Elva : “Duduk Bersama Cara Terbaik Selesaikan Permasalahan Pasar Limbangan”

KISRUH Pasar Limbangan tak kunjung menemukan solusi. Langkah mediasi kerap berujung kegagalan. Bahkan langkah yang ditempuh selama ini seakan-akan semakin memperuncing permasalahan yang ada.

Menanggapi permasalahan tersebut, Direktur PT Elva Primandiri, Elva Waniza mengatakan dengan batalnya pertemuan mediasi hari ini. Ia diberi arahan oleh Bupati agar bersilaturrahmi dengan warga dan tokoh masyarakat Sindang Anom. Ia mengaku akan segera melaksanakan hal tersebut dan menerima masukan yang diberikan oleh Bupati Garut Rudy Gunawan.

“Lapangan Pasopati tidak ada masalah dengan kami karena kami akrab dengan lingkungan disana. Tapi kami menyadari kekurangan dimana belum bersilaturrahmi intens denga warga Sindang Anom dan kami akan segera bersilaturrahmi dan menjelaskan apa yang bisa kami jelaskan terkait pasar ini,” ujarnya.

Terkait adanya ketakutan warga Sindang Anom berkurangnya kapasitas air karena pembuatan sumur bor, Elva menyebutkan jika sumur bor yang dibuat dangkal, berkapasitas kecil, namun menggunakan teknologi tinggi. Yang dibesarkan di pasar bukanlah sumurnya, namun bak penampungannya sehingga bisa meng-cover pedagang dan pembeli di pasar limbangan.

“Kalau untuk pembuatan sumur artesis harus ada ijin dari provinsi, namun yang jelas kami sangat memperhatikan lingkungan sekitar dalam proses pembuatan dan keberlangsungan pasar ke depannya. Untuk masalah sampah, polusi, getaran dan lainnya kami sudah berusaha menggunakan teknologi yang bisa kami siapkan untuk mengurangi dampak yang ditakutkan,” katanya.

Hal lainnya terkait perizinan sebutnya, masalah Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) tinggal menunggu analisisi dampak lingkungan lalulintas (Amdal Lalin) sebagaimana tertera dalam peraturan kementrian perhubungan nomor 75 tahun 2015. Saat ini sudah ada tim di lapangan tengah menganalisa tentang rekayasa lalulintas yang bisa dilakukan di jalur yang melewati pasar Limbangan.

“IMB lama kita sudah ada, tapi disana hanya dilengkapi UPL dan UKL sehingga di PTUN IMB milik kita terkoreksi karena harus ada Amdal, termasuk amdal lalin. Untuk Amdal Lingkungan sudah selesai dan tinggal menunggu Amdal Lalin saja, dimana kita mengikuti peraturan tahun terbaru dari kementerian,” sebutnya.

Ia berharap agar IMB bisa diselesaikan bulan Februari ini sehingga para pedagang bisa menempati tempat berjualan yang baru. Jika IMB sudah dikeluarkan oleh BPMPT, ia akan langsung mengedarkannya kepada pedagang sehingg segera pindah lokasi dari lokasi penjualan sementara.

“Masalah pindah ini sudah wajib karena menumpang di pasopati, dan yang akan kita mulai adalah komunikasi dengan para tokoh Sindang Anom. Jangan sampai ketika pindah ga ada warga yang datang karena pasti diundang,” sebutnya.

Menurut Elva, pihaknya suda meminta agar dari sebelumnya para pedagang bisa pindah ke lokasi yang ada karena bangunan bisa dikatakan sudah siap. Namun batalnya kepindahan yang dilakukan kemarin-kemarin menurutnya ada hal positifnya sehingga bisa menyiapkan lagi dengan maksimal segala kekurangan termasuk meminimalisir ketakutan warga terkait lingkungan.
“Sebetulnya saya tidak tega dengan nasib pedagang dan sangat sering bertanya kepada kami kapan pindah? Kami sudah merugi berjualan di pasar sementara dan suka ada gangguan. Kami juga sudah tidak enak dengan yang punya lapangan karena ingin segera dijadikan tempat main bola oleh pemuda dan santri pesantren,” ungkapnya.

Setelah pedagang nanti pindah, Elva berjanji akan memugar lapangan menjadi lebih baik dan representatif untuk sepak bola. Selain itu akses menuju lapangan berupa jalan desa pun akan ikut diperbaiki dengan cara diaspal.

“Saat ini kondisi bangunan sudah dalam tahap finishing, dan dalam melengkapi semua yang harus kita siapkan. Untuk permasalahan-permasalahan yang selama ini muncul karena adanya yang kurang sejalan, alangkah baiknya kita duduk bersama mencurahkan segala hal yang di inginkan sehingga ada solusi yang baik juga tidak ada yang dirugikan,” ucapnya. Farhan SN***