Guru Sukwan ini Menggadaikan KTP-nya demi bisa Kuliah, Bagaimana Ceritanya…

Neli Ira Tresnawati,S.Pd., salah seorang tenaga pengajar di SDN 2 Margamulya, Kampung Datar Waru, Desa Margamulya, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut. /Foto: Iwan Setiawan,"GE."

KISAH pilu guru sukwan seolah tak pernah habis. Perjalanan karirnya yang pahit kerap kali jadi penghias berbagai media massa. Mengabdi puluhan tahun sebagai pendidik seperti tak pernah mendapatkan penghargaan dari pemangku kebijakan.

Gajinya yang jauh dari kata layak, tak sedikit memaksa sejumlah guru honorer untuk mendapatkan penghasilan dari usaha lain. Julukan “Pahlawan tanpa Tanda Jasa” yang disematkan untuk para guru yang sejak zaman “baheula” hingga sekarang tak lebih dari sekadar pemanis belaka.

Satu dari sekian banyak kisah pilu guru sukwan atau honorer dialamai pendidik di kawasan Garut Selatan. Adalah salah seorang guru sukwan yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mendidik di  SDN 2 Margamulya, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, Jawa Barat.


Setiap hari Neli, sapaan akrabnya, harus menempuh perjalanan berkilo meter dengan menggunakan speda motornya untuk bisa mengajar di SDN 2 Margamulya. Seiring tuntutan profesinya sebagai guru, ia pun diharuskan memiliki gelar S1 untuk memenuhi kompetensinya sebagai guru. Dengan motor kesayangannya itu pula, Neli “ngeureuyeuh” menempuh pendidikan tingginya di kota Garut.

Neli menceritakan salah satu kisah pilunya menjadi seorang guru sukwan. Satu ketika ia melakukan perjalanan Cisompet-Garut Kota untuk kuliah kelas karyawan di salah satu perguruan tinggi terkemuka. Belum separuh perjalanan, tiba-tiba ban motornya kempes. Setelah ditambal, tepat di bilangan Kampung Sodong ban motornya kempes lagi. Padahal perjalannan ke kota Garut masih sangat jauh.

Namun, sesampainya di tukang tambal ban berikutnya, ban motor tersebut malah sobek. “Ini tidak bisa ditambal bu, harus diganti yang baru. Begitu kata tukang ban. Dalam hati saya bingung karena sisa uang hanya tinggal Rp 12.000. Dengan bekal nekat dan malu, akhirnya KTP saya simpan di tukang tambal sebagai jaminan. Karena uang tidak akan cukup untuk membeli ban yang baru,” kenangnya.

Diungkapkannya, kisah memilukan yang dialaminya bukan saja soal ban kempes. Saat pulang kuliah dari Garut, tak jarang harus basa kuyup kehujanan.

“Kisah menyedihkan seperti ini biasa saya alami. Bahaya di pejalanan saat hujan, seperti sambaran petir dan longsoran tanah menjadi hal yang biasa,” tutur ibu dua anak ini kepada “GE”, lirih.

Neli yang dilahirkan pada 2 Februari 1984 juga bersuamikan seorang pekerja di lingkungan pendidikan.  Arman, suami Neli, adalah seorang operator di sekolah yang sama (SDN 2 Margamulya) Kampung Datar Waru RT 01/RW 05, Desa Margamulya, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut.

Dengan semangatnya yang tinggi, meski dengan tertatih akhirnya Neli bisa meraih gelar S1. Namun impian yang diidamkannya menjadi seorang PNS hingga saat ini belum juga terwujud.

“Dengan susah payah dan izin suami tentunya, Alhamdulillah saya bisa meraih gelar S1. Saya bekerja keras untuk memenuhi standar komptensi sebagai guru. Namun sudah puluhan tahun impian menjadi seorang PNS sepertinya masih angan-angan saja. Mungkin ini sudah takdir saya, ” tuturnya, seraya menyeka air matanya. (Iwan Setiawan ).***

Editor: Kang Cep

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI