Dalam Sebuah Perjalanan

Anne A. Permatasari.***

Dalam Sebuah Perjalanan

oleh: Anne A. Permatasari

(Cerita ini didedikasikan untuk: para “Pejuang Thallasemia”. Di mana pun mereka berada. Semoga ikhlas menerima “keunikan” mereka)


AKU menaikkan syal menutupi leherku. Dingin AC bus, dingin rintik hujan, tak bisa mengalahkan bekunya hatiku. Dari balik jendela, aku menatap puluhan pohon berjajar sepanjang jalan. Gelap malam menambah kesan yang lebih menusuk. Satu persatu pohon yang ditinggalkan, tak mampu mengejar pohon yang berada di depannya. Yang satu, terpaku pada diam, seperti dia. Yang lain, berlari menjauh, seperti aku.

Aku dalam sebuah perjalanan.

*****

Aku telah mengambil keputusan.

“Aku akan pergi besok,” ujarku sembari memasukkan baju ke dalam koper kecilku. Itu perlengkapan terakhir yang tersisa di kamar kost-ku. Beberapa kantong telah bertumpuk di sudut kamarku. Dia hanya menatapku dengan kosong.

“Kuantar ya,” tawarnya. Aku menggeleng.

“Jangan! Aku tak suka menjadi orang yang pergi dan meninggalkan seseorang. Sebaiknya, aku pergi sendirian.Tak perlu menambah kesedihanku lagi dengan lambaian.”

“Ayolah Bin, jangan membuatku lebih merasa bersalah.”

“Maaf,” hanya itu ujarku.

****

Jika aku bisa memilih, aku memilih kehilangan dia dengan diam-diam. Meski aku pasti akan didera pertanyaan yang tak pernah terjawab. Lalu aku akan terluka oleh penantian yang tak berkesudahan. Kemudian terbiasa, dan akhirnya luka melita. Tapi kehilangan lantaran sebuah kepastian, terasa lebih menyakitkan, kurasa.

“Aku tak bisa menolaknya lagi, Bin. Keluargaku sepakat memperkenalkan kami. Mungkin ini jalan terbaik.” ujarnya sore itu.

Aku mengangguk. Apalah aku?

Si pungguk merindukan bulan.

****

Aku mengenalnya sebagai seorang relawan senior di pusat pelayanan kesehatan ini, sejak aku bertugas menjadi perawat di sana. Kesehariannya adalah karyawan di perusahaan gas bumi di kota kecilku.

Sejak bersama-sama menyelenggarakan kegiatan donor darah di sebuah SMU, aku merasa bahwa aku mulai menyukainya. Gayanya  yang khas, membuat para pendaptar berani menjadi pendonor darah untuk pertama kalinya. Aku suka caranya berbaur dengan remaja, menemukan ide cemerlang yang tepat sasaran. Tidak teoretis, tetapi lebih aplikatif dan berterima.

“Setidaknya, sekali seumur hidupmu saja! Setelah itu, kalian boleh putuskan untuk berlanjut, atau berhenti. Tapi aku yakin, kalian akan segera mendaptarkan diri lagi apalagi kalo aku atau suster-suster cantik ini yang menanganinya,” ujarnya penuh canda yang hangat sambil menunjuk ke arah kami.

Mau tak mau, aku tersenyum. Letih bukan alasan untuk tidak tersenyum. Kami terhibur oleh wajahnya yang segar dan selalu enak dipandang. Betapa uletnya dia dan teman-temannya bersosialisasi dan mengajak orang untuk berdonor darah.

Para siswa SMU pendonor yang terbaring di bangku itu tertawa. Mereka masih sangat muda. Tapi kepeduliannya telah menjadi modal utama mereka untuk menjadi penerus bangsa yang hebat.

****

Hasil ‘screening’ kami, membuatku kaget.

Kami telah berada pada titik yang mau tak mau harus kami hadapi. Proses yang panjang dalam keseharian, ternyata telah menumbuhkan benih cinta di antara kami.

“Jadi, keluargamu ada yang juga menyandang itu?” tanyaku mendesaknya pada sebuah percakapan tentang hati yang melibatkan kami berdua. Dia mengangguk.

Tak kusangka, itu alasannya dia bersikeras mengajakku melakukan tes itu, beberapa hari yang lalu. Tadinya, aku menolak. Aku berpikir dia tidak serius. Toh dia pasti sudah tahu dari riwayat keluargaku. Sebetulnya, aku berharap aku ‘clear’. Meski pasti kategoriku bukan ‘mayor’, aku tetap khawatir mendapatkan hasil, ‘minor’.

Coba saja, nanti kutemani,” bujuknya. Dan dia ternyata melakukannya dengan serius.

“Ya, adikku meninggal beberapa bulan, sebelum aku mendapat pekerjaan di kota ini. Kenangan akan masa lalu itu membuatku memutuskan untuk berkecimpung dalam dunia ini,” lanjutnya.

Aku tersentak kaget. Sebuah harapan yang telah lama kupupuk,  pelahan runtuh.

“Mengapa kau menutupinya?”

“Aku tidak menutupi, hanya tidak menyampaikannya saja. Setiap ingat adikku, semakin kambuhlah perasaan bersalahku.”

“Mengapa?”

“Saat itu aku tengah menikmati masa remajaku. Kami melakukan turing berhari-hari, berkemah di puncak gunung tanpa komunikasi untuk sekedar merayakan kelulusan kuliah kami . Aku betul- betul lupa, bahwa kontrol untuk kesehatannya berada di pundakku.”

“Maksudmu?”

“Bapakku bilang, waktu aku menyampaikan rencana merayakan kelulusan, sebenarnya kondisi adikku sudah buruk. Tapi Bapak tak mau mengecewakanku. Adik mengalami batuk, flu lebih dari seminggu. Tak bisa kubayangkan saat Bapakku kebingungan menghubungiku dan menyesal mengizinkanku berada jauh tanpa bisa berkomunikasi. Kondisi fisik adikku terus merosot. Pasti itu berhubungan dengan HB-nya yang menurun. Kalau itu terjadi, otomatis pula, dia akan mengalami sesak nafas. Oh, Bin, tak bisa kubayangkan tangis ibuku melihat adik menggeliat, memegang perut di bagian kirinya yang melilit. Mungkin limpa-nya juga mulai bermasalah.”

Aku terdiam, terbawa pada emosi. Cerita yang sebetulnya sering aku alami sendiri ketika abangku masih ada, dan kami tinggal serumah.

“Lalu, kemanakah keluargamu yang lainnya?”

“Adikku sudah berumur tujuh tahun. Sangat tak mudah merayunya dengan mainan, baju, makanan, coklat, atau apapun.  Dia sudah tahu proses perjalanan panjangnya. Ketika HB-nya sudah berada di angka 8 , berarti dia harus segera di ‘charge‘. Tak ada jalan lain. Meski misalnya hanya 1 labu darah, tetapi menerima 250 cc ke dalam tubuh mungilnya bukannya tanpa adaptasi yang rumit. Lalu sepaket oleh-oleh akan dia bawa pulang. Mencerna sebotol besar khelasi besi, yang meskipun berupa sirup, bukan hal yang mudah. Akupun tak bisa membayangkan rasanya yang bisa membuat mual bahkan muntah dan itu harus dilakukannya setiap hari. Bin, ibu dengan tangisnya, dan bapak dengan marahnya pun tak bisa membujuknya kecuali aku. Karenanyalah pula, pulang setiap satu atau dua bulan sekali di sela perkuliahanku, sudah menjadi kewajibanku.”

“Jadi mereka tak sempat membawanya ke pusat pelayanan?”

“Akhirnya mereka memaksanya setelah berjuang, berair mata darah. Tapi kemudian, jarak menghadang. Butuh tak kurang dari satu jam dari daerahku hanya untuk mencapai jalan raya dengan hanya berkendaraan motor. Lalu berjam-jam lagi menuju tempat pelayanan di kota kabupaten. Kondisinya betul-betul drop. Ketika dia sampai di rumah sakit, HB-nya tinggal 5. Betul-betul bukan suatu kebetulan pula bahwa stok darah yang cocok buatnyapun, kosong. Tubuhnya tak kuasa lagi bertahan dan perjuangannyapun berakhir di sini, dalam pelukanku.”

Tak terasa air mataku menggenang dan mengalir menyusuri pipiku.

“Tapi bukan berati kau harus menghukum dirimu sendiri. Itu bukan salahmu.”

“Aku tahu. Perjuangannya telah selesai. Tapi perjuanganku barulah dimulai. Aku mengaburkan rasa bersalahku dengan berbagi kepedulian. Kau pikir, apa yang menggerakkan aku berkecimpung di sini? materi? no way! gajiku lebih dari cukup untuk hidup keseharianku dan menanggung hidup kedua orang tuaku di daerah.”

“Itu sebabnya, kau masih melajang dan membatasi pergaulan ya?”

“Tidak,  bukan begitu. Aku memiliki banyak teman dan bergaul dengan berbagai kalangan. Aku hanya lebih atau sangat selektif memilih pasangan hidupku!”

“Artinya, kau tak kan memilihku menjadi pendamping hidup, setelah aku dinyatakan carrier juga, ya?” tanyaku mempertaruhkan masa depanku.

Dia menatapku lalu mengangguk pelahan.

“Kau jahat. Semua tindak dan perilakumu memberi orang-orang, banyak harapan. Padaku juga! ” tudingku hampir menyalahkannya.

“Maafkan aku, Bin. Aku telah berusaha menghindari. Tapi cinta, itu soal hati. Tak sadarkah kau, di lingkungan ini, betapa sering aku menghindari kontak yang melibatkan hati?  Itu menyakitkan bagiku. Setiap saat perasaanku mulai nyaman memilih teman hidup,  aku selalu berpikir ulang.  Bukan soal siapa keluarganya. Bagaimana kehidupannya. Tapi selalu berbentur pada bagaimana masa lalu keluarganya? Seperti apa masa depanku dengannya! Aku juga

seorang ‘carrier‘, seorang ‘trait‘, pembawa sifat thalasemia, Bin.  Aku tak ingin keturunanku nanti harus menjalani semua hal yang adikku alami, sepanjang hidup.”

“Kau terlalu berlebihan. Kau hanya pembawa sifat sama denganku. Hanya dua puluh lima persen saja kemungkinan menurunkan thaller mayor pada keturunan kita!

“Aku tak mau bermain dengan dua puluh lima persen itu!”

“Semua yang kau katakan membuat orang merasa ketakutan.”

“Aku terlebih lagi.”

“Mengapa tak kau biarkan Tuhan saja yang mengaturnya?”

“Tuhan memberi kita ilmu untuk berbagi, menularkan pengetahuan, dan mencegah lahirnya thaller  baru. Kitalah yang harus memutus mata rantai itu. Kau tahu?  Ini bukan sekedar masalah ekonomi, sosial atau psikis belaka. Kau lihat?  Di ujung sana, seorang ayah berusaha keras membujuk anak usia tiga tahunnya untuk datang ke sini.”

Dia  menunjukkan ke sebuah sudut ruang perawatan ini. Seorang lelaki setengah baya berusaha menenangkan gadis kecil berparas Cooley face  dengan perut agak membuncit yang terbaring lemas. Cairan merah pekat berjejalan masuk ke pembuluhnya di tangannya.

“Tuhan!  Itu perjuangan yang tak mudah dan tak tahu kapan akan berakhir.  Bergulat dengan trauma pada jarum suntik yang kadang tak mau berkompromi dengan pembuluh darahnya yang masih kecil, pucat, nyaris tak terlihat, dan rapuh. Berpindah dari satu titik ke titik lain. Tak pernah lebih dari 30 hari. Bahkan bisa lebih cepat jika aktivitasnya tinggi. Usia mereka adalah masanya bermain, bersenang-senang, tanpa beban. Itu seharusnya.”

Aku terdiam.

“Itu perjuangan yang tak mudah, bukan hanya untuk penyandangnya tapi juga untuk orang sekitarnya. Ini sulit, Bin. Sangat sulit. Aku tak mau mengalaminya lagi!” tegasnya.

“Mengapa kita tak mau mencoba. Siapa tahu, Tuhan memberi keajaiban untuk kita. Kau tahu keluargaku kan? Dari tiga bersaudara, hanya kakakku yang menyandangnya. Aku dan adikku, malah tidak.”

“Aku takut, sebagai orang tua, kita tidak akan kuat. Bukan hal mudah menerima kenyataan pahit itu kalau dalam keluarga saja, fondasinya tidak kokoh. Bukankah kau bilang, ibumu memilih bercerai dan membawa kau dan adikmu, Sementara ayahmu mengurus abangmu?”

“Jadi, tak kan pernah ada masa depan untuk kita ya?” tanyaku menutup cerita lembaran masa lalu keluargaku dan menghabiskan rasa penasaranku. Aku lebih berharap agar dia trenyuh dan mau memberi kesempatan kasih kami bertumbuh.

“Iya, Bin! Maafkan aku! Aku memilih untuk tidak mencobanya!”

“Tapi rasa sakit karena kehilangan hati itu pasti lebih menyakitkan,” aku tetap mencari celah agar kami bisa bersatu.

“Kau salah! Perasaan adalah bagaimana kita dapat  mengendalikan hati!  Bagaimana kita mengalirkannya  dengan cara yang lain.”

“Tapi aku mencintaimu!” kataku dengan nekad.

Pengakuanku sepertinya membuat pertahanannya ambruk.  Dia meraih pundakku  lalu mendekapnya dengan kepedihan yang mematikan. Perasaan ngilu menyebar dalam hatiku.

“Aku juga mencintaimu. Tapi aku lebih mencintai apa yang di masa depan bakal kita hadapi. Aku tak kan sanggup menghadapi anak-anak yang mungkin lahir dari benih kita, Bin.”

“Mengapa kita kalah sebelum  melangkah?” Aku melepaskan pelukannya dan menantang matanya. Aku tak mau mengalah dan tetap memperjuangkan hati. Dia membalas menatapku. Tatapan penuh cinta tetapi lalu menghampa.

“Dunia kita tidak boleh berhenti sampai di sini. Masa depan harus kita perjuangkan. Aku yakin kita bisa memilikinya. Aku siap menghadapinya. Bahkan jika kita harus berjaga, atau jika akhirnya  kita harus mengalah pada hasil akhir sebuah tes pranatal yang pasti menyakitkan dan mengerikan. Aku mau. Setidaknya kita telah berusaha dan memberi lahan cinta kita!”

Dia menarik pundakku. Pelukannya mengetat. Setetes air mata jatuh pada punggungku. Aku tahu, itu miliknya.

“Aku mohon, kita coba saja,” bisikku dalam peluknya

“Aku belum sanggup, Bin. Mungkin butuh waktu!”

Cukup. Itu jawaban terakhirnya.

Aku menumpahkan semua tangis di dadanya. Tak akan ada yang bisa mengubah keputusannya itu. Aku harus bisa menerima bahwa cintalah yang membuat kami harus bisa berfikir lebih panjang.

“Terimalah dengan ikhlas, Bintang…!”

Suaranya parau, hampir hilang.

*****

Aku mengerti keputusanmu. Ini pasti jalan yang terbaik. Aku mengagumi keteguhan dan keberanianmu bersikap. Tapi tolong, beri aku waktu untuk bisa memilikinya pula. 

Terima kasih, Bintangku.

Kau telah memutuskan untuk tumbuh

menjadi wanita matang dan mulia.”

Itu SMS-nya yang kuterima tadi sore.

Aku dalam perjalanan menuju sisi lain kehidupanku. Sisi yang kupilih untuk kujelajahi tanpa berkutat di lingkungan itu. Pekerjaanku sebagai perawat yang berkecimpung di dunia thalasemia di sini, berhenti.  Aku memutuskan melanjutkannya di tempat baruku nanti.

Aku memahami tindakannya untuk tidak memilihku menjadi pendamping hidupnya, sekarang. Aku harus memberinya waktu seperti yang dia minta. Sementara akupun butuh proses untuk mulia dan dewasa, seperti harapannya.

Kami hanya memelihara sebuah harapan. Suatu saat kelak, perjalanan  kami menuju arah yang sama. Hanya itu yang bisa kujanjikan kepadanya dalam perjalanan ini. (050417)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI