Delman Dilarang Beroperasi di Musim Mudik, Pemkab Siapkan Kompensasi untuk Para Kusir

DELMAN tampak beroperasi di jalur provinsi di kawasan Jalan Jend. Soedirman, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, saat musim mudik beberapa waktu yang lalu./ foto: kang Cep/ GE.

GARUT, (GE).- Menjelang musim mudik Idul Fitri 1439 H (2018) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut kembali akan melarang delman beroperasi di beberapa jalur mudik sekitar Garut. Pelarangan alat tarnsportasi umum tradisional ini rencannanya akan diberlakukan tujuh hari menjelang  dan setelah lebaran.

Untuk para kusir delman yang pengoperasiannya dilarang, Pemkab Garut telah mempersiapkan dana kompensasi. Dikabarkan, pihak Pemkab Garut mempersiapkan dana sebesar Rp 525.000 per satu orang kusir delman.

Pohak Pemkab Garut menyebut, tottal dana kompensasi untuk para kusir delam nilainya mencapai Rp. 383 juta. Rencanannya, dana kompensasi tersebut akan diserahkan kepada para kusir delman per tanggal 10 Juni 2018 mendatang.


Keberadaan delman sebagai alat transportasi tradisonal memang selama ini dinilai beberapa pihak menjadai salah satu pemicu kemacetan. Khususnya di kota Garut, terlebih saat musim mudik  lebaran, dengan volume kendaraan yang meningkat. Praktis, keberadaan delman sebagai tranportasi umum mennambah parah kemacetan.

Keberadaan delman sendiri masih dibutuhkan warga sebagai alat transportasi umum jarak dekat. Sehingga pemerintah sendiri seolah tidak berdaya menertibkan delman. Paling, solusi dari pemerintah (Pemda) hanya bisa meminimalisir kemacetan disaat-saat tertentu, seperti mudim mudik.

Menurut Kepala Dinas Pehubungan (Kadishub) Garut, Suherman, rencananya pemerintah secara resmi akan melarang delman beroperasi di sejumlah jalur mudik, baik jalur nasional maupun provinsi.

“Ya, pelarangan ini (delman) untuk mengurai atau menyetop kemacetan. Salah satu faktor terjadinya kemacetan yaitu hadirnya delman di jalan raya. Ini tahun ketiga pendataannya by name by delman. Karena setiap delman bisa digunakan oleh tiga sampai empat kusir, kompensasi tujuh hari. Masing-masing perhari Rp 75 ribu jadi besaran per delman Rp 525 ribu,” ungkapnya, Kamis (24/05/18).

Meski keberadaan delman sebagian besar ada di seluruh wilayah Garut, namun kompensasi tersebut hanya akan diberikan kepada kusir delman yang berada di enam kecamatan yang terlintasi jalur mudik. Keenam kecamatan dengan kusir delmannya yang akan mendapat kompensasi tersebut meliputi Kecamatan Limbangan, Malangbong, Kadungora, Leles dan Tarogong kidul/ kaler.

Menanggapi kompensaasi yang diberikan pemerintah (Pemda Garut) beberapa kusir delman menanggapi beragam. Ada yang menyebut dana itu terlalu kecil, namun ada pula yang pasrah.  Mereka (para kusir delman) berharap pemerintah bisa bertindak adil kepada setiap kusir delman.

“ Jadi begini, rasa keadilan itu kan kalau macet semua. Kadang kalau narik ke Tarogong sana itu macet ga bisa.  Padahal bapak mah gak dapat kompensasi.  Sekarang mah, mau gak mau bapa akan mengajukan (kompensasi),” ujarnya.

Menurut catattan pemkab Garut, pada tahun ini (2018) jumlah kusir delman penerima kompensasi menurun. Penurunannya sekitar sepuluh dari tahun sebelumnnya. (Andri)***

Editor: kang Cep.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI