentar

BAGIKAN