Duh! Disbudpar Garut “Bajak” 3 Judul Buku Sekaligus

KOTA,(GE).- Sedikitnya tiga judl buku mengenai kebudayaan Kabupaten Garut, karya Drs. Warjita yang dicetak pada tahun 2007, dikabarkan telah “dibajak” pihak yang tidak bertanggung jawab.

Ke 3 judul buku karya Warjita ini diantaranya, Ensiklopedi Kebudayaan Garut, Dongeng Dongeng Pakidulan Garut serta Dokumentasi Bangunan Warisan Budaya Kabupaten Garut.

Dugaan “pembajakan” tiga judul buku ini diakui oleh Warjita. Ia menyebutkan, bahwa pihak Disbudpar Garut telah memperbanyak ke 3 judul buku itu, tanpa sepengetahuan dirinya.

“Ya,sebagai penulis buku tersebut, saya sama sekali tidak mendapatkan pembertahuan dari pihak Disbudpar. Tahu-tahu, buku itu telah diperbanyak untuk keperluan tertentu. Itu kan melanggar hak cipta,” Ungkapnya. Rabu (31/12/2015).

Warjita yang saat ini merupakan pegawai di Dinas Pemuda dan Olahraga (DISPORA) Kabupaten Garut, mengaku kaget setelah mengetahui bahwa 3 judul buku hasil karyanya itu telah dicetak ulang dan diperbanyak.

Namun sampai saat ini Warjita mengaku tidak tahu persis berapa jumlah eksemplar buku yang di perbanyak itu. Tetapi, dirinya sudah tahu, bahwa yang sudah dianggap melanggar hak cipta dirinya, ialah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Garut.

“Sebenarnya saya tidak keberatan, jika sebelum melakukan cetak ulang atau memperbanyak buku-bukunya tersebut, pihak Disbudpar meminta izin kepadanya. Jangankan minta izin, saat ini saja setelah saya tahu semuanya, tidak seorangpun datang dan ngomong pada saya perihal cetak ulang buku karya saya itu.” Jelasnya.

Ia menambahkan, ini semua bukan hanya tentang pelanggaran hukum saja. Tapi etika dan kehormatan seorang penulispun serasa tak dihargai.

Sementara itu, Kepala Seksi Nilai Tradisional Disbudpar Garut, Wawan somarwan, secara gamblang mengakui jika pada tahun 2014, telah memperbanyak tiga judul buku karya Warjita ini. Ia berlasan, memperbanyak buku- buku ini karena banyaknya permintaan dari berbagai pihak.

“Kita (Disbudpar/red) memperbanyaknya karena memang bayak permintaan beberpa pihak. Memang selama ini belum pernah meminta izin kepada yang bersangkutan (Wartjita).” Tukasnya.

Menanggapi tudingan tentang pelanggaran hak cipta, Wawan menuturkan, semua itu akan diselesaikan dengan cara mediasi dengan Warjita, karena di Disbudpar sendiri sudah membahasnya secara bersama.

Wawan tidak mengatakan kapan mediasi yang dijanjikannya itu akan dilakukan, dan jumlah eksemplar buku yang diperbanyakpun tidak menyebutkannya.

“Untuk jumlah buku yang diperbanyak, nanti saya hitung dulu,” tukasnya. (Useu G Ramdani)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI

Komentar

BAGIKAN