Demi Bela Ahok, Media Sekuler Rela Plintir Berita

Oleh : Syamsul Ridwan

Sebelum lebih jauh membahas penistaan agama yang dilakukan oleh seorang Ahok, saya mengawali dengan meminjam ucapan yang disampaikan oleh Redaktur Republika, Abdullah Sammy, yakni ‘kekritisan media yang luntur memang bisa menjadi awal dari segala bencana’.

Sulit ditampik, benar adanya jika media massa sekuler kerap mengopinikan seolah Ahok berada diposisi terzalimi padahal mulut Ahok, kata orang betawi, gede bacot; sering berkata kasar dan merendahkan bawahannya.


Bagaimana bisa ia ditampilkan sebagai orang yang terzalimi sementara disisi lain dia tampil menzalimi? Apa yang terjadi sesungguhnya? Padahal sikap Ahok jelas-jelas penuh arogan seperti melarang takbiran keliling, menghancurkan masjid-masjid di Jakarta, meremehkan simbol-simbol Islam dan organisasi-organisasi Islam.

Indonesia pernah mengalami fase itu di orde yang lalu. Media ‘dininabobo-kan’ oleh dongeng kinerja penguasa. Cerita rekayasa yang kerap dilempar untuk menutupi kekurangan yang terjadi di sana-sini. Ya, fase itu pernah kita alami. Dan seakan-akan keadaan saat ini sedang terjadi lagi.

Hanya keledai bodoh tentunya yang terjatuh di lubang yang sama. Ini tentu mesti terus dicamkan dalam membina kehidupan bernegara. Sebab sebuah kritik akan jauh lebih berguna bagi penguasa dibanding sejuta puja di media.

Kritik pada akhirnya bukan sekadar jadi keniscayaan tapi jadi kewajiban untuk mengontrol arah kekuasaan. Sudut pandang kritis ini tentu mesti diarahkan secara tepat. Ini terutama dalam membahas sensitifitas agama ataupun kebijakan publik oleh sang pejabat yang memiliki sekala pengaruh besar.

Sangat beralasan jika kekhawatiran dari seorang Redaktur Republika, Abdullah Sammy, dimana sosok penguasa tiran bisa dipoles menjadi seorang hero ataupun sebaliknya. Hilangnya kekritisan media dan sarat kepentingan bisa menjadi bencana.

Beliau mengambil contoh seperti yang terjadi pada tahun 1994, Rowland mencatat sejarah sebagai gubernur termuda Connecticut usai memenangi pemilu dengan suara 36 persen. Sosoknya yang masih muda, 37 tahun, serta dukungan luas media membuatnya dicitrakan sebagai calon rookie untuk maju di pentas nasional kelak. Namun, kepemimpinan yang selama tiga periode dipoles oleh pencitraan di media ini berakhir dengan bencana besar.

Skandal korupsi menghantamnya. Tak hanya itu, berbagai kasus suap pun bertubi-tubi menimpanya. Karier Rowland pun berakhir tragis. Ibarat from hero to zero, Rowland mengundurkan diri pada 2004, kini kegiatannya harus keluar masuk penjara. Sangat dramatis memang. Kini, salah satu persoalan serius yang sedang jadi sorotan tajam adalah terjadi gelar perkara dan proses hukum terkait penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok selaku Gubernur DKI.

Denga demikian. jangan sampai menyimpan api dalam sekam. Jangan pula dipahami secara naïf. Bila umat mayoritas yang terdzalimi oleh pelaku kejahatan agama justru difitnah, maka bisa menciptakan chaos. Umat yang terdzalimi harus dilindungi, pelaku penjahat agama harus dihukum. Ini sikap yang adil. Di manapun, ajaran penistaan pasti memicu perlawanan.

Kedamaian takkan terwujud selama  ada orang yang menodai agama bebas menyebarkan fitnahnya di tengah-tengah umat yang religius. Negara juga menjamin kebebasan berbicara. Akan tetapi bukan dengan menodai ajaran agama lain. Jelas ini bentuk kedzaliman yang nyata.

Salah seorang Ulama Nusantara Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, pernah mengeluarkan fatwa: “Pertahankanlah agama Islam, berusahalah sekuat tenaga memerangi orang yang menghina al-Qur’an, menghina sifat Allah dan tunjukkanlah kebenaran kepada para pengikut kebatilan dan penganut akidah sesat. Ketahuilah, usaha keras memerangi (pemikiran-pemikiran) tersebut adalah wajib.

Umat jangan sampai terperosok pada lubang pencitraan oleh media massa untuk yang kedua kalinya. Akal kritis dan hati nurani harus terus dimainkan. Jika tidak, saya takutkan sekularisme merajalela, orang-orang saleh disingkirkan dan syiar-syiar Islam dipadamkan. Percaya atau tidak, hal itu sudah mulai terjadi saat ini.(*)

 

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI