Desa Situsari Berupaya Angkat Pamor Jeruk Garut

KARANGPAWITAN,(GE).- Bersama Kecamatan Wanaraja, Kecamatan Karangpawitan merupakan Sentra Budidaya Jeruk Keprok Garut sejak awal perkembangan komoditas yang menjadi ikon Garut ini. Pamor perkebunan jeruk keprok Garut di Karangpawitan mulai menurun sejak mewabahnya serangan penyakit citrus vein phloem degeneration (CVPD) terhadap tanaman jeruk pada tahun 1964.

Untuk menggelorakan kembali budidaya jeruk keprok garut pun dihadapkan kepada persoalan produktifitas. Dituturkan petani jeruk di Kampung Bojongsari Desa Situsari Kecamatan Karangpawitan, H. Sajili, yang ditemani rekannya, H. Oha dan H. Satibi, pohon jeruk keprok garut hanya menghasilkan 4-5 kg dengan periode panen hanya setahun sekali.

Tidak mengherankan, jika petani lebih memilih menanam jeruk keprok siem. Dari masa hidup yang bisa mencapai 10 tahun, masa produktifnya bisa mencapai 7 tahun. Selain itu, masa panennya lebih cepat, yakni setelah pohon berusia 1,5 tahun.

Setelah panen perdana itu, setiap 10 hari, 15 hari, 20 hari, atau 30 hari, petani tidak ada hentinya panen raya. Hasilnya, per sekali panen dari satu pohon bisa menghasilkan 40 kg sampai 1 kwintal.

Harga jual jeruk keprok siem rata-rata Rp 10-11 ribu per kg. Sistem penjualannya di lokasi budidaya dengan cara dikontrakan kepada bandar (pengepul) selama 8 bulan dari awal jeruk mulai berbuah. Misalnya, per 100 bata bisa dikontrak hingga Rp 40 juta.

Dari hitung-hitungan secara ekonomi ini, petani kini lebih memilih berkebun jeruk keprok siem ketimbang jeruk keprok garut.
Dituturkan H. Sajili, pohon jeruk keprok garut paling-paling hanya sebatas ditanam disela-sela pohon jeruk keprok siem. Seperti halnya yang dilakukan rekannya, H. Satibi.

Ditambahkannya, jeruk keprok garut di Kampung Bojongsari sudah ada sejak jaman Belanda yang ditanam di halaman rumah penduduk. Baru pada tahun 1950 dibudidayakan di areal perkebunan. Namun, sejak dihujani debu vulkanik dari letusan Gunung Galunggung tahun 1982, jeruk keprok garut perlahan mati. Tinggal beberapa pohon saja yang dapat dipertahankan.
Dimulai tahun 1980, lanjutnya, jeruk keprok garut akhirnya diganti dengan jeruk keprok siem. Orang pertama mengembangkannya adalah almarhum H. Sarudin dari Kampung Cisaradan. Hingga saat ini terus dikembangkan oleh masyarakat yang berdomisili di Kampung Bojongsari sebagai mata pencaharian.

Perkembangan budidaya jeruk keprok Garut yang lesu itu, menggugah Kepala Desa Situsari, Santi Cahyati. “Saat ini, komoditas jeruk Garut umumnya terselip di antara tanaman jeruk siem yang tersebar di beberapa wilayah Kabupaten Garut. Salah satunya di Desa Situsari Kecamatan Karangpawitan tepatnya di wilayah Kampung Bojongsari. Jeruk Garut itu ditanam beberapa pohon di antara jeruk siem,” katanya.

Untuk melestarikan jeruk khas Garut itupun, Santi menganjurkan kepada masyarakat yang memiliki halaman kosong supaya ditanami jeruk keprok garut.

“Untuk itu, demi masa depan jeruk garut di Desa Situsari, selain akan melestarikannya di setiap halaman rumah, juga akan menggali potensi para petani jeruk siam supaya meneliti, bagaimana caranya supaya jeruk garut cepat berbuah dengan waktu panennya, maupun masa berbuahnya seperti jeruk siam.

Karena, jeruk garut merupakan salah satu komoditi pertanian unggulan berskala nasional yang harus dipertahankan dan ditingkatkan, baik kualitas maupun kuantitas produksinya,” ujar Kades.

Peningkatan produktifitas pohon jeruk keprok garut yang dimaksud Kades Situsari itu tiada lain berkaitan dengan upaya rekayasa gentik. Hal inipun sebelumnya sempat disinggung Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, bahwa Pemprov akan mengembangkan rekayasa genetik untuk beberapa produk tanaman dan buah khas Jawa Barat. Termasuk untuk tanaman dan buah jeruk garut. Karena selama ini pohon jeruk garut setelah satu kali berbuah atau panen, pohonnya langsung mati dan tidak berbuah lagi. Padahal jeruk garut terkenal manis.
Label varietas unggulan nasional disematkan pemerintah kepada jeruk garut dengan sebutan jeruk keprok garut I. Hal ini tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 760/KPTS.240/6/99 tertanggal 22 Juni 1999.

Dari informasi yang dihimpun “GE”, varietas jeruk keprok yang menjadi andalan nasional ada tiga varietas, yakni Jeruk SOE dari Malang, jeruk keprok medan, dan jeruk keprok garut yang dikenal dengan sebutan jeruk garut. (Ilham Daris/Doni Melody)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI

Komentar

BAGIKAN