Halaman yang Hilang (5-Tamat)

Anne A. Permatasari.***

Halaman yang Hilang (5-Tamat)

oleh : Anne A. Permatasari


“KAU tahu, Ami?” tanyanya pada suatu sore. Dua cangkir teh hijau panas menemani obrolan di teras rumahku.

Aku menatapnya.

“Aku telah berkali-kali… oh tidak! ribuan kali memikirkan makna kata cinta. Dalam setiap kamus dan ensiklopedi dari seluruh makna dan turunan kata itu, sayang sekali, tak kutemukan makna yang negatif dari kata itu. Aku temukan beberapa turunan dari kata itu: love, belove, lovely, lovelier, loveliest, loveliness, lover, lovelorn, hingga lovebirds.”

Tak terasa, senyum terbit di ujung bibirku. Sam, lelaki itu memikatku dengan banyak kata bersayap yang sering dia sisipkan pada tiap percakapan kami.

“Sampai suatu ketika, tiba-tiba mataku sampai di satu entri. Aku baca sebuah entri yang berbunyi “loveless“. Aku baca berulang-ulang untuk meyakinkan diriku sendiri. Inilah turunan dari kata “cinta” yang memiliki makna “tidak berkasih sayang, tidak mencintai.”

“Apa maksudmu, Sam?” Tiba-tiba ngeri menyergap.
“Tahukah kau, Ami? Diam-diam, aku menyadari bahwa itulah ujung percakapan kita. Aku harus membulatkan hati untuk menanam dan menumbuhkan kata itu di taman hatiku. Harus kubunuh semua kata cinta dan segenap turunan katanya yang menyelisihi kata terakhir itu.”

Percakapan itu menggantungkan sebuah kengerian.

“Maksudmu?”
“Akhirnya, aku harus mengambil keputusan, Ami.”
“Kau akan kembali padanya?” Aku menekan pedih yang mencabik hati.
“Jika aku tak bisa memiliki hatimu juga, aku  sepertinya tak mau mencoba mengenal hati yang lain, ah. Capek. Usiaku mungkin tak seberapa jauh lagi. Prita tahu kelemahan itu. Dialah yang membuatku berpikir untuk kembali kepada ibunya. Mungkin, ini waktunya aku… eh, kami memperbaiki diri.”

Aku terdiam, kaget dengan arah percakapan hari ini.

“Dalam sebuah hubungan, akhirnya, aku sadari bahwa kesalahan tidak dibentuk oleh satu pihak,” lanjutnya.

Tiba-tiba duniaku meruntuh. Perlahan, aku kehilangan sebuah mimpi yang kubangun dalam angan yang tinggi, dalam harap pada seorang lelaki bernama Sam, lelaki yang memberiku sebuah arti. Lelaki yang dengan keegoanku akhirnya melaju dari hidupku. Lelaki yang sejenak mampu mengalihkan kesepian hati dan melupakan dia yang jauh di daerah berantah mana. Lelaki yang jelas tak kan pernah bisa menjadi pilihanku.

“Sam, aku ….”
“Cukup, Ami! Jangan kau teruskan. Akan lebih sulit bagiku melanjutkan hidup jika aku tahu perasaanmu sekarang. Jika aku tahu kau hancur tapi kau tak memberiku kesempatan untuk mengobati. Kau tak bisa kumiliki Ami! Kenyataan itulah yang membuatku harus berani meninggalkan kita!”
“Sam….”
“Hentikan Ami! Jangan katakan bahwa kita telah jatuh cinta!”

Luka itu menyakitkan memang. Tapi itu hanya akan terasa sekali. Lalu aku tinggal mengobatinya, meski entah butuh berapa lama sampai pulih. Setidaknya kini, aku tahu yang harus kulewati, bukan menikmati sendiri duri yang kusimpan dalam hati.

“Sam, aku….”
“Kau jatuh cinta ya Ami? Aku sudah merasakannya jauh sebelum kau sadari itu. Tapi kau masih belum mau beranjak dari masa lalumu. Itu menyakitkan buatmu. Buatku terlebih lagi. Aku butuh kepastian, Ami! Aku butuh penyembuhan juga. Kita membiarkan perasaan kita terombang-ambing tak menentu. Kita bukan remaja lagi, Ami. Aku menderita. Kau egois. Bahkan untuk sekedar mengakui bahwa kau pun jatuh cinta, tak mau kau lakukan.”
“Sam…aku tak tahu, kalau itu adalah cinta! Yang aku tahu, aku harus teguh dan setia,” ujarku pada akhirnya, hanya itu yang mampu kusampaikan.
“Kau tahu sebenarnya, Ami. Tapi kau tak memiliki keberanian itu.”

Aku diam. Tak lagi berani kutatap matanya. Tapi dia menantangnya dengan berani.Tak terasa lagi desiran di dalamnya. Cinta telah berlalu darinya. Aku rasakan itu, kini.

“Ami, jatuh cinta adalah perbuatan hati. Bahkan jika tidak dieksekusi dalam wujud perilaku, itu bukanlah  apa-apa. Biarlah perasaan itu tersimpan pada maqamnya sendiri. Setiap saat, kita bisa memandangnya dari jauh. Bagiku dan mu, itu pun sudah cukup. Biarlah ia di sana. Tak setiap episode menjadi pemilik penulisnya. Tak setiap kisah berakhir dengan harapan si pembaca. Setiap cerita memiliki logika yang berbeda.”

Pada bagian itu, aku setuju itu tanpa perlawanan lagi. Aku terdiam seribu bahasa.

“Bangunlah Ami, teruskan hidupmu. Jangan membuatku khawatir!”
“Apa yang kau khawatirkan tentang aku?”
“Jika cinta tak lagi memiliki arti buatmu, itu yang kukhawatirkan. Jika kau membutakan hati pada setiap getaran yang dialirkan oleh sesuatu yang bernama cinta.”

Aku tak berdaya menyanggupinya. Aku telah kehilangan kesempatan dengannya. Tak ada yang dapat kulakukan lagi kini. Selain mengabadikannya pada sebuah halaman,  lalu menyobeknya, dan hilang.

Jika aku harus kembali pada penantianku kepada dia di negeri berantah mana, setidaknya halaman itu telah musnah. Aku tak kan menyesalinya. Halaman hilang itu akan menjadi sebuah penanda, betapa beratnya ujian pada sebuah penantian. (Selesai, 010417)**

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI