Hadiah Merah Jambu (oleh : Anne A. Permatasari)

Ilustrasi : Net.

Hadiah Merah Jambu

oleh : Anne A. Permatasari

ENTAH mengapa, hari kumulai dengan pemilihan baju berwarna merah.  Warna yang tak pernah masuk ke dalam daftar warna pavoritku.
Sepertinya, hari ini akan menjadi sebuah hari yang berat. Amarah tengah melanda hati dan sepertinya siap menguasai hari, sepanjang ini.


*****

“Sepertinya, kita harus hentikan,” tulisnya tiba-tiba, tadi malam. Percakapan kami saat itu sedikit berat. Agak tersendat, karena akhir-akhir ini kami jarang berkomunikasi. Apalagi setelah hari itu.
“Ya, kita akhiri saja!” ujarku menyambarnya.
“Kok marah? Maksudku, ‘perang dingin’ harus kita hentikan!”
Tak ada penolakan bagiku. Cinta bukanlah perasaan yang telah kami sepakati berdua. Sikapnya selama ini membuatku kacau. Aku benar-benar tak bisa memahami maksudnya.   Kebiasaannya datang, mengulurkan tangan, menggenggam, lalu melenggang, sebenarnya, sudah bisa kuterima. Tetapi jika ini harus dihentikan seperti keinginannya, aku sedikit ragu. Bisakah aku? Kehilangan selalu merupakan lengang yang tak berujung pangkal.
“Kenapa kau diam?” tanyanya, “Bukannya aku tak pernah ada dalam hatimu?” lanjutnya menyelidik.
Bagaimana kukatakan bahwa ini bukan soal perasaan tapi pada soal  kehilangan yang akan tiba, dalam hubungan kami, nanti.
“Kau yakin mau mengakhirinya?” desaknya menerus. Tak memahami  ketajamannya menyayat hatiku.
Say something, please,” bujuknya seperti biasa, meredakan rajukan yang kerap kumiliki.
“Kau marah?”
Tetap aku membisu mencoba berdamai dengan runtuhan dalam rongga dada.
“Hei! Lihatlah, di luar ada bendera putih. Itu, aku yang mengibarkannya lho!” dia mencoba mengurai diam dengan canda.
Hampir aku tertawa. Bagaimana bisa, aku akan kehilangan semua itu?

***

Lelaki berperawakan sedang itu, berbagi ilmu dengan para remaja binaannya.
Tawa renyah mereka terdengar sesekali.
“Coba dengar bagian ini!” katanya samar-samar. Lalu lantunan larik puisi menggema.
Seperti terhipnotis oleh suara lembutnya. Semua terdiam terkagum oleh diksi indah, dan jalinan kalimat yang begitu memesona. Desah nafasnya pun sepertinya menjadi aroma yang memabukkan.
Seperti yang lainnya, aku ikut terbuai, dari balik pintu ruangan itu. Aku berusaha menyibukkan diri. Tugasku di sini, di front office. Bukan di dalam ‘Kelas Seni Peran’-nya.
“…. dan akhirnya hilang. Bahkan bukan dalam dekapan.”
Riuh menyambut pembacaan puisinya tadi. Aku tersentak, ternyata aku bisa larut.

****

“Kau tak suka seni peran, ya?” tanyanya suatu hari, selesai mengajar di kelasnya. Dia menunggu hujan reda, berbagi sapa dengan staf kantor di meja depan.
Raut wajahnya yang menarik terlihat lebih manis dengan senyum yang selalu tersungging. Lulusan sekolah seni itu sudah cukup lama mengajar ‘Kelas Seni Peran’ di teater tempatku bekerja.
“Seni bukan bidangku. Aku di sini bekerja mencari penghasilan saja,” ujarku.
“Setidaknya, belajarlah. Seni itu indah. Dia mengasah ketajaman rasa,” usulnya. Aku mengangkat bahu.
Bagiku, seni itu sulit diselami. Berputar-putar seperti gasing. Aku lebih suka kata yang tak bersayap, lebih mudah memahaminya.

*****

“Ayo aku antar!”
“Tak merepotkan?” Aku balik bertanya, sekadar berbasa-basi. Itu pertama kalinya, lalu beberapa kali, kemudian berkali-kali, dan akhirnya setiap kali. Sungguh kesunyian jika dia tak datang memberikan materi di kelas itu.

*****

Hari itu, waktu berjalan memburuk entah mengapa.
“Sudahlah ga apa-apa. Kau tak perlu mengantarku pulang!”
“Maaf, aku kemarin lupa mengajakmu. Kupikir kau sudah pulang juga!”
“Kau tak berkewajiban mengantarku!” Sedikit sombong aku menjawabnya.
“Kupikir kau suka!” Jawabnya menyudutkanku. Tiba-tiba amarahku membumbung, antara menjawab dan tidak.
Besoknya, dia melenggang di depan mejaku.
“Duluan ya!” teriaknya. Aku manggut. Dia membukakan pintu mobil dan mempersilakan Prily, bintang kelas dramanya masuk.
Ada perasaan kesal atau marah atau cemburu.Tapi, hai… dia bukan apa-apaku. Mengapa kumiliki  rasa itu?

****

“Ayo… kuantar pulang!” ajaknya. Aku menggeleng sambil segera menyembunyikan tas yang sebenarnya telah kupersiapkan untuk pulang.
“Duluan saja. Pak Cipto menyuruh staf kumpul dulu!”
Skenario yang datang begitu saja.
“Kupikir kau marah.” godanya.
“Kenapa harus?” elakku.
“Ya, barangkali kau cemburu? Minggu ini aku begitu sibuk sampai tak sekalipun bisa mengajakmu pulang!”
Darahku naik ke ubun-ubun.
“Kau boleh pulang dengan siapapun!” Tiba-tiba saja itu keluar spontan. Sebuah putusan sesaat yang menjadikan detik berikutnya sebuah kesepian yang panjang.

*****

Satu jam telah berlalu dari berakhirnya jam kerjaku. Dia masih menungguku di meja depan. Sepertinya, tak ada lagi skenario yang bisa kubuat untuk menghindarinya seperti biasa.

“Kau masih bisa melihatku… “

Pamit dari Tulus menemani perjalanan kami.  Sepertinya sengaja dia putar ulang.  Aku mendengarnya sampai cukup hapal. Aku mencoba menghindari kemungkinan, bahwa lagu ini akan menjadi lagu perpisahan kami.
“Jadi, kita akhiri ya?” tanyanya mengambang.
“Terserah. Kita kan ga punya hubungan serius!”

***

Bohong semua!
Diam-diam aku merindukannya. Setiap dialog yang menyelinap dari pintu kelasnya sekarang terasa kering, bahkan menyakitkan. Tak lagi bisa kunikmati. Wajah Prily, primadona kelasnya yang duduk di kursi depan mobilnya, menari dan tertawa di benakku.
Bohong semua, kalau aku tak merindukan sapa hangatnya. Sakit rasanya ketika aku menerus mencari alasan untuk bisa mengelaknya.
Bohong rasanya, jika hampir saja aku tidak berteriak kegirangan ketika suatu hari, bunyi deting pada teleponku memecah segalanya!

*****

Dia menyandar di pilar pintu depan kantorku. Tak bisa kutolak permintaan atau lebih tepatnya perintahnya untuk mengantarku, pulang.
Duduk di sampingnya  pada bekas tempat duduknya Sang Primadona kelasnya, dengan baju semerah ini, membuatku merasa gerah sendiri. Lembayung yang juga memerah, semakin membakar suasana.
Hening dalam beberapa saat.
“Aku minta maaf. Bolehkah kita berbaikan?” ujarnya di luar perkiraanku.
Aku menatap ke arahnya.
“Aku kehilanganmu!” lanjutnya mengejutkanku dan membuatku hampir tersedak.
“Aku juga,” ucapku tak terasa.
Dia menoleh ke arahku, senyum jahilnya terlihat terbit di ujung bibirnya.
“Makanya, jangan terlalu mudah mengatakan, ‘kita akhiri’. Kita pernah mencobanya kan? Eh ternyata … it’s hard, it’s hurt, it’s make us crazy. Tampaknya, kita kena dampak yang sama….” ujarnya penuh kemenangan.
“…ih, kau yang mulai!” tukasku membela diri.
“Habis, kau suka berpura-pura. Capek aku harus selalu menerjemahkan semua gestur tubuh, mimik muka, gaya bahasamu, yang luar biasa selalu penuh tanda tanya!”
“Kau saja yang tak peka!” sungutku.
Tawanya pecah. Renyah, dan nikmat kudengar. Aku tergerak untuk memberinya sebuah hadiah merah jambu. Jadi, segera, sebuah pukulan manis dan ringan hinggap di lengannya.(150317)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI