Delapan Kecamatan di Garut Utara Terdampak Kemarau Panjang

GARUT, (GE).- Kemarau panjang berdampak pada sektor pertanian di wilayah Garut Utara. Puluhan hektar sawah dan kolam ikan milik warga mengalami kekeringan. Akibatnya tanaman padi terancam gagal panen sementara ikan yang masih tersisa di kolam milik warga mati karena kekurangan pasokan air.

Selain sawah dan kolam milik warga, sumur dan sumber air bersih pun sudah mulai menyurut. Sehingga warga setempat mulai kesulitan mendapatkan air beraih.

Berdasarkan pantauan “GE” kekeringan terjadi di kawasan Garut Utara menimpa delapan kecamatan. Sebagian besar kekeringan terjadi di sektor pertanian. Namun di sebagian wilayah, krisis pasokan air mulai terjadi.


“Saya terpaksa nyuci dan mandi di Sungai Cianten ini. Karena ketersediaan air di sumur sudah mulai surut,” kata Ai Hani (28), warga Kampung Cianten, Desa Cigawir Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (9/10/18).

Menurut Ai, air yang masih ada di sumur miliknya hanya cukup untuk kebutuhan masak dan minum. Sementara kebutuhan mandi dan mencuci ia harus menggunakan air sungai yang jaraknya hampir 1 KM dari kediamannya.

“Ya terpaksa air sekarang susah. Jadi terpaksa mandi dan nyuci di sungai,” akunya.

Sementara itu, Marfuah, mengaku tiga kolam miliknya saat ini mengalami kekeringan. Ikan yang tersisapun banyak yang mati akibat kurangnya pasokan air.

“Tiga kolam saya sudah kering. Banyak ikan yang mati karena tak tahan hidup di air yang hanya sedikit,” kata Marfuah (59).

Marpuah mengaku hampir lima bulan hujan tak kunjung turun di Kampungnya. Akibatnya pasokan air ke kolam miliknya tak lagi mengalir. Sehingga ikan yang masih tersisa banyak yang mati.

“Ini ikannya sudah banyak yang mati. Jadi terpaksa semuanya dipanen. Nantinya saya bagikan saja ke tetangga,” kata dia.

Selain kolam yang sudah mengering, di kawasan itu juga, puluhan hektar sawah mengalami kekeringan. Tanaman padi milik warga dipastikan gagal panen.

“Tadinya saya spekulasi saja nanam padi. Tapi hujan tak kunjung turun. Jadi tanaman padi saya mati kekeringan,” kata Usep (41) saat ditemui di area pesawahan Desa Surabaya Kecamatan Limbangan Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Menurut Usep, tanaman padi miliknya sudah mati mengering. Tanaman yang tersisa pun hanya bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak.

“Kalau sudah mati seperti ini, paling juga hanya bisa buat pakan kambing. Ya mau gimana lagi,” kata Usep.

Akibat gagal panen itu, Usep mengaku mengalami kerugian Rp 3 juta. Jika musim hujan tiba, Usep mengaku kebingungan untuk menanam padi kembali karena modalnya sudah habis.

“Ya tentynya saya bingung kalau mau nanam padi lagi. Soalnya modalnya sudah habis,” pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Beni Yoga mengatakan dari 34 hektare lahan sawah yang kekeringan, hampir 60 persen tersebar di wilayah Garut utara. Padahal di wilayah Garut utara tersebut ditopang oleh bendungan irigasi Copong.

“Kecamatan Limbangan, Cibatu, Cibiuk, Selaawi hingga Leuwigoong jadi wilayah terdampak. Lahan pertanian tak mendapatkan pasokan air,” ujar Beni.

Menurutnya, bendungan Copong tak bisa memasok irigasi karena debit air Sungai Cimanuk berkurang. Ratusan hektare lahan sawah yang berada di delapan kecamatan di Garut utara tak bisa teraliri air.

Sebagai langkah antisipasi, kata Beni, Dinas Pertanian Kabupaten Garut tengah gencar melakukan sosialiasi gerakan sistem pompanisasi. Terutama bagi daerah yang masih memiliki sumber mata air.(MHI)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI