Dampak Kemarau, Sumber Air di Masjid Ini jadi Andalan Warga Pasanggrahan

Warga Desa Pasanggrahan, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut mengantri air di Masjid Nurul Huda, Selasa (04/09/2018).***

GARUT,(GE).- Dampak musim kemarau dirasakan warga Desa Pasanggrahan, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga sekitar harus antri untuk mendapatkan air. Sumber air di salah satu masjid di kawsan tersebut kini menjadi andalan satu-satunya.

Menurut Idah (48), warga Kampung Bebedahan Pasir, Desa Pasanggrahan saat ini sumber air di rumahnya sudah mengering. Biasanya, warga di Kampung Bebedahan mengandalkan aliran air Gunung Karaha.

“Kini air hanya ada di Masjid Nurul Huda. Sejak pagi sampai malam warga antre untuk gantian ambil air (di masjid),” ungkapnya, Selasa (4/9/2018).


Diakuinya, untuk mencuci warga mengandalkan air dari kolam yang ada di masjid. Sedangkan air dari sumber yang ada di masjid digunakan untuk minum.

“Sehari paling sekali bisa ambil airnya. Soalnya harus antri gantian mengambil airnya,” katanya.

Hal senada disampaikan Asep (45), warga setempat lainnya. Saat ini warga hanya mengandalkan air bersih dari mata air yang berjarak sekitar dua kilometer dari pemukiman.

“Sumur yang ada di sini sudah kering semuanya. Cuma ada satu mata air yang masih bisa dipakai. Jadi harus antre kalau mau ambil air,” katanya.

Diharapkannya, Pemkab Garut bisa memberikan bantuan air bersih kepada warga di Bebedahan. Selain di Desa Pasanggrahan, kesulitan air bersih juga terjadi di Desa Sukahurip, Kecamatan Pangatikan yang berbatasan dengan Kampung Bebedahan.

Sementara itu, sebanyak 7000 kepala keluarga (KK) di Desa Sukahurip, Kecamatan Pangatikan juga kekurangan air bersih. Mata air dari Gunung Karaha sebagian digunakan warga untuk pertanian.

Kepala Desa Sukahurip, Supiat mengatakan, air bersih dari Gunung Talaga Bodas banyak dialirkan warga untuk mengairi tanaman di kebun. Akibatnya, pasokan air ke pemukiman warga menjadi berkurang.

“Pustu (Puskesmas Pembantu) desa toiletnya juga tidak ada air. Sudah empat bulan kurang air. Musim kemarau memang kering terus di sini,” ujar Supiat di Kantor Desa Sukahurip, Selasa (4/9/2018).

Butuh pipanisasi sepanjang tujuh kilometer dari mata air untuk mengalirkan air ke rumah warga. Pihaknya berharap adanya bantuan dari Pemkab Garut agar merealisasikan pipanisasi.

“Sekarang kan air itu berebut sama pertanian. Jadi untuk minum susah. Kami harap ada bantuan dari Pemkab biar cepat membangun pipanisasi,” ucapnya. (Tim GE)***

Editor: ER.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI