Dinilai Banyak Keunggulannya, Petani Garut Mulai Melirik Labu Kabocha

GARUT, (GE).- Labu kabocha termasuk ke dalam labu musim dingin (winter squash) Japanese pumpkin varietas Cucurbita maxima dengan nama spesies Cucurbita maxima L (Brotodjojo, 2010). Menurut beberapa literatur, asal usul Kabocha diketahui dibawa oleh pelaut Portugis ke Jepang pada tahun 1541. Bangsa Portugis menyebutnya cambodia abobora yang kemudian disingkat oleh orang Jepang dengan “Kabocha”.

Labu Kabocha dari tampilan warna buahnya tampak mencolok dengan didominasi warna hijau di dukitnya dan orange pada dagingnya. Tak heran, labu ini begitu menggiurkan bagi penikmat buah. Selain warna dan rasanya yang memang khas, labu yang banyak dibudidayakan di ‘negeri matahari terbit’ ini diketahui banyak memiliki khasiat untuk kesehatan.

“Yang saya tahu labu ini memang banyak khasiatnya. Diantaranya menyembuhkan sakit maag, menurunkan lemak, kolesterol, reumatik, darah tinggi dan lainnya,” tutur Muhammad Tata, salah seorang pedagang labu Kabocha, di kawasan Samarang, Garut, Jumat (14/07/17).


Menurut Tata, labu jenis ini masih terbilang langka ditanam di kawasan dingin seperti Garut. “Pertumbuhannya bagus, saat ini baru pertama di daerah Samarang ini yang tanam di Garut,” katanya.

Meski baru dicoba dalam 6 bulan terakhir, menurut Tata, dalam dua kali panen, respon pertumbuhannya cukup baik. “Ya, proses tanamnya mudah juga harganya bagus,” tukasnya.

Diungkapkannya, untuk masa tanam hingga panen, labu Kabocha hanya membutuhkan waktu 3 bulan saja. Dengan relaif mudahnya menanam labu ini, tak heran banyak petani di Garut yang mulai meliriknya.

“Untuk masa percobaan ini, Sementara saya jual labu ini Rp 25- Rp 30 per biji. Alhamdulillah, lumayan laku,” tandasnya. “Paling banyak pembeli buat orang Cina dan Jepang, karena warha belum tahu hasiat dan kelembutan buah ini, coba kalau sudah pada tahu bakal seperti melon,” ujarnya.

Dengan beberapa keunggulannya, labu Kabocha kini sejumlah petani di Kampung Legok Pulus, Desa Suka Karya, Samarang, Garut, mulai banyakl yang tertairk untuk membudidayakannya. (Tim GE)***

Kang Cep.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI