Guru Honoren Penjual Es Itu Akhirnya Tutup Usia Sebelum Tuntutannya Dipenuhi Pemerintah

KABAR DUKA menyelimuti salah satu komunitas pendidik honorer di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Forum Aliansi Guru dan Karyawan (FAGAR) Kabupaten Garut pada hari Jumat (26/02/2016) ditinggalkan untuk selamanya oleh salah satu ‘pejuang’ sekaligus anggotanya yang hingga menjelang tutup usia masih terus berjuang bersama rekan rekannya senasib untuk menuntut hak dan keadilan dari pemerintah.

Adalah Enjang, S.Pd. (44) salah seorang guru honorer K2 dari kawasan Garut utara, tepatnya Kecamatan Balubur Limbangan. Enjang yang kesehariannya bekerja sebagai guru honorer di SDN Pasirwaru, Kecamatan Balubur Limbangan, Kabupaten Garut. Disamping itu, untuk menopang perekonomian keluarganya, ia harus nyambi berjualan es keliling setiap hari di halamannya.

Enjang ‘Sang Guru Oemar Bakri’ dikabarkan meninggal dunia setelah beberapa hari sebelumnya sempat mengikuti aksi di depan Istana Presiden Jakarta untuk menuntut keadilan dan haknya dari pemerintah. (10-12/02/2016).

“Ya, alamarhum adalah salah seorang pejuang tangguh dan guru tanpa tanda jasa. Sebelum meninggal ia juga mengikuti aksi bersama rekan-rekan Fagar lainnya di Istana Jakarta untuk menuntut hak, keadilan dan kesejahteraannya sebagai abdi negara,” .Tutur, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Forum Aliansi Guru dan Karyawan (FAGAR) Makmol Arif, di rumah duka, Jumat, (26/02/2016).

Almarhum Enjang, meninggalkan seorang istri dan empat orang putra.  Semasa hidupnya, almarhum terbilang sosok yang tangguh tanpa harus mengeluh dengan getirnya hidup. Kesulitan ekonomi yang menghimpit keluarganya, tidak serta merta membuatnya patah semangat dalam memberikan pengabdiannya bagi anak negri.

Ditengah keterpurukan keluarganya, ia masih mampu memberikan pendidikan terbaik buat masa depan anak-anak didiknya. Namun sebaliknya, Ia semasa hidupnya pernah ‘curhat’ belum bisa memberikan yang terbaik untuk anak istrinya.

Sebagai Guru Honorer, ia hanya mendapatkan  uang yang tidak sebanding dengan kebutuhan standar hidup layak. Upah yang ia dapatkan dari tugasnya sebagai Guru Honorer hanya Rp 25.000 perhari. Dengan honor yang sama sekali jauh dari kata cukup ini, Enjang semasa hidupnya tetap semangat mengabdi demi mencerdaskan anak didiknya, agar lebih baik di masa datang, kelak.

Istri Almarhum Enjang, mengatakan, hampir dalam separuh hidup suaminya mengabdikan diri sebagai guru. Belasan tahun lamanya, alamrhum bershabar menekuni profesinya sebagi guru honorer. ”Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, swami saya (alm/ red) sempat berbisaik pada saya, seperti ini, tolong sampaikan kepada Pemerintah, jangan lalai, jangan ingkar janji, dan jangan dzalim pada kaum honorer. Pada saatnya nanti Allah akan membalasnya.” Ungkap istri Enjang, seraya terisak menahan tangisnya. (TAF Senapati) ***