Eksistensi Kerbau Pembajak Sawah Terancam Punah

Ate (43) pemilik kerbau, saat membajak sawah milik petani di kawasan Kampung Cianten, Desa Cigawir, Kecamataan Selaawi, Kabupaten Garut, Minggu (14/01/2018)/ foto: Rangga/GE.

GARUT, (GE).- Seiring perkembangan zaman dan pesatnya tekhnologi, eksistensi kerbau pembajak sawah mulai terkikis. Saat ini pemilik kerbau yang mengandalkan penghasilan dari jasa membajak sawah mengeluh akibat penghasilannya berkurang derastis.

Ate (43), salah seorang pemilik kerbau di kawasan  Kampung Cianten, Desa Cigawir, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut mengaku akhir-akhir ini kerap menganggur gara-gara lahan pekerjaanya tersisih pemilik traktor.

Diakuinya, sejak adanya traktor di kampungnya yang menggunakan jasa kerbau pembajak hanya beberapa petani saja. Petani menggunakan jasa kerbau hanya alternatif saja, di lahan yang sulit terjangkau traktor.


“Dalam semusim paling satu atau dua petani yang menyuruh saya( menggunakan jasa kerbau) mengolah sawahnya,” ungkapnya, Minggu (14/01/2018).

Dengan minimnya pengguna jasa kerbau, kini Ate terpaksa harus memenuhi kebutuhan sehari-harinya dari pekerjaan lain. ” Kalau tidak ada yang nyuruh (membajak/red.) saya harus mencari kerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari hari,” katanya.

Dijelaskannya, upah untuk pembajak dengan tenaga kerbau saat ini Rp 100.000, dari pagi sampai adan dzuhur.  Sementara itu, jasa membajak dengan traktor dihitung dari luasnya sawah dengan pengerjaan secara borongan, sampai selesai.

Dengan upah yang tidak jauh beda, jelas para petani lebih memilih traktor untuk membajak sawahnya. Terlebih dengan traktor pengerjaan membajak sawah bisa lebih cepat. Tak heran dengan keberadaan mesin pembajak sawah ini,  pemilik usaha membajak sawah tradisional terancam punah. (Rangga)***

Editor: Kang Cep.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI