Garut Jadi Tuan Rumah, Kalau Buang Sampah ke TPA Legoknangka Tetap Bayar

KOTA, (GE).- Meski akan terkena dampak dari beroperasinya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah di Legoknangka, namun Kabupaten Garut harus tetap membayar jika ingin membuang sampah ke tempat tersebut. Tiap ton sampah yang dibuang ke TPA Legoknangka harus mengeluarkan kocek sebesar Rp 123 ribu.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut masih mempertimbangkan penggunaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Legoknangka di Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung. Tingginya biaya operasional bila membuang sampah ke TPA Legoknangka, menjadi hal yang dipertimbangkan pemerintah daerah.

Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kabupaten Garut, Bambang, menjelaskan biaya operasional membuang sampah ke TPA Legoknangka lebih mahal bila dibandingkan dengan membuang sampah ke TPA Pasirbajing, Kecamatan Banyuresmi.

“Kami juga harus melihat dari sisi sarana yang ada. Armada kami juga sangat terbatas. Kami masih dalam perhitungan jika membuang ke sana (Legoknangka). Terlebih penggunaan TPA Legoknangka menunggu keputusan dari Pemprov Jabar,” kata Bambang, kemarin.

Selain itu, Bambang menyatakan TPA Pasirbajing masih cukup untuk menampung volume sampah di Kabupaten Garut. Ia memperkirakan usia TPA Pasirbajing juga masih panjang.

“Perkiraan dari kami usia Pasirbajing sekitar 10 tahun lagi. Luasnya pun terus bertambah. Dari 8,5 hektare (ha), sekarang menjadi 14 ha,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini Pemprov Jabar tidak mewajibkan Garut untuk ikut membuang sampah ke Legoknangka. Hanya saja Pemprov meminta Garut ikut berkontribusi.

“Pasirbajing tidak akan kami tutup. Tetap akan digunakan. Cuma jika mau buang ke Legoknangka dipersilakan, antisipasi jika nantinya Pasirbajing tidak bisa dipakai,” ucapnya.

Setiap ton sampah yang dibuang ke Legoknangka, jelasnya, dikenakan biaya sebesar Rp123 ribu. Meski biaya yang ditetapkan sudah didasarkan kajian, ia menilai besarannya terlalu mahal.

“Kalau dari kemampuan kami terbilang mahal juga. Belum dari ketersediaan sarana di kami. Kecuali ada bantuan sarana. Tapi tetap saja untuk bahan bakarnya dari Pemda Garut. Ditambah jalan ke sana menanjak,” ujarnya.

Saat ini pihak DLHKP Kabupaten Garut memiliki 32 truk yang digunakan untuk mengangkut sampah. Dari jumlah itu, hanya 10 truk yang layak digunakan.

“Sisanya dipaksakan untuk tetap dipakai meski usia truk yang sudah mencapai 25 tahun,” ucapnya.

Setiap harinya volume sampah yang dihasilkan warga di perkotaan Garut mencapai 1.500 meter kubik. Sementara daya angkut armada sampah per hari hanya 600 meter kubik.

“Setiap hari satu truk dua kali menarik sampah. Itu juga masih belum keangkut semua karena keterbatasan sarana,” ucapnya.

Meski biaya membuang sampah ke Legoknangka akan membengkak, Bambang mengaku tetap akan mengikuti intruksi dari Pemprov Jabar. (Farhan SN)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI

Komentar

BAGIKAN