Ditanya Soal Pembajakan Buku oleh Disbudpar, Bupati Garut Plengak-plinguk

KOTA,(GE).- Informasi terkait pembajakan tiga buku karangan Drs. Warjita oleh Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Garut terus mengemuka. Bahkan pihak Disbudpar pun secara terbuka mengakui kalau tiga judul buku karangan Warjita diperbanyak tanpa sepengetahuan pengarangnya. Namun meski begitu, sampai saat ini belum ada kata islah antara Disbudpar sebagai pembajak dan Warjita sebagai korbannya.

Malahan belakangan ini pihak Disbudpar kerap melayangkan pesan singkat kepada Warjita agar tidak usah memblowup di media massa. SelaIn itu, ada pesan singkat juga yang mengajak agar masalah ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

Meski informasinya sudah meluas, namun Bupati Garut mengaku belum mengetahui ada kasus pembajakan buku yang dilakukan Disbudpar. “Saya baru dengar ada kasus ini. Nanti saya cari tau dulu,” ujar Bupati sambil menunjukkan wajah heran.

Sambil berlalu dan wajah yang seolah tak percaya ia menyebutkan akan menelusuri kasus ini dan akan segera memanggil pihak Disbudpar. Rudy mengaku masih belum bisa menentukan sikap terkait kecerobohan Disbudpar yang telah membajak hak cipta milik warjita tersebut.

Diberitakan sebelumnya, tiga judl buku mengenai kebudayaan Kabupaten Garut, karya Drs. Warjita yang dicetak pada tahun 2007, dikabarkan telah “dibajak” pihak yang tidak bertanggung jawab.

Ke 3 judul buku karya Warjita ini diantaranya, Ensiklopedi Kebudayaan Garut, Dongeng Dongeng Pakidulan Garut serta Dokumentasi Bangunan Warisan Budaya Kabupaten Garut.

Dugaan “pembajakan” tiga judul buku ini diakui oleh Warjita. Ia menyebutkan, bahwa pihak Disbudpar Garut telah memperbanyak ke 3 judul buku itu, tanpa sepengetahuan dirinya.

“Ya,sebagai penulis buku tersebut, saya sama sekali tidak mendapatkan pembertahuan dari pihak Disbudpar. Tahu-tahu, buku itu telah diperbanyak untuk keperluan tertentu. Itu kan melanggar hak cipta,” Ungkapnya. Rabu (31/12/2015).

Warjita yang saat ini merupakan pegawai di Dinas Pemuda dan Olahraga (DISPORA) Kabupaten Garut, mengaku kaget setelah mengetahui bahwa 3 judul buku hasil karyanya itu telah dicetak ulang dan diperbanyak.

Namun sampai saat ini Warjita mengaku tidak tahu persis berapa jumlah eksemplar buku yang di perbanyak itu. Tetapi, dirinya sudah tahu, bahwa yang sudah dianggap melanggar hak cipta dirinya, ialah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Garut.

“Sebenarnya saya tidak keberatan, jika sebelum melakukan cetak ulang atau memperbanyak buku-bukunya tersebut, pihak Disbudpar meminta izin kepadanya. Jangankan minta izin, saat ini saja setelah saya tahu semuanya, tidak seorangpun datang dan ngomong pada saya perihal cetak ulang buku karya saya itu.” Jelasnya.

Ia menambahkan, ini semua bukan hanya tentang pelanggaran hukum saja. Tapi etika dan kehormatan seorang penulispun serasa tak dihargai. Farhan SN***