Harapan Baru Menuju Keemasan Garut

Oleh: Drs. Warjita

GARUT BERMARTABAT, NYAMAN dan SEJAHTERA. Visi logis, sederhana tidak bermuluk-muluk namun memiliki makna jauh ke dalam dari pasangan Bupati/Wakil Bupati Garut, periode 2013-2018. Untuk mencapai visi dimaksud sudah pasti diperlukan misi-misi yang tepat, akurat, komprehensip dan akomodatif. Visi itu pun akan tercapai, terwujud, jika semua pihak terkait, para stake holder (sebagai pembantu bupati) memiliki kesungguhan dalam melaksanakan misi-misi tersebut. Misi itu penting karena sebagai media atau sarana untuk mencapai tujuan tertentu (visi).

Dua tahun terlewati pasangan H. Rudy-Helmy ‘menakhodai’ Garut dan beberapa sektor penting telah mereka lakukan dalam membangun kabupaten yang memiliki jumlah wilayah administratif kecamatan paling banyak di Propinsi Jawa Barat ini. Harapan baru menuju Garut Berjaya, kini, memang tertumpu pada Dwi-Tunggal : H. Rudy dan dr. Helmy. Pasangan Bupati dan wakil Bupati tersebut sangat diharapkan masyarakat untuk bisa mendongkrak keterpurukan Garut. Sesuai dengan Visinya menjadikan Garut yang bermartabat, nyaman dan sejahtera, bisa jadi Rudy-Helmy jauh-jauh hari telah melihat dengan ‘mata’ sendiri tentang Garut yang seperti ‘tak berwibawa’ selama dasa-warsa, mulai dari sistem pemerintahan yang ambigu, birokratisasi yang kurang kapabel, berimplikasi pada pembangunan yang kurang optimal.

Mereka juga menyaksikan, dengan kondisi demikian, bagaimana Garut di mata masyarakat. Jika dianalogkan secara sederhana, misalnya kepada seseorang pegawai bermartabat tentu rasa nyaman akan dimiliki ketika ia bekerja atau beraktifitas, tidak merasa segan atau terganggu oleh siapa dan apa pun. Seorang pangreh-praja (pegawai negeri) akan enjoy dalam bekerja karena pada dirinya tidak ada potensi untuk memunculkan “kerikil-kerikil” permasalahan di mana dan dalam kondisi apa pun dirinya. Lalu, bagaimana agar bisa bermartabat ? Hal itu sudah tentu kembali pada diri masing-masing, sejauh mana kita bisa menghargai diri sendiri. Logikanya jika kita bisa menghargai diri sendiri pasti orang lain pun akan menghargai dan menghormati. Dengan demikian, tentu saja harga diri dan martabat kita pun tanpa kita sadari akan muncul. Kemudian, dengan sendirinya rasa nyaman kita dalam bekerja akan terwujud. Akhirnya, jika kenyamanan itu tercapai maka kesejahteraan pun dapat diraih. Sementara persepsi kesejahteraan pun tidaklah diukur oleh melimpah-ruah materi yang dimiliki semata (lahiriyah), namun yang terpenting mendapatkan kesejahteraan bathin.

Bisa jadi H. Rudy- dr. Helmy pun berkeinginan mengembalikan keemasan Garut di masa lalu, saat Garut menyandang julukan : Garut Kota Intan dan Garut Geulis dari Presiden Soekarno tahun 1960-an di masa Bupati R. Gahara Wijayasuria. Indikasinya, beberapa hari setelah pelantikan dirinya sebagai bupati awal tahun 2014, Kota Garut tampak berubah kontras bebas dari sampah. Mulai Kota Garut tak kelihatan “sareukseuk ku patulayah” sampah.

Lalu tahun berikutnya (2015) penataan dan pembenahan Pedagang Kaki Lima (PKL) pun dilakukan. Para PKL dari sepanjang jalan A. Yani dan sekitar Pengkolan direlokasi dan dikonsentrasikan di dua tempat jalan Guntur. Nampaklah keasrian dan keindahan di sepanjang jalan A. Yani, mulai alun-alun sampai Asia Supermarket juga sekitar Pengkolan karena steril dari PKL. Semoga kondisi kondusif ini masih bisa dipertahankan. Selanjutnya tekad Rudy-Helmy menjadikan Garut yang menakjubkan (Amazing Garut) adalah hal luar biasa yang perlu kita dukung sepenuhnya demi kemajuan Garut. Hal tersebut rupanya bisa dijadikan parameter indikator ke arah itu manakala di tahun 2016 ini mereka mampu ‘mitembeyan ngabaladah’ sebuah mega-proyek, monumental, stadion/Sarana Olahraga atau GOR Ciateul – Tarogong Kidul yang konon menghabiskan puluhan milyar, di mana pembangunan GOR ini belum terwujud sejak 5 (lima) bupati sebelumnya. Rencana peletakan batu pertama pembangunan GOR Ciateul ini akan dilaksanakan pada tanggal 16 Februari 2016 usai Upacara Peringatan Hari jadi Garut ke-203.

Mengenai sosok bupati Garut R. Gahara Wijayasuria kiranya patut kita teladani. Bagaimana ketika ia di pagi hari sebelum jam kerja berspeda sendirian mengelilingi Kota Garut sekadar melihat-lihat kebersihan Kota. Kemudian di sepanjang jalan setiap ia berjumpa dengan warga masyarakat dengan santun menyapa dan menanyakan keadaan keluarganya. Tidak dipungkiri, memang, konon Raden Gahara Wijayasuria memiliki pribadi yang ber-akhlakulkharimah, berbudi pekerti baik sehingga dalam menjalankan roda pemerintahan berhasil dengan baik pula. Itu kondisi masa lalu tetapi setidaknya bisa dijadikan ibroh dalam prilaku kita pada konteks kekinian. Di sini kerinduan muncul dari seorang H. Rudy Gunawan, bagaimana Garut di masa-masa lalu terkenal di seantero nusantara karena meraih predikat kota terbersih se-Indonesia. Bisa jadi yang dimaksud Kebersihan Garut dalam arti luas karena tidak dimaknai secara denotatif dalam pengertian fisik, namun diartikan pula bersih dalam pemerintahan (clear/good governance), birokrasi (tidak banyak korup) dsb.

Untuk menuju ke arah itu, memang tidak semudah membalikkan kedua belah telapak tangan karena mesti diperlukan upaya atau langkah-langkah tepat dan kredibel.

Sekadar gambaran, leluhur Sunda 5 (lima) abad lalu telah mengamanatkan pada kita bagaimana agar kesejahteraan dalam kehidupan bernegara tercapai, seperti apa yang ditulis pada naskah Sunda kuno: Sanghyang Siksa Kandang Karesian. Naskah ini ditulis pada tahun 1518 M masa Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) menjadi ‘narpati’ (raja) di Pajajaran. Demikian :

“………..Ini ujar Sang sadu basana mahayu drebyana. Ini tri-tangtu di bumi. Bayu kita pinahka Prebu, sabda kita pinahka Rama, hedap kita pinahka Resi. Ya sinangguh tri-tangtu di bumi, ya kangken pineguh ning bwana ngaranna………………….. “Teguhkeun pageuhkeun sahingga ning tuhu, pepet bijakta wara manah. Mana kreta na bwana, mana hayu ikang jagat, kena twah ning janna ka pahayu”

Terjemahan :…Ini ujar Sang budiman waktu menyentosakan pribadinya. Inilah tiga ketentuan di dunia. Kesentosaan kita ibarat Raja (pemimpin-pen), ucap kita ibarat Rama (kaum cendikia/intelektual-pen), budi kita ibarat Resi (ulama/agamawan-pen). Itulah tri-tangtu di dunia, yang disebut peneguh dunia……………. Kukuhkan, kuatkan batas-batas kebenaran penuh kenyataan sikap baik dalam jiwa. Maka menjadi sentosa dunia, maka sejahtera kehidupan ini karena perbuatan manusia yang serba baik (Saleh Danasasmita, dkk., 1987: 115).

Dalam hal ini perlu paradigma baru di dalam pembenahan birokrasi dengan langkah-langkah tepat yang mesti dilakukan. Ada beberapa hal yang tidak boleh luput dari kerangka pembenahan dimaksud, yakni :
Pertama, Menempatkan pegawai secara proporsional dan profesional.
Tempatkan seorang pegawai secara kepatutan dan kelayakan sesuai keahlian pada bidangnya. Adanya fit and profer test atau assesment bagi para pegawai yang hendak promosi jabatan adalah salah satu langkah tepat namun harus benar-benar, real deal, dalam implementasinya. Dalam hal ini, ada baiknya saya kemukakan pitutur leluhur Sunda yang ditulis dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian tadi. Demikian bunyinya :
“…….Kitu teh urang janna ini. Lamun dek nyaho di pulun sukan lawan enak ma ingetkeun
saur Sang Darma pitutur. Ini silokana:
Tadaga carita hangsa,
Matsayem carita sagarem,
Gajendra carita banem,
Puspanem carita bangbarem….” (Saleh Dana Sasmita, dkk. 1987: 82-83).

(Terjemahan: Demikianlah kita manusia ini. Bila ingin tahu sumber kesenangan dan kenikmatan (kebahagiaan – pen.), ingat-ingatlah kata Sang Darma Pitutur. Ini selokanya:
Telaga dikisahkan angsa,
Ikan mengisahkan laut,
Gajah mengisahkan hutan,
Bunga dikisahkan kumbang (Saleh Dana Sasmita, dkk. 1987: 106 – 107).
“Bila kita ingin tahu tentang taman yang indah, telaga berair sejuk, tanyalah Angsa. Bila ingin tahu isi laut tanyalah Ikan. Bila ingin tahu tentang isi hutan tanyalah Gajah. Bila ingin tahu harum dan manisnya bunga tanyalah Kumbang”. Maksud ‘siloka’ di atas adalah jika kita hendak bertindak janganlah salah mencari tempat bertanya. Hal ini bisa diartikan pula, jika kita memberikan pekerjaan/jabatan pada seseorang, tempatkanlah pada bidang sesuai dengan keahliannya. Hindari kebiasaan jelek menempatkan seorang pegawai didasari “like and dislike” tanpa memperhatikan kapasitas dan kemampuan, serta kepatutan dan kelayakan. Juga patut wanti-wanti atau diwaspadai terhadap mentalitas pegawai ‘ABS’ (asal bapa senang), bisa jadi hanya akan mencelakakan.
Kedua. Tingkatkan Perbaikan Penghasilan Pegawai.

Ini sangat penting, namun saya tidak akan lebih jauh menjelaskan hal tersebut, karena semua orang memahami bahwa perbaikan penghasilan pegawai akan berdampak pada kesejahteraan pegawai itu sendiri. Logikanya sederhana, jika kesejahteraan pegawai tercapai maka akan berimplikasi positif pada kinerja pekerjaannya. Kenyataan yang dialami saat sebelum Garut di bawah kepemimpinan H. Rudy – dr. Helmy jika dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain (kabupaten tetangga, misalnya: Bandung, Tasikmalaya dan Ciamis) Tunjangan Perbaikan Penghasilan (TPP) para pegawai di lingkungan Pemkab Garut ada indikasi terbawah. Namun sekarang, syukur Alhamdulillah, H. Rudy-dr.Helmy benar-benar memperhatikan hal itu sehingga para PNS di lingkungan Pemkab Garut sejak tahun 2015 merasakan perbaikan penghasilan ini walau dirasakan belum signifikan. Akan tetapi dapat memaklumi karena segalanya berpulang pada kemampuan PAD itu sendiri.

Ketiga, Penegakkan hukum (punishment) dan penghargaan (reward) yang berkeadilan.
Tegakkan Pemberlakuan hukum tanpa pandang bulu. Seluruh pegawai di sector mana pun bekerja mesti tersentuh hukum bila ia nyata-nyata telah melanggar. Dalam hal ini, Peraturan Pemerintah (PP) No 53 th 2010 tentang disiplin PNS adalah norma hukum yang menjadi pijakan aturan semua pegawai, terutama pasal 3 dan 4 tentang Kewajiban dan Larangan bagi para PNS. Apakah PP tersebut sudah benar-benar diimplementasikan secara konsekuen merata dan berkeadilan? Jika dianalogkan, pasal 3 dan 4 itu ibarat dua mata pisau tajam yang menjadi aturan hukum bagi semua PNS tanpa terkecuali. Permasalahannya, apakah ketajaman dua mata pisau itu telah benar-benar digunakan terhadap para PNS yang nyata-nyata telah melakukan kelalaian Kewajiban (pasal 3), dan/atau melanggar Larangan (pasal 4)? Hal ini penting untuk dimunculkan karena disinyalir penegakan hukum tersebut belum maksimal secara merata di seluruh lini sector mengingat masih ada yang luput dari aturan itu pada beberapa pegawai yang dianggap indisipliner. Misalnya, ada diantara beberapa orang pegawai di salah satu instansi tertentu ketika ramai kampanye cabup/cawabup pada pilkada atau pilcaleg beberapa tahun lalu, baik langsung atau pun tidak langsung, ikut terlibat mensukseskan salah satu kandidat; juga tidak mustahil ada diantara para pejabat yang melakukan gratifikasi; atau ada beberapa pegawai yang hampir satu tahun tak masuk kerja termasuk beberapa guru misalnya yang sering mangkir, tidak masuk kelas sampai berbulan-bulan, namun sampai sekarang diantaranya luput dari tindakan hukum apa pun. Dalam hal ini, Permen tersebut masih tumpul pada beberapa kasus, atau implementasinya sebatas ‘lip service’, atau juga bisa jadi masih menganut sistem “tebang pilih”. Wallahu’alam bissowab…!!!

Maksimalkan pemberian penghargaan (reward) yang layak kepada seorang pegawai sesuai kapasitas prestasi yang telah ia lakukan dalam pekerjaannya karena hal tersebut akan memicu spirit positif kinerja pada pegawai lainnya. Selain itu, saya kira dari sekian PNS di Kabupaten Garut mungkin saja ada yang bersumbangsih terhadap pembangunan sekali pun hanya sekadar sebuah pemikiran, atau buah hasil karya yang nyata-nyata demi membangun Garut seutuhnya.

Tiga langkah sederhana tersebut di atas, barangkali, sedikitnya bisa membantu/mendukung ke arah perbaikan jalannya roda pemerintahan dan pembangunan di Kabupaten Garut dewasa ini dan selanjutnya.

Pamungkas
Semua yang dikemukakan di atas sekadar tip sederhana dari seorang awam, secara empiris, seperti apa yang telah terjadi selama ini dalam pemerintahan di Kabupaten Garut. Bertolak dari hal tersebut, nampaknya kini dan ke depan ada harapan baru untuk ke arah perbaikan Kabupaten Garut. Permasalahannya sejauh mana beliau dan para pembantunya mampu melaksanakan dengan kesungguhan hati, lillahita’ala, demi madrotillah semata. Saya kira di usia Garut yang menginjak 2 (dua) abad lebih tiga tahun dengan kepemimpinan bupati yang ke-26 ini tidak mustahil Garut bisa bangkit mengembalikan keemasannya, seperti masa-masa sebelumnya. Suatu keniscayaan ketika terjadi pasang-surut kesuksesan dalam perkembangan roda pemerintahan adalah sebuah dinamika yang tidak bisa terhindarkan, karena semua kembali pada mentalitas pemimpin daerah dan para pembantunya itu sendiri.

Saatnya, kita sebagai warga masyarakat Garut tetap berkhusnudzon dan mendukung sepenuhnya kepemimpinan bupati dan wakil bupati Garut sekarang, H. RUDY GUNAWAN, SH, MH dan dr. HELMY BUDIMAN sebagai putra terbaik Garut pilihan masyarakat, menjadi Dwi-Tunggal yang seiring, sejalan, seia – sekata diantara keduanya, lalu dengan para pembantunya (parabirokrat) juga dengan masyarakat, dan diharapkan sekali bisa mengangkat Garut menjadi sebuah kabupaten yang benar-benar BERMARTABAT, NYAMAN dan SEJAHTERA. Semoga!
Dirgahayu Garut Ke-203 (16 Pebruari 1813 – 16 Pebruari 2016)

Penulis: Pemerhati Sejarah dan Budaya Garut, tinggal di Garut