Didirikan Sejak Tahun 1946, Kondisi Bangunan SDN 1 Dungusiku Memprihatinkan

Memprihatinkan. Salah satu ruang kelas SDN Dungusiku, di Kampung Babakan, Desa Dungusiku, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut./ foto: Asep Tansa/GE.***

GARUT, (GE).- SDN 1 Dungusiku yang berada di wilayah Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut kondisinya sangat pemrihatinkan. Beberapa bagian ruang kelas di SD tersebut tampak mulai retak-retak, beberapa kayu penyangga ruangan terlihat sudah rapuh dan keropos dimakan rayap. Bahkan, pada tahun 2015 lalu, atap ruang kelas SDN 1 Dungusiku sempat rusak parah diterpa angin puting beliung.

Seperti diketahui, SDN Dungusiku merupakan salahsatu sekolah tertua di Kecamatan Leuwigoong, sekolah ini tepatnya berdiri sejak Juni 1946. Sejak tahun tersebut, SDN Dungusiku belum mendapatkan perhatian secara khusus dari Pemerintah. Tak heran kondisinya begitu memprihatinkan.

Kepala SDN 1 Dungusiku, Hj Eneng Mistanti. M.Pd., menunjukan ruang kerjanya yang sempit./ foto: Asep Tansa/ GE.***

Dengan kondisi tersebut, SDN Dungusiku tentunya tidak begitu nyaman untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Pengelola seokalh berharap, pemerintah segera membantu untuk membenahi kondisi SDN Dungusiku 1, karena jika dibiarkan dikhawatirkan akan membahakayan KBM.


“Demi menjaga keamanan, dan kenyamanan para siswa sewaktu melaksanakan KBM, mereka saya pindahkan ke ruang kelas yang masih layak digunakan. Meskipun dengan terpakasa ada satu ruangan kelas digunakan menjadi dua kelas, yakni kelas satu dan kelas dua,” ujar Kepala SDN 1 Dungusiku, Hj. Eneng Mistanti. M.Pd., belum lama ini.

Diungkapkannya, untuk para teknis pendidikan (kepala sekolah dan para guru) saat ini terpaksa menempati ruangan sempit dengan ukurannya kurang lebih 1,5 x 5 m.

“Apabila mereka tidak segera dipindahkan, tentunya saya sangat khawatir sekali dan waswas bila suatu saat bangunan tersebut runtuh. Siapa lagi yang nantinya akan disalahkan? Tentunya saya sendiri selaku kepala sekolah. Soalnya, apapun yang terjadi di lingkungan sekolah, sepenuhnya tanggungjawab kepala sekolah,” ungkapnya.

Diakuinya, terkait kondisi SDN 1 Dungusiku yang memprihatinkan, pihaknya telah berupaya mengajukan permohonan, secara lisan kepada Pemerintahan Desa Dungusiku. Namun, bantuan pembangunan melalui pemerintahan desa, harus sesuai dengan hasil Musrenbangdes yang telah tertuang dalam buku Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes).

“Selain itu, saya telah mohon bantuannya kepada UPTD Pendidikan Kecamatan Leuwigoong, baik secara lisan maupun via proposal, supaya dilanjutkan kepada Kepala Disdik Kabupaten Garut. Dengan harapan supaya lebih diutamakan mendapat bantuan program anggaran Rehab Berat (RHB), pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) maupun ruang kantor, untuk SDN 1 Dungusiku yang sangat memprihatinkan,” keluhnya.

Sudah hampir tiga tahun lamanya, hingga saat ini belum ada perhatian secara khusus dari pemerintah Kabupatena Garut. Bahkan dari Dinas Pendidikan Garut belum ada bantuan program RHB maupun RKB untuk SDN 1 Dungusiku.

“Kami mengharapkan sekali kepada Bapak Kadisdik Kabupaten Garut, supaya memperhatikan secara khusus untuk pembangunan SDN 1 Dungusiku yang sangat memprihatinkan,” ujar Hj. Eneng Mistanti yang dijumpai di kantor SDN 1 Dungusiku yang sempit, di Kampung Babakan, Desa Dungusiku, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut. (Asep Tansa)***

Editor: ER.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI