Hari Ini Polres Garut Akan Bongkar Makam Ahmad untuk Pastikan Penyebab Kematiannya

BAYONGBONG, (GE).- Menindaklanjuti laporan adanya dugaan penganiayaan yang menyebabkan seorang tahanan Polsek Bayongbong bernama Ahmad Wijaya meninggal, hari ini, Rabu (27/04/2016) pihak Polres Garut akan membongkar makam Ahmad Wujaya, untuk kemudian dilakukan autopsi untuk memastikan penyebab kematiannya.

“Kita terus tindaklanjuti laporan tersebut dengan melakukan penyelidikan intensif. Kita akan lakukan pembongkaran makam korban untuk keperluan autopsi terhadap jenazah korban,” ujar Arif, di hadapan beberapa awak media, Selasa (26/4/2016).

Ditegaskannya, autopsi terhadap jenazah korban harus dilakukan untuk dapat menemukan tanda-tanda kekerasan. Pihaknya juga tengah menelusuri apakah Ahmad dalam kondisi sakit saat berada di tahanan atau sebelum di tahanan.

“Kita juga akan selidiki apakah dia meninggal saat berada di dalam tahanan atau di tempat lain. Laporan yang kami terima dari pihak Polsek Bayongbong, dia meninggal saat berada di puskesmas,” yukasnya.

Kapolres Garut menegaskan, pihaknya telah memeriksa sedikitnya tujuh orang saksi dalam kasus ini. Selain pihak keluarga korban dan pihak warga yang diduga melakukan penganiayaan, kepala desa dan sejumlah petugas Polsek Bayongbong juga telah dimintai keterangannya.

“Siapapun yang ada kaitannya dengan kasus ini pasti kita periksa. Termasuk Kapolsek (Bayongbong) yang juga telah kita periksa beberapa hari lalu. Kita akan terus proses kasus ini hingga nantinya bisa terungkap apa sebenarnya yang telah terjadi,” beber Kapolres.

Arif mengakui, hingga saat ini pihaknya belum menetapkan tersangka dalam kasus ini. Hasil autopsi diharapkan bisa memberikan petunjuk guna pengembangan penyelidikan dan penyidikan.

Sebagaimana diketahui, Ahmad Wijaya (18), warga Kampung Cigedug Kaler, Desa Sukahurip, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut Jawa Barat meninggal ketika dalam status tahanan Polsek Bayongbong.

Pihak keluarga melihat ada yang janggal dengan kematian Ahmad karena diduga telah terjadi penganiayaan yang dilakukan keluarga HY, salah seorang tetangga mereka. Hal ini berawal dari tudingan pihak keluarga HY yang menuding Ahmad telah mencuri CDI sepeda motor.

Berdasarkan keterangan pihak keluarga Ahmad, HY sempat menjemput Ahmad dari rumahnya dan kemudian dibawa ke rumah salah seorang warga bernama Ema atau Firman. Di rumah tersebut, HY melakukan penganiayaan terhadap korban sebelum akhirnya korban dikembalikan ke rumahnya pada malam harinya.

Keesokan harinya, HY kembali menjemput Ahmad dari rumahnya dan membawanya ke Polsek Bayongbong. Sejak saat itu Ahmad pun ditahan di sel tahanan Polsek Bayongbong selama beberapa hari. Sementara itu pihak keluarga mengaku tidak pernah menerima surat pemeberitahuan penahanan dari Polsek Bayongbong.

Hingga beberapa hari kemudian, pihak keluarga mendapat kabar kalau Ahmad sudah meninggal dan jenazahnya sudah berada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Garut. Karena saat itu pihak keluarga ingin fokus mengurusi pemakaman dan tahlilan Ahmad, maka pihak keluarga pun memilih untuk tidak mengambil langkah apapun.

Namun setelah tujuh hari dari kematian Ahmad, pihak keluarga melaporkan dugaan adanya penganiayaan yang menimpa Ahmad ke pihak Polres Garut. Dalam laporannya, pihak keluarga mengaku yakin Ahmad meninggal akibat penganiayaan yang dilakukan pihak keluarga HY, tempat Ahmad bekerja. Selain itu, pihak keluarga juga mempertanyakan prosedur penahanan Ahmad yang dilakukan pihak Polsek Bayongbong yang dianggap tidak sesuai.

Melalui Kuasa Hukumnya dari LBH Garut, pihak keluarga Ahmad Wijaya meminta kasus ini diusut tuntas sehingga bisa diketahui apa penyebab kematian Ahmad dan siapa yang harus mempertanggungjawabkannya.

Kuasa Hukum pihak keluarga Ahmad, Risman dan Sony, mengapresiasi upaya Polres Garut yang menindaklanjuti laporan dengan melakukan serangkaian penyelidikan termasuk autopsi jenazah korban. Mereka berharap hasil autopsi nanti bisa menunjukan bukti adanya pelanggraan kekerasan pisik terhadap korban sehingga menyebabkannya meninggal.

Menurut Risman, pihaknya juga masih menelusuri apakah korban meninggal di puskesmas sebagaimana keterangan pihak Polsek Bayongbong atau di dalam tahanan. Dia menilai Polsek Bayongbong juga telah menyalahi aturan karena tidak memenuhi prosedur saat melakukan penahanan, di antaranya tidak adanya surat pemberitahuan penahanan terhadap keluarga Ahmad.
Atas hal itu, pihak Kuasa Hukum keluarga korban akan mempra peradilankan Polsek Bayongbong atas kesalahan yang telah dilakukannya.

“Tidak hanya pra peradilan, kita juga akan melaporkan hal ini kepada Komnas HAM. Kita melihat ada pelanggaran HAM yang telah dilakukan baik oleh pihak keluarga HY maupun pihak Polsek Bayongbong,” ucap Sony. (Tim GE)***