Empat Fakta Perbuatan Sensen Komara yang Menyimpang

Sensen Komara

Garut, (GE).- Mengaku sebagai rasul akhir zaman, nama Sensen Komara kembali mencuat. Sebenarnya, Sensen Komara membuat kegaduhan seperti itu bukan kali pertama. Bahkan, Sensen Komara pernah diseret ke meja hijau lantaran mendeklarasikan Negara Islam Indonesia (NII) di kawasan Bababakan Cipari, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Berdasarkan rangkuman ‘GE” ada empat peristiwa yang membuat nama Sensen Komara ikut terlibat di dalamnya. Peristiwa itu adalah, Sensen Komara pernah deklarasi NII, Mengintruksikan pengikutnya salat menghadap ke timur, Membuat kalimah syahadat baru dan majlis Hakin Pengadilan Negeri Garut memutus vonis Sensen Komara agar direhabilitasi karena mengidap gangguan jiwa stadium III.

Deklarasi Negara NII

SEJUMLAH pengikut NII saat menjalani pemeriksaan di Mapolres Garut.*

Kasus itu bermula pada 2011 silam. Pada 7 Agustus kala itu, Sensen bersama sejumlah pengikutnya memperingati hari kelahiran Negara Islam Indonesia di kediamannya di kawasan Babakan Cipari, Pangatikan, Kabupaten Garut.

Aksi itu membuat heboh warga Garut. Polisi turun tangan dan menangkap Sensen. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, Sensen kemudian disidang. Lalu pada Juli 2012, Pengadilan Negeri Garut menjatuhkan vonis terhadap Sensen.

Sensen terbukti bersalah melakukan makar dan penistaan agama. Namun majelis hakim menilai, perbuatan yang dilakukan Sensen kala itu tidak bisa dipertanggungjawabkan secara hukum lantaran Sensen telah terbukti mengalami gangguan jiwa.

Akhirnya, saat itu majelis hakim memvonis Sensen untuk menjalani pengobatan jiwa di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

Terlepas benar atau tidaknya Sensen mengalami gangguan jiwa, pengikut Sensen berjumlah ribuan orang. Hal itu sempat dibenarkan oleh salah seorang pengikut Sensen bernama Iwan (54).

Salat Menghadap Timur

Salat menghadap ke timur

Praktik salat menghadap arah timur, ternyata benar-benar dilakukan oleh para pengikut Wawan Setiawan yang juga pengikut Sensen Komara. Mereka yang menamai organisasinya Negara Islam Indonesia (NII). Salah seorang pengikutnya, Iwan, tanpa canggung melakukan salat dzuhur menghadap ke timur.

Berdasarkan pantauan “GE”, saat itu, Iwan melakukan salah dzuhur di Musala Mapolsek Pakenjeng, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Ia melakukan salah saat istirahat usai mengikuti pemeriksaan di Mapolsek Pakenjeng. Saat itu, sejumlah warga menunaikan ibadah salat dzuhur menghadap ke kiblat (barat/red). Sementara Iwan menghadap ke sebelah timur.

Usai melakukan ibadah, “GE” sempat berbincang dengan Iwan. Menurut Iwan, salat menghadap ke arah timur merupakan syariat NII. Jadi semua pengikut NII harus salat menghadap ke timur.

“Ini kan salat NII. Kalau menghadap barat (kiblat) itu kan salatnya NKRI,” ujar Iwan, dengan nada serius, saat ditemui di Mapolsek Pakenjeng, Senin (27/3/17).

Iwan mengaku, telah menunaikan salat menghadap ke timur sejak seminggu lalu. Ia menandaskan konsistensinya dalam melaksanakan syariat NII.

Saat ini, Iwan sedang menjalani pemeriksaan di Mapolsek Pakenjeng. Ia diduga telah melakukan penistaan agama.

Diberitakan sebelumnya, Warga Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, Jawa Barat, kembali digegerkan dengan munculnya dugaan aliran sesat. Kali ini, Wawan Setiawan  yang berulah. Wawan yang mengaku Jendral Bintang Empat Negara Islam Indonesia (NII) itu, bahkan telah mengirimkan surat kepada Pemerintah Republik Indonesia melalui pemerintahan Desa Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng.

Menurut Kepala Desa (Kades) Tegalgede, Kartika Ernawati, surat tersebut diantarkan langsung ke Kantor Desa Tegalgede oleh Iwan, Jumat (17/3/17). Surat tersebut berupa pemberitahuan dan permintaan izin dari Wawan Setiawan untuk melaksanakan praktek salat Jumat dengan arah menghadap ke timur. Rencananya salat Jumat dilaksanakan di Musala Situ Bodol, Desa Tegalgede.

Menyikapi gelagat yang dinilai membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tersebut, Kartika segera melaporkan perihal surat yang ia terima kepada Muspika Pakenjeng, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat.

Membuat Kalimah Syahadat Baru

Kalimah syahadat baru

Satu keluarga di Garut ikrar menjadi pengikut Sensen Komara yang mengaku sebagai rasul akhir zaman. Dalam surat yang beredar tertanggal 20 November 2018, Hamdani beserta empat anggota keluarganya membubuhkan tanda tangan di atas materai. Dalam surat yang ditulis tangan itu, Hamdani dan keluarganya mengakui Sensen sebagai rasul Allah.
Sensen Komara

Pernyataan, Hamdani dan anggota keluarganya itu, diyakinkan dengan tulisan kalimah syahadat. Kalimah syahadat yang dituliskan dalam surat itu berbunyi.

“Ashadu Anla Ilaha Illaloh Wa Ashadu Anna Bapak Drs. Sensen Komara Bin Bapak Bakar Misbah Bin Bapak KH Musni Rosulalloh,” tulis Hamdani.

Surat itu ditembuskan Hamdani kepada aparatur pemerintah. Mulai dari Ketua RT sampai Presiden Indonesia, serta TNI dan Polri.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Wahyudijaya, menyebut sudah mendapat informasi terkait Hamdani yang mengakui Sensen sebagai rasul. Pernyataan itu juga sudah ditanggapi MUI Kecamatan Caringin dengan membuat laporan ke Polsek Caringin.

“Sekarang sudah diproses. Kami juga sudah pantau aktivitas Hamdani,” ujar Wahyu di Lapangan Setda Pemkab Garut.

Wahyu mengatakan, Sensen bukan orang baru di Kabupaten Garut. Ia sudah dikenal karena sempat mengaku sebagai nabi sekitar tahun 2011. Pengikut Sensen diklaim mencapai ribuan orang.

Wahyu, menyebut pihaknya mempertanyakan kembali hukuman inkrah kepada Sensen yang disebut alami gangguan jiwa.

“Dulu memang ada rekomendasi dari psikiater bahwa dia gila. Tapi kok masih ada aktivitas yang dilakukan oleh Sensen,” ujar Wahyu di Lapangan Setda Pemkab Garut, Senin (3/12/2018).

Menurut Wahyu, MUI Garut sudah mewacanakan kembali putusan pengadilan kepada Sensen. Pihaknya meminta kepada Badan Koodinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) untuk menerbitkan rekomendasi terkait aliran sesat Sensen.

“MUI sudah pertanyakan kembali serta akan menggugat keputusan pengadilan yang menyatakan Sensen keluar dari jeratan hukum,” katanya.

Bukan hanya mengaku sebagai rasul, Wahyu menyebut Sensen juga mengikrarkan diri sebagai seorang presiden. Secara intensif, pihaknta terus memantau aktivitas Sensen dan pengikutnya.

Sensen telah diadili pada tahun 2012. Majelis hakim menyatakan ia bersalah. Namun seluruh perbuatannya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pasalnya dari hasil pemeriksaan dokter, Sensen mengalami gangguan jiwa.

Majelis hakim akhirnya memutuskan Sensen untuk menjalani perawatan di rumah sakit jiwa selama satu tahun.

Sebelum nama keluarga Hamdani di Caringin muncul sebagai pengikut Sensen, pada 2017 ada nama Wawan Setiawan (52), warga Desa Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng. Ia mengaku sebagai jenderal bintang empat Negara Islam Indonesia (NII). Wawan juga menjadi pengikut Sensen.

Wawan akhirnya dicokok polisi dan menjalani persidangan. Majelis hakim memutuskan Wawan bersalah karena terbukti melakukan perbuatan makar dan penodaan terhadap agama. Ia dihukum 10 tahun penjara.

Ia juga mengubah arah salat dari barat ke timur. Bahkan saat diperiksa di Mapolsek Pakenjeng, Wawan mempraktikan salat menuju ke timur.

Meski Sensen telah dicap mengidap gangguan jiwa, ajarannya tetap menyebar luas. Hingga kini, masih ada yang mengakui Sensen sebagai rasul.

Mengidap Penyakit Gangguan Jiwa Stadium Tiga

Kajari Garut, Azwar

Pengaku rasul akhir zaman, Sensen Komara, ternyata mengidap penyakit yang sulit disembuh. Berdasarkan keterangan ahli dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Garut, Sensen Komara ternyata mengidap penyakit gangguan jiwa stadium tiga.

“Sesuai putusan hakim, Sensen telah dieksekusi untuk menjalani rehabilitasi di rumah sakit jiwa. Eksekusi dilakukan pada bulan Desember 2012,” kata Kepala Kejari Garut, Azwar, saat ditemui di kantornya, Selasa (4/12/18).

Kajari menandaskan, Sensen dieksekui enam bulan setelah vonis majelis hakim.

“Jadi tidak benar kalau ada pernyataan tidak pernah dieksekusi,” ucap Kajari.

Dalam sidang, kata Kajari, dia terbukti bersalah melakukan perbuatan makar dan penistaan agama. Hanya saja dari saksi ahli, Sensen mengidap penyakit kejiwaan.

Menurut ahli, kata Kajari, penyakit Sensen sulit disembuhkan. Oleh sebab itu, hakim akhirnya memutuskan Sensen direhabilitasi selama satu tahun di RSHS Bandung.

“Sensen pernah menjalani pengobatan di RSHS. Kemudian di rawat di RSJ Cisarua,” ungkap Kajari.

Setelah menjalani perawatan di RSJ Cisarua, pada akhir tahun 2013 Sensen keluar dari rumah sakit. Putusan pengadilan pun telah tuntas dilakukan.

Azwar mengaku jika MUI pernah menanyakan terkait pidana umum kepada Sensen. Menurutnya, Sensen memang tak bisa dipenjara.

“Putusan hakim sudah jelas kalau Sensen harus direhabilitasi. Itu semua sudah dilakukan dan tuntas. Perintahnya untuk obati dan rehabilitasi,” ucapnya.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI