Cuaca tak Menentu, Petani Tembakau Merugi

MATARAM, 16/7 - TEMBAKAU CINCANG. Amaq Amat (53) memetik daun tembakau bideng di sebuah lahan Lingkungan Dasan Cermen Selatan, Mataram, NTB, Kamis (16/7). Daun tembakau bideng itu kemudian dijemur selama dua hari sebelum dicincang dan siap dipasarkan dengan sistem borongan, seharga Rp 3 juta per 200 tumpi (gulungan). FOTO ANTARA/Budi Afandi/ed/mes/09

FENOMENA alam pada musim kemarau tetap diiringi hujan seperti sekarang menjadikan para petani tembakau di Kabupaten Garut merugi. Lantaran produktivitas daun tembakau mereka anjlok, sebab banyak daun terserang hama penyebab mengganggu kualitas daun.

Ujang Safrudin (48) petani tembakau di Kampung Corenda RT 04/14 Desa Margaluyu Leles katakan, seharusnya kini musim memasuki panen kedua, dan masuk kemarau. Tetapi kenyataannya hujan masih kerap terjadi.

Akibatnya tanaman tembakau sangat gampang terserang hama, terutama kuris, dan bitu. Sehingga daun tembakau menjadi berbintik-bintik serta cepat memerah atawa berbintik hitam seperti terbakar. Serangannya dari lembar daun paling bawah merembet ke bagian atas bisa dalam hitungan sehari.

“Produksi daun tembakau jelas turun. Misalnya dari 15 lembar daun semestinya dipanen, paling banyak bisa dibawa itu sekitar 10 lembar,” ungkap anggota kelompok tani Warga Saluyu itu, Senin (25/07-2016).

Dikemukakan, dari sekitar seribu pohon ditanam pada tegalan biasanya menghasilkan 60 kilogram mole alias tembakau hasil rajangan. Namun akibat cuaca buruk, petani hanya mampu memproduksi sekitar 40 kg mole.

“Kalau yang ditanam di sawah, hasilnya sekitar 100 kg,” katanya.

Selain cuaca buruk, harga tembakau juga relatif rendah akibat sulitnya petani menembus pasar pabrik rokok secara langsung. Padahal dia mengklaim, kualitas daun tembakau asal Garut diperhitungkan industri rokok karena merupakan ragi bagi olahan tembakau dihasilkan dari daerah lain. Termasuk tembakau asal Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat.

Hal itu terjadi sebab pemasaran produk tembakau asal Garut ke industri besar pembuatan rokok selama ini dilakukan melalui tengkulak. Harga tembakau bentuk mole di tingkat petani sekitar Rp50 ribu per kg. Sedangkan daun basah untuk bahan olahan mole sekitar Rp30 ribu per kg.

“Serba salah memang. Sebab kalaupun langsung dikirim ke pabrik, risikonya besar. Beda dengan di Jawa atau NTB. Petani itu dikoordinasi perusahaan langsung, membentuk koperasi, dan diberi modal,” beber Ujang.

Meski demikian, diakuinya minat petani berbudidaya tembakau cenderung meningkat belakangan ini. Kendati terbilang masih jauh dari masa keemasannya pada 1980-an lalu.

“Dulu hampir 80% di daerah kami petani tembakau, dan melorot drastis sejak kasus anjloknya harga cengkeh itu. Sekarang banyak petani bergairah lagi menanam tembakau. Jumlahnya sekitar 40% dari sekitar 2.500 kepala keluarga di Desa Margaluyu,” kata Ujang.

Kepala Bidang Produksi pada Dinas Perkebunan Kabupaten Garut, Haeruman mengakui budidaya tembakau di kabupatennya mengalami peningkatan, baik perluasan lahan tanam, maupun produksi tembakaunya. Dikemukakan, luas baku lahan tembakau di Garut mencapai sekitar 4.095 hektare, tersebar pada 26 wilayah kecamatan. Pada 2015, produksinya mencapai sekitar 35.050 ton mole, dengan rata-rata produktivitas sekitar 856 kuintal per hektare.

Jumlah petani tembakau mencapai 10.751 KK. Sedangkan jenis tembakau ditanam terdiri Darwati-B, Darwati-D, Leuwiliang, Adung, dan Nani.

“Tembakau dihasilkan Garut dipasarkan selain dalam bentuk mole, juga tembakau guntingan, tembakau krosok atau dikeringkan, dan tembakau hitam,” ungkap Haeruman pula. (Farhan SN)***