Dililit Persoalan Keuangan, Persigar Ngadu ke Wakil Rakyat

Pengurus, pelatih dan pemain Persigar sedang menyampaikan keluhan kepada Komisi D DPRD Garut, Jumat (8/9/2017)./Foto : Alle/GE.

GARUT,(GE).- Keluh kesah pengurus, pelatih hingga pemain Persigar membuncah di ruang aspirasai Komisi D DPRD Garut, Jumat (8/9/2017). Dari mulai janji-janji Bupati Garut yang tak kunjung ditepati, serta tidak adanya dukungan moril maupun materil dari birokrasi.

Ketua Persigar, Dadang Johar Aripin, menjelaskan, Persigar masuk 16 besar Liga 3 Indonesia. Pihaknya sangat berat sekali membiayai tim apalagi babak 16 besar nanti akan digelar di luar kota. Bahkan, kalau di Subang akan lebih berat lagi dari segi budget karena harus menginap dan menyiapkan hal lainnya. “Untuk itu, kita curhat ke DPRD. Mudah-mudahan nyampai ke eksekutif,” kata Kepala SMKN I Garut ini.

Ditambahkannya, waktu pertandingan akhir penentuan lolos ke 16 besar di Stadion Wira Dadaha Tasik, yang pertama mengucapkan selamat itu justru Walikota Tasikmalaya, H. Budi Budiman. Sedangkan pejabat dari Garut tak satu pun yang datang padahal bertanding hari Minggu. “Alahmdulillah rekan wartawan, orang tua pemain dan bobotoh saja yang datang. Kami disana dilempari,” ucapnya.


Dadang berharap adanya peran serta Pemerintah Daerah dalam mendukung sepak bola di Kabupaten Garut. Khususnya Persigar yang satu-satunya tim dari Garut yang masih berlaga di Liga 3 Indonesia.

Dia juga berharap, para wakil rakyat khususnya komisi D DPRD bisa memfasilitasi Persigar guna mendapat dukungan baik moral maupun materi dari semua pihak termasuk Pemerintah Kabupaten Garut. Pasalnya, sampai saat ini peran serta Pemda ke Persigar nyaris tidak ada.

Dadang menyebut, eksistensi Persigar Garut di liga 3 patut menjadi suatu kebanggaan termasuk bagi Kabupaten Garut. Dengan berlaganya Persigar tentu membawa nama Kabupaten Garut di antaranya dalam prestasi olahraga sepakbola. Sudah selayaknya tim sepak bola kebanggaan Garut ini mendapat dukungan khususnya dari Pemda dalam meraih prestasi khususnya di Liga 3. “Yang saya tahu, berdasarkan aturan baru per tanggal 7 Februari 2017 lalu, tim yang berlaga di liga 3 bisa mendapat bantuan dari Pemerintah Kabupaten, karena masih terbilang klub amatir alias bukan professional,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Garut, Asep De Maman merasa ngeri dan prihatin mendengar curahan hati Pengurus dan pemain Persigar yang sengaja datang ke gedung dewan.

Mereka, lanjut Asep, mengungkapkan kepedihannya. Jangankan diberi bantuan oleh pemerintah, menggunakan lapangan Merdeka Kherkop saja waktu pertandingan putaran pertama berlangsung di Garut harus bayar sebesar Rp 5 juta. “Sungguh ngeri saya mendengarnya, lapang yang dipakai pertandingan putaran pertama di kerkof harus bayar Rp 5 juta. Artinya, ya keterlaluan saja. Terus terang saja, saya ngeri, sedih lah. Di rumah sendiri, kampung sendiri harus bayar. Kok bisa begitu yah,” ujarnya.

Asep berjanji akan mengkomunikasikan hal tersebut ke pihak terkait, agar hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi. Tidak ada salahnya Pemda memberi dukungan penuh kepada Persigar, terlebih sampai saat ini belum ada satu sponsor yang bersedia mensupport Persigar.

“Jadi begini, disana ada anak-anak muda Garut yang potensial tengah berjuang dan terus mengembangkan potensinya. Maka itu harus didukung penuh. Untuk itu kami siap dan akan menghadapi Bupati untuk bagaimana Persigar ke depannya. Mereka kan membela nama Garut,” katanya.(Alle)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI