Diserang di Media Sosial, PHRI Minta Pemkab Garut Segera Benahi Sektor Wisata

BURUKNYA pengelolaan sektor wisata di Kabupaten Garut sedang mendapat sorotan masyrakat di Indonesia. Terutama mahalnya tarif berwisata dan banyaknya pungutan liar di sejumlah tempat wisata.

Sekjen Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Garut, Tanto Reza, mengatakan sebagai pengusaha hotel dan restoran yang tergabung ke dalam PHRI tentunya merasa dirugikan dengan beredarnya pernyataan berwisata di Garut mahal. Padahal, PHRI sendiri telah menetapkan patokan kenaikan tarif yang sudah disesuaikan dengan kebanyakan hotel dan restoran lainnya.

“Waktu libur panjang idul fitri kemarin, PHRI telah mengimbau kepada anggota agar jangan menaikkan tarif melebihi 100 persen. Standar itu sudah sama dengan hotel dan restoran di seluruh Indonesia di saat libur panjang seperti kemarin,” ujar Tanto saat diwawancarai “GE”, Senin (18/7/2016).

Tanto melanjutkan, memang tidak semua hotel dan restoran tergabung ke PHRI. Pasalnya, untuk anggota PHRI hanya hotel dan restoran yang memiliki kelengkapan izin saja. Saat ini anggota PHRI tercatat sudah ada 136 hotel dan restoran.

Sejak status di media sosial itu menyebar, kunjungan hotel dan lestoran di Garut terus menurun. Ia mencontohkan, okupansi hotel selama musim libur Lebaran hanya mencapai 95 persen. Namun, menurutnya penurunan itu tak hanya dipengaruhi kabar yang tersebar di media sosial saja, kemacetan yang melanda selama arus mudik dan balik di jalur selatan pun ikut mempengaruhi.

Oleh sebab itu, Pemkab Garut harus segera respon terhadap kritik sosial yang tersebar melalui media sosial tersebut. Pasalnya, jika dibiarkan wisata di Garut akan semakin terpuruk.

“Pada dasarnya harus menjadi pemacu agar Pemkab segera berbenah,” kata Tanto.

Ia menambahkan, awalnya citra wisata mahal di Garut itu saat objek wisata Papandayan yang mematok tarif terlalu tinggi hingga berimbas terhadap objek wisata lainnya. Bahkan hotel dan lestoran pun terkena imbasnya.

Sementara itu, Bidang Humas, Promosi, dan Jaringan serta Informasi Teknologi Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia Badan Pengurus Cabang Kabupaten Garut Janur M Bagus menyebutkan, okupansi setiap hotel tidak merata, tetapi rata-rata 95 persen.

“Kenaikan tarif hotel saat musim libur panjang itu hal yang wajar. Tapi, biasanya setiap hotel pun memberikan paket-paket tambahan,” tuturnya.

Dia menjelaskan, saat ini sudah banyak hotel di Garut yang memiliki fasilitas lengkap untuk memanjakan para wisatawan, seperti fasilitas outbound, danau, restoran, dan kolam renang. “Kawasan wisata Darajat yang masih banyak pengunjungnya dan wisata petualangan, seperti Gunung Papandayan, Cikuray, dan Guntur,” ucapnya. (Farhan SN)***