Duh, Rutan di Garut Sudah Penuh

ILUSTRASI/ ISTIMEWA

NARAPIDANA (Napi) penghuni Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B saat ini sudah disesaki warga binaan dari berbagai kasus. Kondisi rutan ini sudah memprihatinkan, akibat melebihi kapasitas (over capacity). Disamping itu, jumlah petugas yang mengurus ‘ hotel prodeo’ ini juga tak sebanding dengan jumlah Napi yang terus bertambah.

Demikian diungkapkan Kepala Rutan Kelas IIB Garut, Sopian, usai Penandatanganan MoU bersama Sekolah Tinggi Hukum Garut dan Sekolah Tinggi Agama Islam Persatuan Islam Garut, di aula Rutan Garut di Jalan Dewi Sartika, Selasa (17/11/2015).

Dikatakanya, Rutan ini hanya berkapasitas 175 orang saja, sementara jumlah warga binaan saat ini mencapai 195 orang.

“Kami hanya memiliki 31 orang pengawas, sedangkan jumlah warga binaan telah mencapai 195 orang. Idealnya satu orang pengawas mengawasi 4 orang saja,” ungkapnya, di hadapan sejumlah awak media.

Meski dengan segala keterbatasan yang ada saat ini, Sopian mengaku, pihaknya berupaya menjalankan tugasnya secara maksimal.

Sopian menjelaskan, jika ada masalah dengan warga binaan, pihaknya langsung melakukan pendekatan secara persuasif sehingga masalah bisa cepat terselesaikan. “Cara-cara seperti ini ternyata mampu mengatasi keterbatasan yang ada baik masalah sarana ataupun jumlah personil.” Tukasnya.

Sopian menyebutkan, hampir semua warga binaanya adalah mereka yang berasal dari Kabupaten Garut. Hanya 5 orang warga binaan saja yang merupakan warga dari luar Garut akan tetapi mereka terlibat masalah hukum yang TKP-nya berada di wilayah Kabupaten Garut. Mereka berasal dari daerah Sumatra Utara yang terjerat kasus perjudian di Garut.

Sopian mengaku, berkat pembinaannya secara rutin, saat ini tingkat keterampilan warga Rutan tersebut semakin baik.

“Warga binaan kita sudah bisa membuat berbagai karya seperti pembuatan kanopi, berbagai macam kerajinan tangan, dan yang paling ahli adalah kerajinan dengan menggunakan las, seperti tempat menyimpan pot besi dan lain sebagainya,” kata Sopian.

Para warga binaan pun katanya, bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Namun karena terkadang alatnya tidak ada, si pemesan bisa meminjamkan peralatannya terlebih dahulu ke Rutan untuk digunakan oleh warga binaan ini.

“Ya, kalau pesan seperti misalkan merchandise di perkawinan warga binaan kami Insya Allah bisa, daripada harus pesan ke yang mahal, kami jamin di Rutan ini harganya jauh lebih murah,” ucapnya.

Disinggung MoU dengan STHG dan STAIP Garut, Sopian mengatakan bahwa hal ini dilakukan agar para mahasiswa dari kedua sekolah tinggi tersebut bisa mengais ilmu di Rutan. Begitupun petugas yang di Rutan yang pendidikannya masih belum cukup, bisa bersekolah di kedua sekolah tinggi tadi. Hal ini sangat penting untuk menunjang SDM petugas agar mempunyai wawasan yang mumpuni dalam masalah hukum atau ilmu keagamaan.

“Saya sangat benci terhadap anak muda yang bodoh dan tak mau belajar. Makanya saya dorong para petugas di sini untuk terus menuntut ilmu meskipun mereka juga disibukan dengan pekerjaannya,” tandasnya.

Diungkapkannya, saat ini sudah ada sekitar 16 orang petugas Rutan Garut yang bersekolah di STHG. Hal ini diharapkan bisa meningkatkan wawasan mereka dalam bidang hukum yang tentunya sangat erat kaitannya dengan tugas yang mereka pikul.

Sementara itu Ketua STHG, Djohan Djauhari, berharap, dengan dijalinnya kerjasama antara STHG dengan pihak Rutan Garut ini diharapkan bisa memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Keberadaan Rutan bisa dijadikan sebagai bahan penelitian bagi para mahasiswa STHG sehingga mereka bisa memperluas wawasannya. Begitu juga halnya, pihak Rutan bisa memanfaatkan keberadaan STHG sebagai mitra dalam upaya pembinaan terhadap para warga binaan.

“STHG juga kan ada lembaga pembantuan hukum yang bisa juga dimanfaatkan oleh pihak Rutan. Kami juga bisa memberikan sosialisasi terkait permasalahan-permasalahan hukum terhadap warga binaan di Rutan ini sehingga baik Rutan maupun STHG sama-sama diuntungkan dengan adanya kerjasama seperti ini,” komentar Djohan.

Hadir dalam acara penandatanganan Mou antara Rutan Kelas IIB Garut dengan STHG serta STAIPI Garut ini antara lain sesepuh Yayasan STHG, Hj Itje Fatimah Momon, serta sejumlah dosen di antaranya Diah Puspitasari, Mahyar Swara, serta Tomi.

(Farhan. SN)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI

Komentar

BAGIKAN