Gaji Honorer Minus, Berjualan Es jadi Jalan Pintas

MULIANYA profesi guru tak terbantahkan. Sang legenda hidup musik country, Iwan Fals dalam salah satu lirik lagunya, bahkan menyebutkan bahwa jasa guru (Oemar Bakri) diibaratkan sebagai sosok pendidik mulia yang membuat anak didiknya menjadi pintar, sepintar ‘otak Habibie.’ Namun, nasib guru dari dulu hingga kini kerap kali digambarkan tak seindah jasanya.

Saking mulianya, gelar ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’ pun disematkan bagi para guru. Fakta memang berkata demikian, melalui jerih payahnya mendidik anak bangsa, tak sedikit anak didik yang berhasil menuai sukses di berbagai keahlian, mulai dari pemikir, penulis, pejabat, ilmuan hingga menjadi pemimpin bangsa. Tak bisa disangkal lagi, gurulah yang memiliki andil besar.

Sebenarnya, guru tak berharap kado apapun, bahkan sekedar ucapan Selamat Hari Guru setiap tahunnya. Memaknai hari guru dengan member i apresiasi setingi tingginya, tampaknya tidak berlebihan. Dalam perkembangannya, kesejahteraan yang dirasakan para guru sering terjadi ketimpangan sosial khususnya anatar guu yang berstatus PNS dan Non PNS.

Tak dapat dipungkiri, nasib mengenaskan kerap mengakrabi sebagian kaum Oemar Bakri. Khususnya para guru berstatus honorer. Mereka sering dikabarkan termarginalkan oleh pemangku kebijakan.

Di Kabupaten Garut, ada potret buram sesosok guru honorer yang harus berjibaku mempertahankan hidup dengan segala keterbatasanannya. Adalah Enjang, S.Pd,(40) salah seorang guru honorer di Sekolah Dasar (SD) Pasir Waru 4, Kecamatan Balubur Limbangan.

Pahit getirnya sebagai guru honorer harus ia rasakan dalam kesehariannya. Dari pengasilannya sebagai guru honorer yang jauh dari kata layak memaksanya untuk nyambi mencari penghasilannya dengan cara lain. Terkadang waktu begitu sempit, saat harus mengajar dan mencari tambahan penghasilan. Namun, itulah hidup hidup sang guru honorer yang mau tidak mau harus dijalani.

Setiap harinya, Enjang harus tertatih-tatih berusaha meraih rupiah untuk sekedar mempertahankan hidupnya dengan berjualan Es keliling. Bahkan, ia rela berjalan puluhan kilo meter mendorong gerobak Es jualannya.

“Ya, mau bagaimana lagi, penghasilan sebagai honorer jauh dari kata cukup. Untuk itu saya harus berupaya menambah penghasilan dari berjualan Es keliling ini.” Tuturnya,lirih.

Setiap harinya, Enjang harus bermandi keringat berjalan seraya mendorong gerobak Es nya sambil menuju sekolah tempatnya mengajar. Pria berusia 44 tahun, ayah dari empat orang anak ini terkenal sosok tegar dalam mengarungi kehidupannya.

Beratnya beban hidup membuat Enjang tak mampu menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Ke empat orang anaknya masih usia sekolah. Anak pertamanya baru saja menamatkan dari Sekolah Lanjutan Atas, namun harus menganggur. Sementara itu, anaknya yang ke dua, kini masih duduk di bangku SLTP, sedangkan si bungsu duduk di bangku Sekolah Dasar.

Kesulitan ekonomi yang menghimpit keluarga Enjang, ternyata tidak serta merta membuatnya patah semangat dalam memberikan pengabdiannya bagi anak negri. Di tengah keterpurukan keluarganya ia masih mampu memberikan ilmu yang terbaik buat masa depan anak-anak didiknya.

“Dengan penghasilan dari berdagang , terkadang tidak sebanding dengan modal, apalagi berjualan Es di musim penghujan lebih banyak sisanya ketimbang untungnya ini. Alhamdulillah, mungkin ini rizki dari Alloh, saat akan tetap jalani sekuat tenaga,” tuturnya, seraya menyeka keringat didahinya.

Bertugas sebagai guru honorer, ia hanya mendapatkan uang yang juga tidak sebanding dengan kebutuhan dengan standar hidup layak. Upah yang ia dapatkan dari tugasnya sebagai guru non-PNS hanya Rp 25 ribu saja perhari ini. Jika dibandingkan dengan rata-rata honorer di “pasisian” Garut yang dikabarkan hanya Rp 60 ribu per bulannya, upah Enjang sedikit masih beruntung.

Memaknai Hari Guru Nasional, ia berharap, pemerintah mengangkat harkat hidup guru honorer , memanusiakan ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’. “ Anggota dewan yang terhormat, para petinggi, dan pemimpin di negeri ini, lahir dari tangan guru, tak melihat statusnya guru honorer atau PNS. Guru tidak berharap balas jasa, tapi selayaknya guru diberi tanda jasa dengan memperjuangkan nasib,” harapnya.

Diharapkannya, pemerintah melalui Menan- RB agar jangan sekali-kali mengobral janji-janji yang tak pasti, membingungkan para honorer K2. “Kami hanya berharap keadilan dari pemerintah, dan meminta hak kami sebagai abdi negara. Harapan kami hanya satu, angkat seluruh K2 menjadi Pegawai Ngeri Sipil!” Tandasnya, seraya terisak menahan tangis. (TAF Senapati)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI

Komentar

BAGIKAN