‘Siluman Ucing Belang’ Tertangkap Kamera Reporter TV, Saat Peliputan Kecelakaan Maut di Gunung Halimun

GARUT, (GE).- Keangkeran Gunung Halimun di kawasan Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut sudah menjadi buah bibir masyarakat sejak dulu. Selain kondisi jalannya yang curam disertai tikungan tajam, di kawasan ini juga banyak kejadian aneh. Tak heran, di kawasan sepanjang  Gunung Halimun kerap terjadi kecelakaan hingga merenggut korban jiwa.

Kecelakaan terbaru di kawasan Gunung Halimun yang merenggut dua korban jiwa terjadi pada hari Minggu (05/11/2017). Seperti diberitakan sebelumnya, mobil avanza yang terjun bebas ke dalam jurang sedalam 200 meteran di kawasan tersebut menewaskan dua penumpangnya.

Kecelakaan maut di kawasan yang di kenal angker itu tak pelak mengundang perhatian sejumlah awak media, mulai dari media cetak hingga elektronik hari itu juga segera meluncur ke tempat kejadian perkara (TKP). Untuk mencapai TKP yang berada di jurang dengan kedalaman 200 meteran, para reporter harus bersusah payah menuruni tebing yang curam.

Setelah pengambilan gambar serta data-data dianggap sudah selesai, para awak media bergegas menaiki jurang kembali untuk menuju jalan raya. Di tengah-tengah perjalanan saat menaiki jurang, salah seorang reporter TV swasta menyempatkan diri untuk berfoto selfie. Sang reporter mengakui, tidak ada perasaan apapun saat menjepretkan kamera ponselnya.

Singkat cerita, rombongan beberapa awak media sampai juga di jalan raya yang posisinya di atas tebing jurang. Sambil melepas lelah mereka beristirahat sambil ngopi dan melahap makanan ringan yang ada di salah satu warung.

Saat sedang asik melepas lelah, tiba-tiba ada beberapa orang warga yang menghampiri dan mengajak ngobrol. Warga memuji keberanian para wartawan yang  melakukan peliputan langsung ke lokasi kejadian yang dianggap angker. Menurut salah seorang wartawan televisi swasta, Idrus Andriawan, beberapa warga yang mengajak ngobrol dirinya, menceritakan beberapa keanehan atau kejadian di sekitar lokasi yang berbau mistis.

“Diantara cerita-cerita mistis tersebut, ada warga yang mengatakan, jika di hutan sekitar jurang Gunung Halimun sering terlihat makhluk aneh berwujud kucing belang. Tetapi ‘kucing belang’ yang dimaksud warga bukanlah kucing biasa. Mereka percaya, jika kucing belang itu adalah perwujudan siluman penunggu jurang di Gunung Halimun,” ungkapnya.

Ditambahkannya, menurut cerita warga, sosok kucing belang itu bisa merubah ukurannya menjadi semakin besar,  jika ada seseorang yang terus melihatnya. Mendengar cerita-cerita tersebut, para wartawan tak begitu menggubrisnya. Tetapi alangkah kagetnya, saat Idrus memperlihatkan hasil poto sewaktu mereka menaiki jurang, tampak ada sesosok mirip kucing bertelinga panjang tepat di belakang mereka saat berfoto selfie.

“Tadinya biasa biasa saja. Namun setelah hasil foto di kamera diperhatikan, ternyata ada sosok aneh yang tertangkap kamera. Foto aneh itu, sempat saya posting di instagram, dan rame juga. Ada yang mengatakan itu hanya sebatang kayu yang mirip bentuk kucing. Namun tak sedikit yang beranggapan bahwa itu memang sosok siluman kucing belang yang tertangkap kamera. Usai melaksanakan tugas liputan, Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa, meski sempat kaget juga melihat hasil foto,” ungkap Idrus.  (Useu G Ramdani)***

Editor: Kang Cep.

Pengangkatan Plt Disdik tidak Sesuai dengan Ajuan ke DPRD

GARUT (GE).- Penetapan Djajat Darajat sebagai pelaksana tugas (Plt) sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, masih menjadi kontroversi. Pasalnya, saat ini Djajat memegang jabatan yang cukup berat sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Garut. Selain itu, ternyata pengajuan nama Plt Disdik dinilai diputuskan tidak sesuai dengan ajuan ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Garut.

“Waktu itu Badan Kepegawaian Daerah (BKD), sempat mengutarakan akan mengangkat Plt Kadisdik dari Asda. Sedangkan Sekretarisnya dari orang internal Disdik. Tapi pada kenyataannya Plt malah diberikan kepada Djajat,” ujar Wakil Ketua Komisi A, Yuda Fuja Turnawan, saat ditemui di runga kerjanya, Jumat (3/10/17).

Yuda menilai, tugas Djajat sebagai Kadis DPMD sudah sangat berat. Pasalnya ia harus melakukan fungsi pembinaan dan pengawasan ke tiap desa.

Sedangkan, kata Yuda, jumlah desa di Garut mencapai 424 desa. Ditambah lagi rentang geografis yang berjauhan akan menambah kesulitan Djajat untuk memangku dua jabatan di dinas yang besar secara bersamaan.

“Saya khawatir penetapan Djajat sebagai Plt Disdik malah menurunkan capaian kinerja di dua dinas tersebut. Pasalnya tidak akan mudah mengendalikan dua dinas bersar dalam waktu bersamaan,” akunya.

Yuda menambahkan, idealnya jabatan Plt Disdik dipegang oleh Asisten Daerah (Asda). Pasalnya Asda memiliki fungsi sebagai koordinasi. Selain itu, Asda juga pekerjaannya tidak terlalu berat. Jadi untuk menghendel urusan kedinasan akan memiliki waktu yang leluasa.

Yuda membeberkan, formasi yang diusulkan ke DPRD waktu itu adalah, jabatan Plt Kadisdik oleh Asda III, Asep Sulaeman Faruk, sementara untuk Sekretarisnya Yuda Imam Pribadi dan Solih. Ajuan nama-nama tersebut tentunya sudah sesuai kapasitasnya. Namun pada kenyataannya malah Djajat yang dikukuhkan.

“Waktu itu dalam rapat BKD mengusulkan Asda III, Asep Sulaeman Faruq yang akan menjabat Plt Disdik. Tapi kemarin pas penetapan malah orang lain,” kata Yuda.

Yuda menandaskan, jabatan Kadisdik tidak bisa dispekulasikan pasalnya menyangkut dengan hajat hidup orang banyak. Kalau pucuk pimpinannya salah arah, kualitas pendidikan di Garut yang menjadi taruhannya.

Yuda mencontohkan, jangankan diurus oleh orang yang belum pernah berkecimpung dalam pendidikan dulu saja waktu dikendalikan oleh Mahmud banyak program pendidikan yang tidak mengakomodir kepentingan publik. Apalagi, lanjut Yuda, kalau orang yang mengendalikannya sama sekali tak mengerti pendidikan mau dijadikan apa pendidikan di Garut?

“Saya berpikir Jobdes Djajat terlalu berat. Saya khawatir kinerja di dua dinas yang dikendalikannya malah menurun,” pungkasnya.

KPU Garut: Penyerahan Berkas Dukungan Balon Independen 25 – 29 November, Begini Mekanismenya

GARUT,(GE).- Sejumlah tim sukses dari beberapa pasangan bakal calon (balon) independen (perseorangan) mulai  berdatangan ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Garut. Sperti diketahui, pada Pilkada kali ini, terdapat perbedaan dalam penyerahan berkas dukungan balon perseorangan.

Menurut Komisioner KPU Garut, Ade Sudrajat, terdapat empat pasangan balon perseorangan yang diwakili tim suksesnya yang hadir. Pihaknya menyosialisasikan teknis untuk menyerahkan berkas dukungan.

“Sekarang ada mekanisme pengisian data yang berbeda dengan periode lalu. Salah satunya balon harus mengunduh aplikasi untuk mengisi data dukungan,” ujar Ade di Kantor KPU Garut, Kamis (2/11/2017).

