Geliat Warga Garut Selatan Berkebun Kelapa Sawit

Petani kelapa sawit di Desa Maroko Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Agus (48), saat akan mengambil tandan kelapa sawit di areal perkebunannya./ Useu/GE.

CIBALONG,(GE).- Pengusahaan perkebunan kelapa sawit oleh masyarakat atau disebut perkebunan rakyat di Kecamatan Cibalong menunjukkan peningkatan. Berdasarkan penelusuran di lapangan, sedikitnya warga di 3 desa sudah berkebun kelapa sawit.

Ketertarikan masyarakat dalam membudidayakan kepala sawit itu tidak lepas dari kiprah para mantan transmigran yang kebanyakan ke Sumatera. Berbekal pengalaman bergelut di perkebunan kelapa sawit saat menjadi transmigran di Sumatera, beberapa warga Kecamatan Cibalong mengembangkan tanaman perkebunan ini sejak tahun 2005. Kuantitasnya semakin intensif sejak tahun 2009.

Hal tersebut selaras dengan ungkapan Camat Cibalong, Rakhmat Alamsyah, S.Sos. Dijelaskannya, banyaknya warga Cibalong yang pernah menjadi transmigran di Pulau Sumatera merupakan salah satu faktor yang menjadikan banyaknya petani kelapa sawit di Cibalong. Hal tersebut didukung oleh lahan dan cuaca yang memang cocok untuk ditanami sawit.

“Hasil penen kelapa sawit di Cibalong kualitasnya tidak kalah dengan buah sawit yang ada di pulau lain. Namun itu tergantung dengan jenis bibit yang ditanam,” katanya.

Diantara warga Cibalong yang berkebun kelapa sawit, salah satunya yaitu Agus (48). Petani kelapa sawit asal Desa Maroko Kecamatan Cibalong ini, mengatakan, dirinya menanam kelapa sawit di atas lahan seluas 27 hektare. Hingga saat ini, ia sudah memanen sebanyak 29 kali. Kelapa sawit yang dipanennya, dijual ke salah satu perusahaan yang menampung hasil perkebunan.

Geliat warga berkebun kelapa sawit juga dituturkan Ketua BPD Maroko, Ahmad Gojali. Di desanya itu kini bermunculan petani kelapa sawit. Ada yang baru menanam, ataupun yang sudah menuai hasil (panen). Dengan adanya perkebunan kelapa sawit tersebut, perekonomian warga bisa terbantu. “Dengan tekstur daerah yang berbukit, pertumbuhan kelapa sawit di Cibalong bisa bersaing dengan perkebunan di pulau lain,” katanya.
Ahmad menambahkan, saat ini harga kelapa sawit (tandan buah segar/TBS) mencapai Rp 1.090 per kilogram.

Mendongkrak Nilai Tambah

Pengusahaan perkebunan kelapa sawit dengan status perkebunan rakyat berkontribusi besar dalam menjaga martabat Indonesia sebagai salah satu eksportir CPO (crude palm oil/minyak sawit kasar) terbesar di dunia.

Dari sisi luas areal lahan, proporsinya sebanyak 42% dari total luas lahan yang pada tahun 2013 tercatat seluas 10,4 juta Ha. Proporsi terbesar dipegang Perusahaan Besar Swasta sebanyak 51%. Sisanya diusahakan Perusahaan Besar Nasional (milik pemerintah) yang hanya 7%. Angka-angka ini berdasarkan pada Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Kelapa Sawit 2013-2015, yang diterbitkan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.

Selain menghasilkan CPO, tandan buah segar sawit juga menghasilkan PKO (palm kernel oil/ minyak inti sawit). Jika CPO berasal dari daging buah (messocarp), maka PKO berasal dari inti sawit. Dari kedua jenis minyak sawit ini dapat dibuat menjadi berbagai produk turunan dengan nilai tambah yang belipat-lipat.

Laporan Kajian Nilai Tambah Produk Pertanian, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Republik Indonesia Tahun 2012, menuliskan, dilihat dari nilai tambah bisnis, industri pengolahan CPO menjadi salah satu industri yang prospektif untuk dikembangkan ke depan. Selain untuk industri minyak makanan dan industri oleokimia, kelapa sawit dapat juga menjadi sumber energi alternatif.

Nilai tambah ekonomi (baik nilai tambah bisnis maupun nilai tambah teknis) produk turunan CPO sangat bervariasi, tergantung dari harga bahan baku, tingkat kesulitan dalam ekstraksi produk, dan harga produk turunan di pasar. Tetapi, satu hal yang pasti, semakin dapat dimanfaatkan/dibutuhkan produk turunan tersebut, nilai tambahnya semakin tinggi. CPO yang diolah menjadi sabun mandi saja sudah menghasilkan nilai tambah sebesar 300 persen, terlebih lagi jika dapat dijadikan kosmetik yang nilai tambahnya mencapai 600 persen. Nilai tambah CPO jika diolah menjadi minyak goreng sawit sebesar 60 persen, sedangkan jika menjadi margarin mencapai 180 persen.

(Useu G. Ramdani/Firman)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI

Komentar

BAGIKAN