Duh, Penyebaran HIV/Aids di Garut Meningkat Tahun Ini

TARKA, (GE). – Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Garut menyatakan, tren penyebaran penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Garut tahun ini mengalami peningkatan cukup signifikan dibanding tahun 2015. Selain dari jarum suntik, penyebaran HIV kini banyak yang berasal dari penyuka sesama jenis.

Menurut Pengelola Program KPA Kabupaten Garut, Guntur Yana Hidayat, tahun lalu hingga bulan September pihaknya hanya menemukan 31 orang yang terjangkit HIV. Namun di tahun ini pada bulan yang sama, telah tercatat 61 orang yang terpapar HIV.

“Peningkatan kasusnya mencapai dua kali lipat di tahun ini. Dan rata-rata yang terjangkit itu masih usia produktif,” ujar Guntur di Cipanas, Tarogong Kaler, Garut, Kamis (27/10/2016).


Penyebaran HIV, lanjut Guntur, sangat mudah terjadi pada lelaki sex lelaki (LSL) alias gay. Dari hasil pendataan di tahun 2015, jumlah LSL di Garut mencapai 3.300 orang. Per bulannya ada satu sampai dua orang yang terjangkit HIV.

“Data itu baru di sekitar perkotaan saja. Belum di kawasan pelosok Garut. Dari ribuan LSL itu, sudah ada 40 orang yang terjangkit HIV. Bahkan bisa lebih,” katanya.

Perkiraan dari Kementerian Kesehatan tahun 2012, tutur Guntur, jumlah LSL di Garut mencapai 12 ribu orang. Pendataan yang dilakukan pada tahun 2015 dilakukan oleh lima petugas.

“Komunitas ini (LSL) memang sangat rentan terinfeksi HIV. Makanya kami terus melakukan sosialisasi agar penyebarannya tak meluas,” ucapnya.

Menurut Guntur, kebanyakan orang yang menyebarkan HIV 50 persen merupakan warga Garut yang pernah bekerja di luar kota. Saat kembali ke Garut, mereka mengajak orang yang dikenalnya untuk berperilaku seperti lingkungannya di luar Garut.

Ketua Tim Advokasi Penanggulangan TB-HIV Aisyiyah , Reza Alwan Sovnidar, menyebut jika semua pihak mempunyai tanggung jawab untuk memberi pemahaman kepada masyarakat. Jangan sampai para pengidap HIV malah dikucilkan dari lingkungan.

“Harus ada respon dan respek dari warga. Jika ada yang terjangkit bukan dijauhi tapi harus dirangkul. Makanya harus ada perubahan stigma,” kata Reza. (Slamet Timur). ***

Editor: Kang Cep.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI