Grup Gay Siswa Merebak di Medsos, Disdik Garut Siapkan Langkah Antisipasi

GARUT, (GE).- Heboh diberitakan merebak grup media sosial (Medsos) kaum Gay siswa membuat Dinas Pendidikan (Disdik) Garut berbuat antisipatif. Disdik memandang persoalan ini sebagai fenomena luar biasa.

“Meski belum tentu kebenarannya, tapi persoalan ini luar biasa. Kita akan tentukan langkah antisipatifnya,” kata Plt Kadisdik Garut, Burdan Ali Junjunan, di ruang kerjanya, Selasa (9/10/18).

Buldan menandaskan, pihaknya segera mengambil langkah cepat menyikapi masalah tersebut. Keberadaan lesbi, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) tak boleh dibiarkan.


Meski berdasarkan informasi di sejumlah media jumlahnya mencapai ribuan, namun sampai saat ini dirinya belum menerima laporan baik dari sekolah maupun orang tua siswa. Oleh sebab itu dibutuhkan data yang akurat agar bisa ditentukan langkah penanggulangannya.

“Langkah pertama, besok semua kepala sekolah SMP akan deklarasi penolakan LGBT. Kami juga akan undang orang tua untuk sosialisasikan masalah ini. Karena penyimpangan kelainan seksual ini harus ditanggulangi secara bersama. Bukan hanya kewajiban sekolah,” ucapnya.

Selain itu, Disdik pun telah mengeluarkan larangan siswa membaha telpon ke sekolah. Hal itu, tujuannya untuk mencegah penyalahgunaan teknologi dan komunikasi.

“Larangan itu sudah diberlakukan sejak tahun 2018. Langkah prefentif itu masih berlaku sampai sekarang,” kata dia.

Tidak hanya langkah itu saja, kata Buldan, pendidikan agama pun terus ditanamkan. Tujuannya agar karakter dan budi pekerti siswa bisa terus terbina.

“Di Garut itu sudah ada gerakan embun pagi. Selain itu kegiatan agama seperti membaca Al-Quran setiap mau dimulai jam pelajaran kerap dilakukan,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, dibutuhkan peran bersama untuk menjaga generasi bangsa ini agar tidak terjerembab ke lembah nista. Menurutnya, jangan hanya di sekolah namun di rumah dan di lingkungan masyarakat pun harus berperan aktif melakukan pencegahan.

“Di sekolah ini paling lama hanya 8 jam. Selebihnya ada di rumah dan lingkungan masyarakat. Jadi butuh kepedulian bersama,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Warga Garut dibuat resah dengan merebaknya grup facebook gay yang beranggotakan siswa SMP dan SMA.

Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna ketika dimintai tanggapan soal keberadaan grup Facebook tersebut mengaku sudah menerima informasi akan hal itu.

Dia pun akan melakukan penyelidikan mencari orang-orang di balik grup tersebut.

Iya (sudah tahu), kami lagi penyelidikan, pasti kami selidiki ini,” katanya saat ditemui Jumat (5/10/2018) malam di cafe Lasminingrat di jalan Pedes Kelurahan Pataruman Kecamatan Tarogong Kidul.

Ditemui di tempat yang sama, Dandim 0611 Garut Letkol INF Asyraf Aziz pun mengaku tengah memantau aktivitas grup tersebut.

Dandim mengaku telah melihat dan mendalami grup tersebut dengan melihat langsung postingan-postingan dari para anggotanya.

Isinya, menurut Dandim, sangat menjijikkan.

Soni MS, Ketua Garut Education Watch mengaku prihatin atas fenomena ini.

Apalagi, jumlah anggota di grup tersebut sudah mencapai 2600 orang lebih.

Soni mengingatkan agar sekolah lebih meningkatkan peran guru BP agar bisa lebih aktif memantau perkembangan psikologi siswa di sekolah dan memantau apakah ada siswanya yang jadi bagian dari grup tersebut.

“Jelas prihatin, apalagi melihat anggota grup ini yang ternyata cukup banyak juga,” katanya.

Lanjutkan membaca artikel di bawah Video Pilihan Menurut Soni, fenomena ini harus menjadi tanggung jawab semua pihak mulai dari pemerintah, aparat penegak hukum, ulama dan semua elemen masyarakat.

“Meski nama grupnya menyangkut-nyangkut SMP dan SMA, tapi ini jadi tanggung jawab semua bukan hanya Disdik,” katanya. (MHI)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI