Hari Ini, Kuasa Hukum Warjita Layangkan Somasi ke Disbudpar

KOTA, (GE).- Sejak berita pembajakan tiga judul buku karangan Drs. Warjita yang dibajak oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Garut, sampai saat ini belum ada kata Islah. Malahan seakan tak berdosa, pihak Disbudpar hanya melontarkan pembelaan yang seakan menutupi kebobrokannya.

Melihat gelagat dari Disparbud seperti itu, Warjita tak hanya tinggal diam. Kini dirinya menggandeng seorang pengacara untuk menyelesaikan permasalahan ini. Melalui pengacaranya, Warjita akan melayangkan somasi tepatnya hari ini, Rabu (13/1/2015). Kuasa hukum Warjita, Syam Yousef, SH, memberi waktu kepada pihak Disbudpar agar segera menyelesaikan permasalahan ini dengan cara duduk bersama sebelum permasalahan ini dibawa ke ranah hukum.

“Pelanggaran hak cipta ini merupakan delik aduan. Jadi sebelum kami memproses secara hukum lebih baik diselesaikan dengan duduk bersama,” ujar Syam, saat jumpa Pers di Kantor PWI Garut, Rabu (13/1/2015).

Sebagai keseriusan dirinya sebagai kuasa hukum Warjita, hari ini rencananya akan dilayangkan somasi ke Disparbud. Ia memberikan tenggat waktu kepada Disparbud agar segera menyelesaikan permasalahan ini selambat-lambatnya satu minggu sejak dirinya melayangkan somasi. Jika somasi tidak digubris tentinya langkah hukum akan segera ditempuhnya.

Diberitakan sebelimnya, sedikitnya tiga judul buku mengenai kebudayaan Kabupaten Garut, karya Drs. Warjita yang dicetak pada tahun 2007, dikabarkan telah “dibajak” pihak yang tidak bertanggung jawab.

Ke 3 judul buku karya Warjita ini diantaranya, Ensiklopedi Kebudayaan Garut, Dongeng Dongeng Pakidulan Garut serta Dokumentasi Bangunan Warisan Budaya Kabupaten Garut.

Dugaan “pembajakan” tiga judul buku ini diakui oleh Warjita pihak Disbudpar Garut telah memperbanyak ke 3 judul buku itu, tanpa sepengetahuan dirinya.

Warjita yang saat ini merupakan pegawai di Dinas Pemuda dan Olahraga (DISPORA) Kabupaten Garut, mengaku kaget setelah mengetahui bahwa 3 judul buku hasil karyanya itu telah dicetak ulang dan diperbanyak. Namun sampai saat ini Warjita mengaku tidak tahu persis berapa jumlah eksemplar buku yang di perbanyak itu. Tetapi, dirinya sudah tahu, bahwa yang sudah dianggap melanggar hak cipta dirinya, ialah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Garut.

Ia menambahkan, ini semua bukan hanya tentang pelanggaran hukum saja. Tapi etika dan kehormatan seorang penulispun serasa tak dihargai.

Sementara itu, Kepala Seksi Nilai Tradisional Disbudpar Garut, Wawan somarwan, secara gamblang mengakui jika pada tahun 2014, telah memperbanyak tiga judul buku karya Warjita ini. Ia berlasan, memperbanyak buku- buku ini karena banyaknya permintaan dari berbagai pihak.

“Kita (Disbudpar/red) memperbanyaknya karena memang bayak permintaan beberpa pihak. Memang selama ini belum pernah meminta izin kepada yang bersangkutan (Wartjita).” Tukasnya.

Menanggapi tudingan tentang pelanggaran hak cipta, Wawan menuturkan, semua itu akan diselesaikan dengan cara mediasi dengan Warjita, karena di Disbudpar sendiri sudah membahasnya secara bersama.

Wawan tidak mengatakan kapan mediasi yang dijanjikannya itu akan dilakukan, dan jumlah eksemplar buku yang diperbanyakpun tidak menyebutkannya. (Farhan SN)***