Halaman yang Hilang (1)

Anne A. Permatasari

Pengantar Redaksi :

Ass. Wr. Wb.

Pembaca garut-express.com yang budiman. Untuk memenuhi harapan Anda yang mencintai dunia cerita pendek dan atau cerita bersambung. Kami coba hidangkan cerita bersambung salah satu karya Anne A. Permatasari. Mohon komentar dan masukan dari Anda sekalian agar ke depan kami bisa memberikan pelayanan lebih baik lagi. Terima kasih dan selamat membaca.*** (Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi, Sony MS)


Oleh : Anne A. Permatasari

“Entahlah, sepertinya, sulit untuk  diperbaiki lagi,” ujarnya.

“Maaf. Saya tidak bermaksud mengatakan itu!” Aku melihat pasien keluar dari ruang pemeriksaan. “Eh … udah gilirannya tuh!”

“Tak apa. Inikan semacam simpulan akhir. He… he….  Terima kasih, senang bisa berjumpa . Semoga suatu hari, kita bisa bertemu lagi,” ujarnya sambil berdiri. Tangannya yang kokoh menggenggam erat jemariku, hangat.

Pasien terakhir hari ini yang kucatat dalam daptar pembeli obat itu, lalu meninggalkanku di meja resepsionis dokternya. Sambil melangkah masuk ke ruang pemeriksaan, sebelah tangannya memeluk pundak seorang gadis belasan tahun.

Sedikit aku terpana pada kehangatan sikapnya. Pada percakapan panjang lebih dari dua jam. Percakapan antara dua manusia yang baru bertemu, mengalir dengan lancar sepanjang antrean dokter sore itu.

*****

“Sepertinya… kita pernah bertemu ya?” tanyanya mengejutkan ketika dia dengan mantap mendekati tempat dudukku. Sebenarnya, aku sudah melihatnya dari tadi. Setelah terlebih dahulu mengisi Laporan SPPT-ku, aku duduk menunggu panggilan.

Dia datang dengan kaos putih dan celana jeansnya. Sepatu kets yang dikenakannya senada dengan tas sandang kecilnya. Begitu masuk ruangan, ia melepas kacamata hitam dan topi, mengambil antrean, dan mengisi beberapa berkas.

Ada kekuatan aneh yang menggerakkan mataku ke arahnya. Sekilas saja, aku merasa ada debar menghantam jantungku. Orang baru yang kukenal sekitar sebulan lalu di ruang tunggu dokter itu, adalah orang yang baru kutemui dalam dua puluh delapan tahun usiaku. Aku sungguh tak pernah bertemu sebelumnya.

“Ah…ya. Kita pernah bertemu di ruang tunggu dokter Ertina,” ujarku mengiyakan sambil menyambut uluran tangannya.

“Dan sekarang di sini,” sambutnya, “oh ya, Sam, itu namaku. Aku berjanji akan mengatakannya pada pertemuan kedua, kalau kita bertemu lagi. Dan… ternyata, kita bertemu. Senang sekali rasanya!” lanjutnya dengan hangat. Hangat sekali.

“Ah, ya… ya… aku juga senang.”

“Apa kabar?”

“Baik, dan putri Bapak?”

“Ha…ha… Bapak. Panggil aku, Sam atau setidaknya dengan panggilan yang tak resmi begitu!”

“Ya… tapi apa ya? Abang? Mas? Kakak?”

“Kakak. Cukup simpel agaknya!”

“Baiklah. Panggil aku, Ami, saja!”

Siang hari itu, aku memiliki seorang teman baru, seorang ‘kakak’ yang kutemui begitu saja.

****

Setelah pertemuan kedua itu, kami baru bertukar nomor ponsel. Hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya. Entahlah ada kekuatan yang menggerakkan hati. Membuka percakapan, mengenal orang lain lebih dekat, betul-betul tak pernah kulakukan sebelumnya.

Sikap hangatnya yang ringan mampu menawarkan kegundahan hati yang tengah melanda. Dengannya, begitu mudah aku bercerita tentang kehidupanku selama ini.

Kepindahanku ke kota kecil ini, bukanlah tanpa alasan, selain penugasan ke sebuah rumah sakit umum daerah. Setelah berkenalan dekat dengan teman sejawat, aku membina hubungan baik dengan beberapa dokter atasanku. Satu di antaranya, menawariku pekerjaan sampingan untuk membuka apotek  di kliniknya di luar jam kerjaku.

Tentu saja itu kusambut dengan gembira. Setidaknya kesibukan akan membuatku sejenak lupa pada kesepian dan kesendirian. Kesepian dan kesendirian yang bermula dari sebuah ketidakpastian. (Bersambung)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI