Haji Kewoh, Adalah Jin “Penguasa” Stasiun Cipeundeuy

STASIUN Kereta api Cipeundeuy merupakan salah satu stasion legendaris yang menyimpan berbagai kisah berbau mistik. Dalam perjalanan sejarahnya, stasion kereta api yang berlokasi di kawasan utara Garut ini, tepatnya di jantung kota Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Menurut catatan sejarah perkeretaaapian di Garut, stasion ini didirikan oleh bangsa Belanda sekira tahun 1893 an. Stasion ini bisa dibilang stasion kereta api strategis yang merupakan bagian dari Daerah Operasi II Bandung (Daop II Bandung). Hingga saat ini setiap kereta yang melintas harus berhenti beberapa saat dengan waktu yang telah ditentukan.

Para pengelola Perkerataapian percaya, apabila kereta tidak berhenti di stasion Cipeundeuyy, bisa terjadi peristiwa yang tidak diharapkan menimpa terhadap kereta tesebut. Sejak keberadaannya, masyarakat di sekitar stasion ini kerap kali menghubungkannya dengan hal-hal mistik.

Mamat(61) adalah salah seorang warga Kampung Cipeundeuy, Desa Cikarag, Kecamatan Malangbong. Ia mengisahkan terkait keberadaan stasion di ujung utara kota Garut ini, Mamat begitu detail menceritakan, karena memang ayahhandanya, Hadi (alm) merupakan pegawai di PJKA (Stasiun Cipeundeuy). Dikatakannya, memang sejak zaman penjajahan Belanda sudah diperintahkan, bahwa di Stasiun Cipeundeuy kereta api harus berhenti. Namun cerita yang sifatnya turun temurun itu tak lepas dari kisah mistik dan realita dari keberadaan dari Stasiun Cipeundeuy.

“Kenyataan pengaruh mistik begitu kental mewarnai keberadaan Stasiun Kereta Api Cipeundeuy ini,” ungkapnya.

Disepanjang jalan kereta api anatara stasiun Ciawi, Cirahayu, Cipeundey, hingga ke Stasiun Bumiwaluya kerap kali terjadi kecelakaan. Sebelumnya, pengelola stasion dan warga sepakat banyaknya terjadi kecelakaan ini harus diantisipasi dengan “meruwat” atau mengganti nama stasion di sepanjang jalan tersebut. Dalam catatan sejarah nama-nama stasion itu sempat diganti, misalnya Stasiun Malangbong menjadi Stasiun Bumi Waluya. Begitu juga stasiun Torowek diubah menjadi Stasiun Cirahayu.

Beberapa warga sekitar percaya, sepanjang rel kereta api antara stasiun Ciawi, Cirahayu, Cipeundey, hingga ke Stasiun Bumiwaluya “dikuasai” bangsa Jin berjuluk ‘Haji Kewoh.’

Akibat ulah ‘Haji Kewoh,’ sepanjang jalan rel kereta api yang menghubungkan antara stasiun tersebut, banyak peristiwa-peristiwa ganjil hingga kecelakaan yang menimpa kereta api. Pada zaman kareta api masih memakai locomotif berbahan bakar batu bara, misalnya, kerap mengalami kecelakaan aneh,seperti locomotif maupun gerbongnya anjlok, terguling,gerbong terputus, bahkan sempat terjadi Lokomotif mundur lagi ke Torowek Stasiun Cirahayu di sekitar Kampung Wage, tanpa sebab yang jelas.

“Sekitar tahun 1960-an, bahkan, ada sesepuh dari Kampung Wage bernama H.Komar yang menganjurkan, agar mengadakan ritual menyembelih kerbau bule di lokasi Kampung Wage. Seta menyelenggarakan ritual ruatan Wayang Golek dengan dalangnya Ki Uca dari Ciawi Tasik,” tutur Mamat.

Dikissahkannya, pascadigantinya lokomotif dengan mesin disel, peristiwa-peristiwa aneh pun, ternyata masih kerap terjadi. Diantaranya pada tahun 1995 ada peristiwa kecelakaan Kereta Api (KA) gabungan Galuh dan Kahuripan, waktu itu kejadian berlangsung pada tengah malam. Kertea yang baru berangkat dari Stasiun Cipeundeuy, kemudian saat melintas di jembatan Trowek terperosok ke dalam jurang yang cukup dalam.

Begitu pula di dekat stasiun tersebut, pada akhir Februari 2009 pernah terjadi longsor yang mengakibatkan perjalanan kereta api dari Bandung ke arah timur terpaksa untuk sementara dialihkan melalui Stasiun Cikampek dan Cirebon.

“Selain kisah-kisah Mitos di Stasiun Cipeundeuy tersebut.ternyata kata orang tua saya, dulu sejak dibukannya stasiun itu, Belanda telah memerintahkan, bahwa setiap kereta api diwajibkan berhenti di stasiun ini. Waktu itu bukan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, melainkan untuk pemeriksaan rem, atau penambahan lokomotif dengan lama istirahat sekitar 2 jam,” Kata Mamat.

Bahkan,imbuhnya, perintah Balanda harus berhenti tersebut, sampai saat ini masih diberlakukan. Kalau dulu hanya sebatas pemeriksaan, tapi untuk saat ini, disamping pemeriksaan, bisa menaikan dan menurunkan penumpang dengan lamanya berhenti selama 15 menit. Pasalnya, jalur setelah dan sesudah Stasiun Cipeundeuy kondisi jalannya naik-turun cukup terjal. Maka di stasiun itu, hingga saat ini baik kereta kelas eksekutif, bisnis, dan ekonomi diwajibkan berhenti.

“Seperti halnya dari stasiun Cicalengka hingga ke Stasiun Cibatu jalan kereta api itu menurun. Sedangkan perjalanan kereta api dari stasiun Cibatu hingga ke stasiun Cipeundeuy dengan membawa beban yang berat melintasi jalan yang menanjak. Otomatis di stasiun tersebut diwajibkan setiap kereta diperiksa dahulu,” ungkapnya.

Masih menurut Mamat, dari Ciawi Tasik menuju setasiun Cipeundeuy harus diperiksa, soalnya lokomotif kereta api itu membawa beban berat yang akan melintas jalan menanjak, lalu meluncur lagi melintasi perjalanan jalur menurun. Maka, diharuskan setiap kereta diperiksa dahulu.

“Itulah misteri Stasiun Cipeundeuy, antara kisah mistik dan realitanya,” ucap Mamat pas adzan Isya berkumandang mengakhiri perbincangannya, belum lama ini. (Ilham Amir)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI

Komentar

BAGIKAN