Dijelaskannya, formulir berkas dukungan perseorangan atau format B1-KWK, bisa diunduh di website excelsilon.kpu.co.id. Nantinya akan ada formulir berbentuk excel yang harus diisi data-data pemberi dukungan yang berada dari Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP).

“Sebelum mengunduh, pilih daerah asal lalu ceklis kelurahan atau desa yang dibutuhkan. Setelah itu unduh datanya,” tandasnya.

Ade mengingatkan agar setiap balon tak mengubah format yang ada dalam aplikasi excel tersebut. Jika ada perubahan format seperti mengubah kode desa, maka tak akan terbaca saat diserahkan ke KPU. Jika semua data telah terisi, nantinya file tersebut tinggal diunggah ke website KPU.

” Aplikasi ini akan memudahkan dalam verifikasi berkas dukungan oleh KPU. Kami juga membuka konsultasi jika ada yang kesulitan, para balon akan terbantu dalam mendata jumlah dukungan,” ujarnya.

Dikatakannya, para balon perseorangan harus menyerahkan berkas dukungan minimal 117.346 yang sebarannya ada di 22 kecamatan. Jika sebarannya tak merata, maka KPU tak akan meloloskan balon perseorangan untuk mendaftar calon Bupati atau Wakil Bupati.

“Penyerahan berkas dukungan dilakukan pada 25 sampai 29 November (2017). Kalau dinyatakan lolos, bulan Januari (2018) bisa mendaftar untuk menjadi calon Bupati dan Wakil Bupati,” katanya. (Tim GE)***

 

Keterwakilan Perempuan untuk Anggota PPK Garut Hanya 11%, KPU: Banyak yang Belum Memenuhi Syarat

GARUT,(GE).- Baru-baru ini terungkap, keterwakilan perempuan dalam Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) se Kabupaten Garut masih kurang dari 30 persen. Namun keterwakilan perempuan sendiri dinilai hampir merata di semua kecamatan.

Menurut Komisioner KPUD Garut, Lia Juliasih, dari 210 anggota PPK se Kabupaten Garut, 23 di antaranya merupakan perempuan. Memang, jumlah 30 persen keterwakilan tak bisa terpenuhi karena masih banyak yang belum memenuhi persyaratan.

“Memang baru 11 persen keterwakilan perempuannya. Tapi dalam seleksi bukan hanya gender yang kami perhatikan. Jika tak memenuhi kriteria tidak bisa dipaksakan,” katanya, usai pelantikan anggota PPK se Kabupaten Garut di Graha Patriot, Cipanas, Kecamatan Tarogong Kaler, Garut, Minggu (29/10/17).

Diungkapkannya, PPK di daerah lain bahkan ada yang sama sekali tak diwakili perempuan. Jumlah anggota PPK perempuan yang ada di Garut malah dinilai sudah mewakili.

“Ada satu kecamatan yang tiga anggotanya perempuan. Jadi semuanya sudah cukup terwakili,” tukasnya.

Sementara itu, Komisioner KPU Provinsi Jabar, Agus Rustandi dan para anggota PPK di Jabar akan bertugas sampai Pilkada 2018 selesai. Selama proses seleksi di seluruh wilayah Jabar, Agus menilai sudah sesuai prosedur.

“Sekarang sudah mulai pelantikan PPK. Waktunya dari 29 sampai 31 Oktober. Setelah pelantikan para PPK bisa segera bekerja terutama dalam menyosialisasikan Pilkada,” kata Agus.

Ditegaskannya, untuk penentuan lima anggota PPK di setiap kecamatan dianggap sudah objektif. Terutama dari sisi pengetahuan soal kepemiluan.

“Semua KPU di Jabar sudah melaksanakan tahapan seleksi sesuai prosedur. Kami harap para PPK ini bisa membantu kerja KPU dalam menyelenggarakan Pilkada,” tandasnya. (Tim GE)***

Pilkada 2018, Panwaskab Garut Soroti Ujaran Kebencian dan Isu Sara di Medsos

GARUT, (GE).- Panitia pengawas Pemilu (Panwaslu) Garut, terus memantau perkembangan media sosial saat memasuki tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018. Ujaran kebencian dan lontaran isu sara menjadi perhatian khusus karena dianggap pelanggaran yang masif dan sistematis.

“Tugas Panwas sekarang sangat berat, pasalnya penyelenggaraan Pilkada Gubernur dan Bupati dilaksanakan secara langsung. Apalagi sekarang media sosial kerap dijadikan alat untuk berkampanye dan menyerang calon lainnya,” ujar Komisioner Panwas Kabupaten Garut, Asep Burhan, saat ditemui usai melantik Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) di Hotel Sampireun, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Minggu (29/10/17).

Asep melanjutkan, pemantauan media sosial terutama terkait ujaran kebencian dan isu sara akan menjadi prioritas. Pasalnya kedua isu ini kerap dilontarkan para pendukung pasangan calon untuk menjatuhkan calon lainnya.

Oleh sebab itu, kata Asep, para komisioner Panwascam yang telah dilantik akan dibekali dengan bimbingan teknis. Tujuannya, agar saat melakukan pengawasan pada pelaksanaan tahapan Pilkada Panwascam tidak kikuk lagi dalam menangani setiap permasalahan.

“Panwascam yang dilantik hari ini jumlahnya 126 orang. Sejak hari ini mereka akan dibekali dengan bimbingan teknis terkait kepemiluan,” kata Asep.

Dalam Bimtek Panwascam kali ini penanggulangan pelanggaran yang dilakukan netizen di media sosial menjadi sorotan baru. Nantinya Panwascam akan memilah bentuk pelanggaran apa yang dilakukan oleh netizen di dunia maya.

“Nanti kita akan klasifikasikan bentuk pelanggarannya. Kalau melanggar hukum pidana tentunya akan ditindak secara hukum pidana juga,” akunya.

Asep menandaskan, di Panwas tingkat kabupaten nantinya akan ada penegakkan hukum terpadu (Gakkumdu). Jadi Panwas memiliki kewenangan untuk memutuskan jenis pelanggaran yang dilakukan.

Sementara itu, komisioner Panwaskab Garut lainnya, Heri Hasan Bahtiar, mengaku semua anggota Panwascam yang telah dilantik diharapkan dapat bekerja optimal. Pasalnya penyelenggaraan Pilkada kali ini dianggap paling berat jika dibandingkan dengan sebelumnya.

“Setelah dilantik sekarang dan langsung diberikan bimbingan teknis diharapkan semua anggota Panwascam bisa bekerja secara optimal. Pasalnya sederet pekerjaan telah siap menanti. Jangan leha-leha, kerja! kerja! Kerja!,” imbaunya.

Heri menandaskan para komisioner Panwascam terpilih merupakan putra dan putri terbaik dari yang baik di kecamatannya masing-masing. Oleh sebab itu, jangan leha-leha, kerja! kerja! Kerja!,” pungkasnya. (Farhan SN)***

Kebakaran Pabrik Kembang Api Tangerang, Korban asal Garut Bertambah

GARUT,(GE).- Seiring proses identifikasi di lokasi tempat terbakarnya pabrik kembang api di kawasan Kosambi, Tangerang, Banten, jumlah korban terus bertambah. Dari puluhan koran tersebut,  warga Garut yang jadi korbanpun dilaporkan bertambah. Sebelumnya, warga Garut yang jadi korban tercatat ada empat orang, kini bertambah menjadi lima orang.

Dar lima orang korban tersebut, empat diantaranya sudah bisa dipulangkan. Sementara se orang lagi dinyatakan meninggal namun masih belum teridentifikasi oleh Tim DVI.

Aji Supriaji, salah seorang warga Garut yang berhasil selamat dari insiden terbakarnya pabrik kembang api mengisahkan, proses kejadiannya begitu cepat. Dikatakannya, sebelum terjadinya kebakaran hebat, terjadi beberapa kali ledakan keras.

“Kurang dari semenitan. Setelah beberapa kali ledakan, api menyambar serbuk bahan kembang api. Api sempat menyambar tubuh saya. Saat kejadian saya sedang mengepak kembang api di samping gudang,” tuturnya, Sabtu (28/10/17).

Selain Aji, keempat korban asal Garut lainnya diantaranya Ari, Wildan dan Ridwan. Sementara Mamat alias Slamet Rahmat yang merupakan pekerja bagian teknisi mesin berada di dalam pabrik sehingga tidak bisa menyelamatkan diri. Mamat sendiri hingga kini dilaporkan jasadnya masih belumbisa teridintefikasi.

Sementara itu, keluarga keempat korban yang merupakan satu keluarga di Kampung Karyamukti, Desa Karyamukti, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut masih diliputi suasana duka. Meski anggota keluargannya bisa pulang, namun anggota keluarganya kini harus menderita akibat luka bakar di bagian tangan, leher, kepala dan telinganya.

“Tiba-tiba langsung besar saja api nya, saya juga tidak tau ini tangan sudah luka. Pas kejadian langsung pada keluar lari lewat jalan sempit di dalam pabrik.  Saya berempat yang satu lagi mah bagian mekanik didalam jadi tidak bisa menyelamatkan diri,” ujarnya.

Menurut Kepala Desa Karyamukti, Kecamatan Cibatu, Heru Wedia, Kelima warganya yang jadi korban kebakaran pabrik kembang api di Tangerah memang satu keluarga. Kelima orang korban tersebut merupakan kakak beradik dan paman.

Hingga Jumat (27/10/17) malam, pihak keluarga korban masih belum mendapatkan laporan terkait nasib seorang lagi anggota keluarganya yang jadi korban. Keluarga korban masih menunggu hasil identifikasi Tim DVI. Keluarga korban berharap jenazah anggota keluarganya bisa segera dibawa pulang dan dimakamkan di kampung halamannya.

“Betul warga kami ada lima yang menjadi korban.  Empat diantaranya sudah bisa pulang, satu lagi belum diketemukan, sample darah keluarga sudah diambil tim dokter untuk mencocokan. pihak keluarga berharap segera teridentifikasi supaya dimakamkan di kampung halamannya,” ucap Heru.

Rencananya, keluarga korban hari ini (Sabtu/ 28/10/17) akan bertolak ke Rumah Sakit Polri untuk mencocokan DNA korban meninggal atas nama Slamet Rahmat. (Andri)***

Editor: Kang Cep.

Rumahnya Angker, Kini jadi Alasan Tersangka Pembunuh Bayi di Kampung Patrol

GARUT,(GE).- Beberapa hari pacatragedi pembunuhan bayi usia 3 bulan oleh ibunya sendiri, kini rumah tersangka di kawasan Kampung Patrol, Desa Sindangpalay, Kecamatan Karangpawitan tampak sepi tak berpenghuni, Kamis (26/10/17).

Memang pascakejadian tragis itu, rumah tersebut tidak ditempati lagi, bahkan ayah korban memilih tinggal di rumah saudaranya. Sementara ibu si bayi (alm) masih menjalani pemeriksaan di Mapolres Garut.

Hingga saat ini pihak kepolisian sendiri masih memeriksa kejiwaan tersangka. Polisi dengan dibantu psikiater dari Polda Jabar terus melakukan pemeriksaan intensif untuk mengungkap motif pelaku sebenarnya yang telag sadis menghabisi darah dagingnya sendiri.

Pemeriksaan dengan melibatkan psikiater ini salah satuya untuk memastikan kejiwaan tersangka. Seperti diketahui, sebelumnya CC (27) tersangka tunggal pelaku pembunuhan terhadap anaknya sendiri ini sempat mengakui bahwa tindakan sadisnya dilatar belakagi bisikan ghaib.

Belakangan dari hasil pemeriksaan psikiater dan kepolisian, terangsangka mengakui bahwa rumah yang selama ini ditempatinya memiliki auwa mistis dan angker.

Menurut Kapolres Garut, AKBP Novri Turangga, pihak keoplisian tidak bisa serta merta menerima alasan yang diungkapkan tersangka. Hingga saat ini kepolisian masih menunggu hasil tes kejiwaan terhadap tersangka.

“ Ya, kita sudah minta kepada psikiater untuk dilakukan pemeriksaan kejiwaan. Pemeriksaan sudah dilakukan tinggal menunggu hasilnya. Secara kasat mata sehat, tapi kita tidak bisa menentukan ini sehat atau tidak.  Dari hasil pemeriksaan mengakui semua bahwa dia sebagai pelakunya, kita belum bisa pastikan meskipun ada alasan bahwa rumahnya angker, tapi kita tidak percaya itu sebelum ada hasil dari psikiater,” ungkapnya. (Andri)***

Editor: Kang Cep.

 

Skandal Korupsi di BJB Syariah, Polisi Periksa Pemilik Kios di Garut Super Blok

GARUT (GE).- Sejumlah pemilik kios di pusat perbelanjaan Garut Super Blok (GSB) di Jalan Perintis Kemerdekaan Desa Haurpanggung Kecamatan Tarogong Kidul, dipanggil Direktorat Tindak Pidana Korupsi Mabes Polri terkait dugaan Korupsi pembiayaan oleh Bank Jabar Banten Syariah (BJB) Syariah kepada PT Hastuka Sarana Karya yang menjadi pengembang pembangunan Garut Super Blok.

Dari surat yang dikeluarkan oleh Direktorat Tipikor Mabes Polri tertanggal 12 Oktober 2017, para pemilik kios dimintai keterangan sebagai saksi dalam kasus tersebut pada tanggal 27 Oktober 2017. Salah satu tempat yang dijadikan tempat pemeriksaan adalah Mapolsek Tarogong Kaler.

Dalam surat bernomor S.pgl/2726/X/2017/Tipidkor terhadap salah satu pemilik kios, kasus dugaan Korupsi sendiri berawal dari fasilitas kredit yang diberikan oleh BJB Syariah terhadap PT Hastuka Sarana Karya dalam pembangunan Garut Super Blok.

Sebelumnya, sebagaimana dilansir Liputan6.com, penyidik Direktorat Tipikor Mabes Polri pada 17 Oktober 2017, melakukan penggeledahan di kantor BJB Syariah di Bandung.

Kepala Sub Direktorat V Kombes Indarto mengatakan, dalam kasus ini pihak Bank Jabar Banten Syariah memberikan kredit Rp 566, 45 miliar kepada PT HSK. Pembiayaan sebesar itu tanpa memberikan jaminan atau agunan kepada pihak bank.

“Seharusnya kan tanah induk dan bangunan yang dijadikan agunan, tapi ini tidak. Malah pihak debitur mengagunkan ke bank lain,” katanya, Selasa (17/10/2017).

Dugaan Korupsi tersebut, diduga merugikan negara mencapai setengah triliun rupiah dengan cara mengajukan syarat kredit fiktif kepada BJB Syariah. (Farhan SN)***

Pergi dari Rumahnya Sejak Hari Minggu, Gadis asal Banyuresmi Ini Dinyatakan Hilang

GARUT, (GE).- Melani Khasturi, seorang gadis remaja dinyatakan hilang. Melani merupakan warga Kampung Kiaralawang, Desa Karyamukti, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut. Ia diketahui terakhir kali meninggalkan rumahnya pada hari Minggu sore tanggal 22 Oktober 2017.

” Tanpa diketahui hendak kemana, sore itu Melani pergi dari rumah,” kata salah seorang kerabatnya . Satu hari berlalu, pihak keluarga mengaku mulai cemas, terlebih sejak kepergiannya, hand phone Melani juga tak pernah aktif hiingga saat ini, Rabu (25/10/17).

Dari informasi yang berhasiol dihimpun garut-express.com, kasus menghilangnya gadis yang tercatat sebagai siswi kelas 3 Madrasah Aliyah Karyamuda Banyuresmi itu mulai ditangani pihak Polsek Banyuresmi.

Sementara itu, Rohayah (55) yang merupakan ibu Melani, berharap buah hati kesayanganya itu segera kembali ketengah tengah keluarga dalam keadaan selamat. Empat hari berlalu terasa begitu berat baginya. Seperti dituturkan salah seorang kerabatya, setiap hari Rohayah selalu menagisi anaknya yang hilang.

“ Saya hanya berharap Melani pulang kembali dengan selamat. Pulanglah Nak, Ema rindu,” tuturnya, lirih.

Tak hanya keluarga, teman teman Melani di tempatnya bersekolahpun merasa terpukul dengan menghilangnya Melani . Dimata teman-temanya, Ia tergolong anak yang baik dan gemar menolong. Sayang, tak ada seorangpun dari mereka yang tahu keberadaan Melani.

“Kita berharap Melani kembali pulang, dan berkumpul belajar, bermain bersama kami,” ujar salah seorang teman Melani. (Doni Melodi)***

 

Baznas Salurkan Bantuan untuk Pelajar, Guru Ngaji dan Masyatakat

GARUT, (GE).- Badan Amil Zakat Nasional (Baznas)  Kabupaten Garut kembali menyalurkan bantuan. Kali ini Baznas menyalurkan bantuan untuk kalangan pelajar sebanyak 840 orang dan batuan kepada guru ngaji sebanyak 350 orang. Bantuan yang disalurkan kepada kalangan pelajar dan guru ngaji ini,  merupakan realisasi dari program Garut Cerdas dan Garut Taqwa.

Selain itu,  Ketua BAZNAS Kabupaten Garut, H. Aas Kosasih .S.Ag.M.Si., bantuan juga diberikan untuk program Garut Sehat, kepada penderita hydrosefalus dan penderita tumor di Kecamtan Cibatu. Sehingga total bantuan yang disalurkan mencapai lebih dari Rp 250 juta. Penyerahan bantuan tersebut dilaksanakan di Gedung Pendopo Kabupaten Garut yang dihadiri oleh Bupati Garut, Rudy Gưnawan, Ketua MUI, KH. Sirojul Munir,  perwakilan Baznas pusat dan tamu undangan lainnya.

Usai acara, Ketua Baznas Kabuparen Garut, Rd Aas Kosasih mengatakan, bahwa santunan itu merupakan hasil dari gerakan Ayo Bayar Zakat yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten Garut. Kini, pendapatan zakat, lanjutnya jauh lebih meningkat. Bahkan terobosan pengumpulan zakat oleh Baznas Garut dinilai paling spektakuler Se-Provinsi Jawa Barat.

“Kegiatan ini bertema Gebyar Garut Cerdas dan Garut Taqwa, dengan melakukan Pendistribusian Santunan 1190 Mustahik Dalam Rangka Milad Baznas Yang Ke-1. Artinya dengan adanya gerakan ayo berzakat meskipun di Kabupaten Baznas baru satu tahun berdiri, namun alhamdulillah sekarang sudah terkumpul Rp 2,7 milyar hingga akhir September 2017. Saya optimis sampai akhir tahun nanti akan mencapai Rp 3 miliar,” ujar Aas kepada wartawan, Kamis (19/10).

Aas menambahkan, potensi zakat di Kabupaten Garut ini,  pertahun bisa mencapai Rp 50 miliar. ” Untuk aparatur sipil negara saja,  perbulan bisa mencapai Rp 5 miliar.  Sekarang ini yang masuk ke Baznas baru sekitar Rp 250 juta.  Kalau saja imbauan dari pemerintah ditaati,  pemasukannya jauh akan lebih besar,” ujarnya.

Meski demikian, Ia berterima kasih kepada Bupati Garut dan pemerintahannya yang telah membantu lembaganya, dengan memneri bantuan mobil operasional. “Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati, yang telah memberi bantuan mobil operasional. Bahkan tahun depan rencana pak Bupati akan memberikan kendaraan untuk jemputan zakat ke pasar-pasar dan tempat lainnya. Ini sebuah terobosan yang sangat hebat,” ucapnya.

Ditambahkannya,  kesadaran bayar zakat, infaq dan sodaqoh warga Garut sudah cukup bagus.  Terbukti katanya saat Baznas membuka posko bantuan untuk warga Rohingya,  dalam sehari di area car free day bisa terkumpul Rp.  10 juta. (Jay)***

Editor: Kang Cep.