Eti, Janda Tangguh yang Tak Kenal Lelah Mencintai Keluarganya

SAAT hari mulai gelap, Eti, janda paruh baya asal Kampung Cisalado, Kecamatan Karangpawitan, Garut, bukanya menikmati suasana beristirahat di rumah seperti kaum ibu kebanyakan. Dengan sisa sisa tenaganya, Ia masih harus berjibaku mengais rupiah dari pekerjaan beratnya sebagai kuli angkut bata merah. Tentunya menjadi kuli angkut ini seharusnya jadi pekerjaan untuk kaum pria.

Sudah 50 tahun silam, Mak Eti lahir terlahir dari pasangan keluarga amat sederhana di kampung yang mayoritas penduduknya bermata penharian sebagai buruh tani.

Al kisah, saat Eti berusia 16 tahun jatuh hati kepada Acep Sobandi, seorang pemuda alim di kampungnya. Berawal dari seringnya perjumpa di sebuah pondok mengaji, dari situ cerita kedekatan keduanya dimulai. Romantisme dan kisah kasih  terjalin dengan nuansa cinta khas santri.


Kisah kasihnya semasa muda hinga kini masih terpatri di benak Mak Eti, terlebih saat proses perkenalan hingga istikhoroh panjang yang dilanjutkan dengan ikrar setia di depan penghulu pada tahun 1982 an.

Dari hasil pernikahanya, Mak Eti dikaruniai 4 orang anak. Namun, ketika itu saat masih balita, putra pertamanya harus pergi lebih dulu dipangil sang Pencipta. Suryanto, Ade, dan Abdul adalah ketiga buah hati yang tersisa hingga kini.

Dahulu Kehidupan mereka tergolong bahagia. Keseharianya nyaris penuh senyum dan kasih sayang. Secuil harta dari hasil pekerjaanya sebagai buruh tani selalu disyukurinya. Meski jauh dari kata berkecukupan. Namun, kekuatan cinta merekalah yang menjadikan sumber kebahagiaan bagi mereka saat itu.

Tatkala takdir pahit tiba pada tahun 2004, sang suami tercinta yang dikenal taat beribadah itu meninggal dunia akibat didera penyakit akut.

Hari hari pascakepergian suaminya, kini kerap menjadi warna pilu kehidup Mak Eti. Rona kesedihan tampak tak dapat disembunyikan, kala Mak Eti mengisahkan perjalanan hidupnya. Suaranya terbata seraya menitikan air matanya. Saat menuturkan kisah kehidupannya bersama mendiang suaminya, tampak mengisyaratkan cintanya yang begitu besar pada almarhum.

Sepeninggalan suaminya, petualanganya merangkap sebagai seorang bapak bagi ketiga orang bua hatinya mulai ia jalani. Pekerjaan apapun ia lakukan demi mendapatkan sesuap nasi, termasuk menjadi seorang kuli angkut bata merah.

Meski disadarinya pekerjaan itu adalah berat dan pada umumnya ditekuni kaum pria. Akan tetapi, desakan nuraninya untuk dapat menyekolahkan ketiga anaknya begitu kuat. Sehingga, pekerjaan berat itupun mau tidak mau harus dijalaninya dengan penuh keikhlasan.

Tak jarang sekujur tubuhnya harus didera rasa sakit akibat beban berat yang dipikulnya. Namun lagi lagi saat melihat buah hatinya terlelap, Ia merasa terpacu, seakan hilang rasa sakit. Cita-citanya begitu mulia ingin agar buah hatinya bisa bersekolah setinggi mungkin.

Ia berharap, ketiga anaknya yang kini masih duduk di bangku SD dan SMP bisa terus bersekolah. Saking inginnya mewnyekolahkan anak anaknya, bahkan Mak Eti mengaku bermimpi dapat menyekolahkan anak anaknya hingga sekolah tinggi.

“Tong siga Ema, aranjeun mah kudu soleh tur pinter jaga,” Harapnya, penuh doa.

Diakuinya, dari hasil pekerjanya sebagai kuli angkut tersebut, Mak Eti mendapat penghasilan Rp 30 ribu, sehari. Itupun kalau tidak saat musim penghujan. Jika musim hujan datang, proses produksi bata menjadi lebih lama yang otomatis membuatnya sering tak mendapat pekerjaan.

Jika saat sepi pekerjaan, Ia harus berpikir keras agar keluarganya bisa tetap makan. Tak jarang Mak Eti terpaksa menawarkan pekerjaan lain seperti membantu menjadi buruh tani di sawah ataupun membantu pekerjaan rumah tangga tetangganya.

Menjadi tenaga kuli angkut bata merah memang bukanlah perkara mudah, terlebih bagi kaum ibu seperti Mak Eti. Pekerjaan tersebut tak mengenal waktu. Bila sang majikan membutuhkan jasanya bisa kapan saja, mungkin subuh hari bahkan bisa sampai hari sudah menjadi gelap.

Alhamdulillah, suka dapat 30 ribu sehari. Emak bisa bawa pulang untuk membeli beras dan sedikit lauk pauk. Sisanya untuk bekal sekolah ketiga jagoan Emak. Walau tidak besar namun halal dan disyukuri saja seperti amanah almarhum suami Ema. Kini anak-anak bisa masih tetap bersekolah meski kadang diberi uang jajan kadang tidak. Kalo soal berat atau tidak, diniatkan saja ibadah dan demi anak,” ungkapnya, lirih.

Mak Eti kini tercatat sebagai warga kurang mampu di kampungnya. Ia setiap bulanya mendapat jatah raskin dari desa. Lama menjanda sejak usia 38 tahun tak lantas membuatnya menyerah dan putus asa. Apapun yang terjadi, menurutnya akan ditempuh demi kecintaan terhadap buah hatinya. Baginya masa depan mereka adalah segalanya.

Suasana mengharu biru semakin menjadi. Tiba-tiba air mata Mak Eti tak tertahan mengalir deras. Disampaikanya penuh kesedihan bahwa Ia harus tetap bisa berjuang hidup sendirian memilih janji setia pada almarhum suaminya.
“Ingat sama almarhum suami Ema. Rasa sayangnya luar biasa. Anjeuna anu jadi sumber sumanget keur Ema. Kini bapak sudah tiada.Ema hanya bisa menyebutnya dalam doa setiap habis sholat. Semoga almarhum mendapat tempat yang mulia. Ema di sini telah memegang teguh janji setia.” Tuturnya, seraya menyeka air mata.(Doni Melody)***

Editor: Kang Cep.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI