Gelar Diskusi Terbuka, H. Aceng Fikri Tekankan Makna Silaturahmi

GARUT, (GE).- Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI yang juga sebagai anggota MPR RI, H. Aceng Fikri menggelar sosialisasi dan diskusi 4 pilar kebangsaan di rumah pribadinya, Jalan Jend Sudirman Kampung Copong, Kecamatan, Garut Kota, Sabtu, (27/5/17). Tampak hadir ratusan masyarakat dan aktivis pemuda.

Dalam kesempatan itu, H. Aceng Fikri turut mengingatkan warga Garut dan para pemuda mengenai pentingnya empat pilar kebangsaan atau istilah lain PBNU yakni Pancasila, Undang-undang Dasar 45, Bhineka tunggal ika, NKRI dan Undang-undang Dasar 45 yang mana saat ini rongrongan terhadap negara sudah terlihat bintik-bintiknya.

“Aktifitas kita mulai dari tidur hingga bangur tidur semuanya dikendalikan oleh media. Ini menjadi refleksi dan warning, jika tidak segera bangkit maka umat islam akan menjadi sampah bagi mereka yang ada di ruang politik, ekonomi maupun kekuasaan,” tandasnya.


Diungkapkannya, mari tanamkan dalam diri kita sikap pri kemanusiaan yang adil dan beradab. Betapa tidak, radikalisme, kekerasan, amoral sudah menjadi konsumsi publik. Begitu juga perekonomian hanya dikusai kelompok tertentu. Dan mau tidak mau, suka tidak suka kita berada dalam percaturan di dalamnya,” tuturnya.

Calon Gubernur Jawa Barat ini mengaku prihatin, melihat fenomena yang terjadi di negeri saat ini, seolah alqur’an bertolak belakang belakang dengan pancasila. “Kemanusiaan yang adil dan beradab itu adalah dalil yang tertuang dalam qur’an. sebab itu, hayu dulur-dulur toreh dan gali kembali nilai-nilai pancasila. Pun Aksi 212 umat Islam seolah dibenturkan dengan pancasila,” tambahnya.

Selain itu, H. Aceng Fikri juga mengatakan, kegiatan diskusi bersama warga ini sengaja digelar di rumah pribadi sebagai bentuk memperat tali silaturhmi.

“Abdi rek ngabejaan yen bumi abdi terbuka selama 24 jam untuk masyarakat sebagai central komunikasi. Silakan saudara-saudara datang kapanpun atau hanya sekedar rehat, rumah ini tak pernah dikunci,” ucapnya.

Menurutnya, Tak akan terbangun kekuatan tanpa ada perhimpunan. Dan tak ada perhimpunan tanpa jama’ah. “Sapu nyere pegat simpai. Apalah arti manfaat satu lidi namun jika bersatu maka lidi tersebut bisa menjadi sapu. Inilah makna filosofi dari konsep jama’ah yang selama ini tak banyak diperhatikan,” terangnya. (Syamsul)***

Editor: Kang Cep.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI