Goresan Kecil Tentang Museum RAA. Adiwijaya Garut

Oleh : Drs. Warjita

Purwa carita

Adalah sebuah Komunitas Tim Peduli Museum (Katimus) RAA. Adiwijaya Garut kiranya yang perlu kita apresiasi hasrat mulianya. Berawal ketika komunitas ini berkunjung ke UPTD Museum RAA. Adiwijaya jalan Pembangunan Simpang Lima –Tarogong Kidul-Garut sebulan lalu.

Komunitas yang terdiri atas Wa Ratno, Dr. Wisnu, Bah Kidin, Kang Satriya, Teh Rinjani, Kang Kuswandi dll ini sering mondar-mandir ke museum itu serta melakukan pertemuan diantara mereka untuk memikirkan bagaimana caranya agar museum RAA. Adiwijaya ini benar-benar sebuah museum representative di Garut. Mereka menyayangkan sebuah Museum itu seperti tidak ada ruh, kering, dan tidak mencerminkan sebuah museum sejatinya Museum.

Melihat kenyataan melulu tak berbeda dengan sekadar kantor arsip karena lebih dominan hanya menyimpan foto-foto lama Garut ketimbang koleksi benda-benda cagar budaya. Dari situlah muncul pemikiran mereka perlunya dibentuk sebuah paguyuban yang bergerak dalam pelestarian kebudayaan dengan maksud dapat mewadahi para generasi muda dari berbagai disiplin ilmu yang benar-benar peduli terhadap kebudayaan di Kabupaten Garut. Maka pada hari minggu tanggal 13 Desember 2015 dengan acara bertema “Ngalayad Museum” dideklarasikanlah sebuah komunitas yang diberi nama GARUT HERITAGE (Paguyuban Pelestari Warisan Budaya Garut) dengan ketua Dr. Wisnu, wakil ketua Wa Ratno, dan sekretaris Kang Satriya.

Pendekralasian yang dihadiri oleh Kadisbudpar dan Kadiskominfo Garut serta puluhan budayawan, seniman dan mahasiswa ini cukup sukses dan meriah karena sebelumnya diadakan dulu rajah karinding Citameng-Karang Tengah yang cukup magis serta memukau, kemudian saresehan dengan mendatangkan Prof. Asep, Kang H.Usep Romli dan Pandu Radea (filolog dari Ciamis) dan pementasan calung Kang Agus Obar grup yang membuat para penonton benar-benar merasa terhibur.

Nampaknya penggagas Garut Heritage tidak ingin jika komunitas itu bersifat parsial, spesifik terhadap museum melulu. Garut Heritage yang dimaksud adalah komunitas yang bergerak dalam Pelestarian Kebudayaan secara umum di Kabupaten Garut, artinya bersifat holistic.

Museum RAA. Adiwijaya Garut

Sampai sekarang saya tidak tahu, apa pemakaian nama UPTD Museum RAA. Adiwijaya itu ada ijin dulu dari keluarga, seke-seler RAA. Adiwijaya, atau tidak? Bagaimana aspek legal penggunaan nama Bupati Garut munggaran itu secara hukum? Kita mengetahui persis RAA. Adiwijaya adalah Bupati Garut pertama yang memerintah 1813-1831. Beliau adalah pendiri Kota Garut (founding father), tokoh ideologis-politis kala itu, putra sulung Pangeran Kornel (Bupati Sumedang) berjasa membangun Garut. Oleh karenanya, hemat saya kurang pantas, terlalu berlebihan, jika nama sebesar tokoh RAA. Adiwijaya dijadikan sekadar nama UPTD Museum Disbudpar Garut sekarang.

Beberapa tahun ke belakang manakala Disbudpar Garut “memaksakan diri” harus ada sebuah UPTD Museum sebenarnya saya kurang setuju, tidak “sreg” dalam hati. Saya katakan ke Kadisbudpar waktu itu, belum saatnya ada UPTD Museum karena museum mestinya, minimal, setingkat bidang dan kalau hanya setingkat seksi bagai “munding kabiri”, atau “banci”. “Ngarana we Museum ”, tetapi ketenagaan, koleksi dan segala pendukungnya nol. Namun, mungkin, karena tuntutan SOTK baru waktu itu yang mengharuskan demikian akhirnya lahir pula UPTD Museum. Terlahir seolah dipaksakan !

Mengapa saya tidak setuju? Seperti saya sebutkan di muka karena UPTD museum ini hanya setingkat seksi, subbag, atau subbid dimana kepalanya seorang eselon IV, tidak jelas struktur organisasinya, tidak mempunyai tenaga fungsional, dan tidak memiliki mata anggaran sendiri (sumber dana tetap).

Apa UPTD museum (yang sudah berdiri lebih 5 tahun) itu selama ini sudah mampu mengumpulkan benda-benda cagar budaya yang tersebar di masyarakat sebagai koleksinya?

Kalau memang sudah ada beberapa benda sebagai koleksi museum sejauh mana cara perawatannya (aspek konservasi)? Yang aneh, secara hierarki struktur organisasi UPTD Museum ada di bawah kesekretariatan, tetapi untuk program dan kegiatannya lebih dominan di lingkup Bidang Kebudayaan.

Seringkali terjadi overlaping program/kegiatan antara UPTD Museum dengan salah satu Seksi di Bidang Kebudayaan. Kadang terjadi “pacorok kokod” antara keduanya, karena adanya duplikasi kegiatan. Rancu sekali. Untuk itu pula segala program dan kegiatan yang dilakukan di UPTD Museum selama ini sebenarnya bisa dicover atau diakomodir oleh Seksi di Bidang kebudayaan.

Dahulu ketika Bidang Kebudayaan masih di bawah Depdikbud sebelum Otda, ada Seksi Permuseuman dan Kepurbakalaan, di samping seksi Jarahnitra (sejarah dan Nilai tradisional), dan Seksi Kesenian.

Seksi Permuseuman dan Kepurbakalaan ini yang melakukan peng-inventarisasian, pengkajian, pemeliharaan, perawatan dan pempublikasiaan benda-benda cagar budaya, baik materil maupun non-materil, bergerak ataupun tidak bergerak. Untuk hal ini pun sebenarnya Seksi permuseuman dan kepurbakalaan sudah tentu telah dibantu oleh para Juru Pelihara situs cagar budaya yang dengan setia terus-menerus merawat dan memelihara benda-benda cagar budaya di wilayah lokasi kerjanya, walaupun dalam pemeliharaan itu kadang mereka lakukan secara tradisional.

Tidak kurang dari 25 orang juru pelihara organic dan non-organik di Kabupaten Garut (catatan saya pada tahun 2013) turut berperan dalam memelihara benda-benda cagar budaya di situs-situs yang tersebar di pelosok.

Jika sekarang di Disbudpar Garut ada seksi Sejarah dan Kepurbakalaan di bawah Bidang Kebudayaan, itu merupakan perubahan dari Seksi Permuseuman dan Kepurbakalaan dahulu yang mempunyai Tupoksi diantaranya mendata, menginventarisasi, meneliti, mengkaji, merekam dan mensosialisasikan aspek kesejarahan dan kepurbakalaan.

Dengan demikian, UPTD Museum Disbudpar Garut, yang diberi nama Museum RAA. Adiwijaya ini, menurut saya adalah PREMATUR, belum saatnya, dan kurang tepat, akhirnya mubazir. Untuk hal itu perlu ditinjau kembali. Kecuali jika Disbudpar mampu merubah Srtuktur Organisasi Tata Kerjanya dimana UPTD Museum yang ada sekarang menjadi selevel dengan bidang seperti halnya UPTD-UPTD Museum di tingkat propinsi. Maka dengan demikian akan benar-benar jelas struktur organisasi dan pengelolaan museum tersebut.

Pungkas carita
Berdasarkan PP RI No 19 tahun 1995, museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa.

Sedangkan menurut International Council of Museum (ICOM); dalam Pedoman Museum Indonesia; 2008, museum adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan artefak-artefak perihal jati diri manusia dan lingkungannya untuk tujuan study, pendidikan dan rekreasi.

Oleh karean itu dapat diartikan pula bahwa museum adalah lembaga yang diperuntukan bagi masyarakat umum, berfungsi mengumpulkan, merawat, dan menyajikan serta melestarikan warisan budaya masyarakat untuk tujuan study, penelitian dan kesenangan atau hiburan.

Untuk itu pula, dalam menjalankan aktivitasnya museum mengutamakan dan mementingkan penampilan koleksi yang dimilikinya. Setiap koleksi merupakan bagian integral dari kebudayaan dan sumber ilmu.

Sebuah Museum dapat didirikan dengan memperhatikan hal-hal, sbb:
1. Lokasi Museum (strategis,mudah dijangkau dan sehat);
2. Bangunan Museum (memenuhi prinsip-prinsip konservasi agar koleksi museum tetap lestari). Bangunan museum minimal 2 kelompok, yaitu Bangunan Pokok (pameran tetap, pameran temporer, auditorium, kantor, perpustakaan, lab.konservasi, dan ruang penyimpanan koleksi), dan Bangunan Penunjang (pos keamanan, kios cinderamata, kantin, toilet, tempat parkir).
3. Koleksi (bernilai sejarah,ilmiah dan bernilai estetika, dapat diterangkan asal-usulnya baik secara historis maupun geografisdll.)
4. Peralatan Museum (memiliki sarana dan prasarana berkaitan erat dengan pelestarian dll.)
5. Organisasi dan Ketenagaan (terdiri atas Kepala Museum, Bag.administrasi, pengelola dll.)
6. Sumber Dana tetap untuk penyelenggaraan dan pengelolaan museum.
Jika kita perhatikan ke 6 (enam) poin di atas bisa jadi merupakan persyaratan mutlak pendirian sebuah museum.
Dengan demikian tidak mudah mendirikan sebuah lembaga yang dinamakan museum di tingkat kabupaten, karena di samping diperlukan adanya bangunan representatif, juga tidak kalah pentingnya aspek ketenagaan, yakni bag.administrasi dan pengelola tehnis (Kurator, konservator dan preparator), serta peralatan museum dan sumber dana tetap yang sudah pasti memerlukan budget cukup besar setiap tahun anggaran.

Wallohualam Bisshowab. Cag !

Penulis adalah, pemerhati Sejarah dan Budaya Garut.***