Gas Melon di Garut Langka, Pemkab dan Pengusaha Saling Tuding

KOTA, (GE).- Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi menyebut kelangkaan elpiji di Kabupaten Garut dalam sepekan terakhir. Diduga kelangkaan gas melon itu disebabkan spekulasi sejumlah pengecer menjelang bulan Ramadan.

Ketua Hiswana Migas Kabupaten Garut Sobur Kuswandar mengatakan, kelangkaan kemungkinan terjadi di tingkat pengecer. Pasalnya, penjualan di tingkat pengecer di luar jangkauan pengawasannya.

“Spekulasi pengecer yang membuat kelangkaan. Penjualan di tingkat pengecer di luar kendali (Hiswana Migas),” tuturnya saat dihubungi, Minggu (31/5/2016).

Sobur menjamin pasokan dari Pertamina ke SPBE, agen, hingga pangkalan berjalan lancar. Dia menyebutkan terdapat empat SPBE, 28 agen, dan 500 pangkalan elpiji di seluruh Kabupaten Garut.

Dia mengaku terus melakukan pantauan pasokan hingga pangkalan. Menurut Sobur, kenakalan di tingkat agen dan pangkalan jarang terjadi karena terus dipantau oleh Pertamina dan pemerintah.

“Kalaupun terjadi hanya 1-2 oknum yang nakal. Pangkalan yang nakal bisa dihapus jika ketahuan dan langsung diganti,” ucapnya.

Dia menjelaskan, tak kurang dari 45.000 elpiji 3 kilogram didistribusikan kepada masyarakat setiap hari atau sekitar 1,2 juta per bulan. Di tingkat pangkalan, harga eceran tertinggi ditetapkan sebesar Rp 16.000.

“Apabila ada pangkalan yang menjual di atas HET, laporkan saja ke Pertamina atau Pemkab Garut langsung agar bisa segera ditindaklanjuti,” ujar Sobur.

Selain menuding spekulasi pengecer, Sobur menduga kelangkaan terjadi lantaran pembeli yang tidak berhak membeli gas melon, justru memborong dalam jumlah banyak. “Ada juga yang mengacaukan distribusi, yaitu pembeli yang mampu. Tak jarang mereka membeli sampai lima tabung elpiji 3 kilogram,” katanya.

Menurut dia, hal itu menunjukkan kesadaran masyarakat mampu di Kabupaten Garut masih minim. Padahal, pasokan gas 3 kilogram dinilainya lebih dari cukup. Bahkan, selama bulan Ramadan biasanya ada pasokan tambahan.

Kasi Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Garut, Romansyah, mengaku selalu melakukan pemantauan pasokan barang. Meski ada peningkatan permintaan dari masyarakat, seharusnya tidak menyebabkan kelangkaan ataupun kenaikan harga karena biasanya pihak Pertamina selalu menambah kuota elpiji selama Ramadan.

Romansyah menduga selama ini para pengusaha pangkalan mempermainkan harga secara berjemaah. Hal tersebut membuat kenaikan harga gas 3 kilogram sulit dikendalikan.

“Bukan satu atau dua pangkalan saja yang bermain harga, hampir semua pangkalan tidak lagi menjual gas dengan harga yang sudah ditentukan,” katanya.

Menurut dia, rantai Pendistribusian gas dinilai terlalu panjang sehingga harga menjadi mahal. Dalam aturan, gas bersubsidi itu seharusnya didistribusikan langsung kepada konsumen dari konsumen tanpa melalui pengecer. Farhan SN***