Sekda Garut Mendapat Kenaikan Pangkat dari Presiden

GARUT, (GE).- Pemda Garut Gelar Upacara Peringatan Hari Kelahiran Pancasila di lapangan Setda Garut dengan khidmat. Acara tersebut di ikuti ratusan PNS di lingkungan Pemda Garut, Pasukan TNI-Polri dan Pemuda Pancasila. Bahkan dalam acara tersebut Bupati Garut Rudy Gunawan menyerahkan kenaikan pangkat otomatis Kepada Sekda Garut Iman Ali Rahman dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Senin (02/10/17).

Sekda Garut, Iman Alirahman

Usai Upacara, Rudy mengungkapkan dirinya mengapresiasi atas kenaikan pangkat otomatis yang diterima Iman Ali Rahman. Pasalnya menurut Rudy, tidak semua orang bisa menerima kenaikan pangkat otomatis. Rudy mengatakan kenaikan pangkat Penata Utama itu adalah penghargaan tertinggi di lingkungan PNS.

” Pak sekda mendapatkan itu, atas prestasi yang di raih. Saya tau pak Sekda ini sangat banyak prestasinya. Makanya kami ajukan dan pak Sekdapun dapat memperlihatkan keistimewaannya. Kenaikan pangkat pak sekda dari 4D jadi 4E, di Jawa Barat hanya satu dua orang,” ujar Rudy.

Sedangkan Sekda Garut Iman Ali Rahman mengungkapkan rasa syukur atas penghargaan yang diraih saat ini. Lebih lanjut Iman menjelaskan penghargaan yang di raih merupakan hasil penilaian dan tes langsung, dari beberapa Sekda yang di ajukan dirinya merupakan salah satu yang lulus.

” Ya alhamdulilah, kenaikan pangkat ini saya dapatkan saat ini. Padahal biasanya ini di berikan di saat masa pensiun nanti. Tapi penilaian ini tinjau dari beberapa prestasi yang saya raih dan di ajukan oleh bupati, ” pungkasnya. (Fauziani)***

Menikmati Sejuknya Udara dan Ranumnya Buah-buahan di Desa Sakawayana

BAGI Imas Purnamasari, S,Sos., M.Si., ada kesan tersendiri saat ditugaskan di Desa Sakawayana, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut sebagai Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dalam program KKN Tematik Uniga 2017, belum lama ini.

Imas mengungkapkan kesannya, bahwa di sekitar Kecamatan Malangbong ternyata memiliki potensi agroindustri yang menjanjikan.

“Ya, sangat terkesan tentunya. Ternyata di sini (Desa Sakawaya/red.) memiliki potensi agrobindustri yang menjanjikan. Di Desa Sakwayana banyak terdapat perkebunan buah-buahan dan sayuran yang seger-seger. Namun saya heran, di sini tanahnya sangat kering, mungkin lagi musim kemarau kali ya,” tutur Imas, seraya menebarkan senyum ramahnya.

Imas yang saat ini tercatat sebagai dosen tetap di Fakultas Ekonomi (Fekom) Universitas Garut (Uniga), berharap, potensi yang ada di kawasan utara Garut tersebut bisa dikelola secara maksimal.

“Iya, seharusnya potensi yang ada ini bisa dikelola dengan maksimal, sehingga bisa meningkatkan sektor ekonomi masyarakatnya,” kata alumnus SMA Muhammadiyah 1 Garut ini, tetap dengan senyuman khasnya. (ER)****

Kepala Desa Pancasura, Sosok Kades Kreatif dari Garut Selatan

SAAT ini sistem informasi dan komunikasi sudah memasuki era digital seperti internet. Radio salah satu media elektronik hampir dilupakan dan bahkan dianggap sudah ketinggalan zaman. Orang sekarang lebih memilih hand phone (HP) sebagai alat informasi dan komunikasi yang setiap saat bisa mengunakan internet.

Penggunaan internet memang ada nilai positif dan negatif. Sisi positifnya, informasi bisa lebih cepat diterima langsung oleh masyarakat. Dan sisi negatif dari internet,  informasi yang didapat belum tentu kebenarannya dan bisa dipertanggung jawabkan atau yang lebih dikenal dengan sebutan (hoax).

Berangkat dari kondisi tersebut, Saeful A Ridho yang juga Kepala Desa (Kades) Pancasura Kecamatan Singajaya berinisiative mendirikan radio komunitas yang kemudian diberi nama “Pancajaya Suara FM”

“Pancajaya Suara FM didirikan dengan tujuan memberikan informasi  yang bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat,”  ucap Saeful.

“Selain itu, bisa menjadi sarana untuk menampung aspirasi, kritikan, khususnya dari masyarakat yang berada di wilayah Kecamatan Singajaya,”  tutur Saeful.

Dengan modal seadanya dan menggunakan peralatan yang sederhana, sudah satu tahun “Pancajaya Suara FM” mengudara.

Disela sela kesibukan sebagai Kades, Saeful selalu menyempatkan untuk menyapa langsung pendengar setia “Pancajaya Suara FM”. Dengan begitu Saeful bisa langsung mengetahui apa yang menjadi aspirasi dari masyarakat, khususnya masyarakat Desa Pancasura.

Ada beberapa program siaran yang selalu ditunggu oleh pendengar setia, seperti Inspektorat “Informasi Seputar Kita dan Masyarakat”, Muspika “Musik Pilhan Indonesia Kasohor, ” KPK “Kawih Panglipur Kalbu” dan Muspida “Musik Pilihan Dari Agama,” serta ADD”Asiknya Dendang Dangdut.”

Masyarakat Singajaya dan sekitarnya menyambut baik akan adanya radio “Pancajaya Suara FM”.
Seperti yang dikatakan oleh Aki Oheng, sesepuh dari Desa Pancasura “Aki ngarasa atoh jeung bangga, aya radio di Pancasura sabab Aki bisa ngadengekeun berita anu keur haneut”.

“Mudah mudahan dengan adanya radio ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, dan menjadi sumber informasi yang bdisa dipertanggungjawabkan,”  tandasnya.  (Dedi Sofwan)***

Anak Sang Legenda asal Makasar Ini Perkuat Persigar di Liga 3

GARUT. (GE).- Bagi penggila sepakbola di tanah air, mungkin sudah tidak asing lagi dengan nama Andi Lala, pemain sayap Timnas Indonesia era Tahun ’70-80 -an. Di masa mudanya, pemain yang satu ini dikenal dengan kecepatan lari dan kemampuan men-dribling bola. Dengan kemampuannya inilah, pemain asal Makasar menjadi salah satu legenda sepakbola nasional.

Kemampuan Andi Lala dalam mengolah si kulit bundar kini menurun pada anaknya, Andi Usman Nahari (22). Kini anak sang legenda asal Makasar itu meniti karirnya Persigar Garut. Andi Usman yang berposisi sebagai gelandang, sebelum bergabung dengan Tim “Maung Sancang” (julukan Persigar), Andi Usman pernah memperkuat Persija di Tropeo Bhayangkara dan Persila, Lahat Palembang.

Pemain yang akrab dengan panggilan Usman itu mengungkapkan, bergabung bersama Persigar, karena diajak pelatih Persigar, Ega Raka Galih.”Saya gabung ke Persigar diajak pelatih. Saya memperkuat Persigar ini tidak hanya cari duit. Tapi tujuan saya juga ingin membawa tim yang saya bela ini, bisa masuk ke Liga Dua,” ujarnya, mantap.

Usman yang sudah masuk sekolah sepak bola sejak kelas dua SDa itu mengaku betah tinggal di Garut. “Kebetulan saya suka dengan udara sejuk seperti Garut ini. Dan teman-teman di Persigar sendiri baik, saling support dan punya misi yang sama untuk membawa Garut lolos ke Liga Dua, jadi saya betah di sini,” katanya, di sela acara launching Garman, Sabtu (05/08/2017).

Seperti sang ayah yang kini telah tiada, Usman juga bercita-cita menjadi pemain Timas Indonesia. Untuk mengejar mimpinya itu, Andi terus menekuni karier sepakbolanya dengan sungguh-sungguh, tak peduli dengan lapangan yang tidak memadai seperti di Garut ini. Ia pun mengaku tak takut dengan kondisi lapangan Kherkhof yang kurang baik.

“Kalau lagi main cedra, yaitu resiko pemain bola. Kalau dibilang lapangan di Garut ini jelek, ya jelek. Tapi mau apa lagi, kita harus tetap siap, apapun kondisinya,” tandasnya. (Jay)***

Dita Puspita Sari, Petenis Meja Prestatif dari SMPN 4 Garut

SATU LAGI talenta muda prestatif muncul dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Garut. Adalah Dita Puspita Sari, salah satu siswi yang kini duduk di kelas 8 E yang kini menekuni cabang olah raga tenis meja.

Adapun prestasi yang diukir oleh Dita Puspita Sari adalah juara 1 katagori kadet putri usia 13-15 tahun. Raihan pretstasi Dita ini didapat di kejuaraan tenis meja Cianjur Cup yang digelar belum lama ini (14-16/7/ 2017).

Dalam kejuaraan tenis meja Cianjur Cup diikuti oleh seluruh atlet tenis meja yang berasal dari kabupaten di Provinsi Jawa Barat serta luar Jabar.
Dalam pertandingan final, Dita Puspita Sari mengalahkan atlet tenis meja yang berasal dari Kabupaten Cianjur atau tuan rumah. Ini merupakan prestasi luar biasa yang dicapai oleh Dita.

Menjadi juara ke 1 di kejuaraan tenis meja Cianjur Cup merupakan langkah awal untuk mencapai cita-citanya untuk menjadi atlet nasional

”Terima kasih kepada kepala sekolah, guru pembina dan orang tua yang telah mendukung dan membina selama ini. Cita-cita sayang ingin menjadi atlit nasional dan mengharumkan nama Kabupaten Garut,” tutur Dita.

Prestasi yang dicapai oleh Dita tentunya tidak terlepas dari pembinaan secara berkesinambungan yang dilakukan oleh sekolahnya. Selama ini menang SMPN 4 Garut menerapkan kegiatan olah raga tenis meja sebagai kegiatan ekstrakurikulernya.

Dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana olah raga khususnya olah raga tenis meja yang ada di SMP Negeri 4 Garut, tidak membuat patah semangat para pembina dalam mencetak bibit bibit atlet untuk bisa berprestasi lagi.

“Dengan menjadi juara 1 di kejuaraan tenis meja Cianjur Cup kategori kadet putri merupakan prestasi yang sangat membanggakan. Ini bisa menjadi motivasi bagi para siswa-siswi yang lain untuk berprestasi” tutur Burhan, selaku kepala SMP Negeri 4 Garut.(Dedi Sofwan)***

Editor: kang Cep.

Menderita Kanker Payudara, Janda Renta Ini Tak Mampu Berobat

DUA puluh tahun sudah Mak Ade Asmanah (55) warga Kampung Cidahu, RT04/05, Desa Neglasari, Kecamatan, Cisompet, Kabupaten Garut ditinggal wafat suaminya. Kini janda yang telah berusia senja ini hidup bersama dua anaknya dalam keterbatasan ekonomi.

Dua anak Ade sendiri hanya bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kelaurganya. Penderitaan Mak Ade kini bertambah, setelah setahun terakhir tubuhnya digerogoti penyakit berbahaya, yakni kanker payudara.

”Pun biang sateuacanna gaduh panyawat mah, calikna di bumi anjeuna,ngurus nyalira margi sateuacan gaduh panyawat mah sok buburuh ngaramet. Kirang langkung tos dua taun pun biang calikna sareng abdi, teras panyawatna kalah langkung kacida. Simkuring salaku putrana bujeng-bujeng tiasa ngalandongan pun biang ka rumah sakit, kango neda sadidinten ge batan sakieu sesahna. Kantenan pun lanceuk teu gaduh padamelan nu puguh,” ungkapnya, seraya menyeka air matanya.

Kondisi penyakit kanker yang diidap Mak Ade tampak semakin parah. Terkait penyakitnya ini, Mak Ade mengaku belum mendapatkan bantuan dari  pemerintah, hanya tetangganyalah yang sudah membantu.

“Belum, belum ada yang bantu, apalagi dari pemerintah. Selama ini hanya  para tetangga yang membantu untuk sekedar makan,” tututnya,lirih. (Iwan Setiawan).***

Editor: Kang Cep.

H. Dadan Wildan, Pengurus Karang Taruna yang Dipercaya jadi Kades Mekarasih

PENGURUS Karang Taruna Desa Mekarasih, Kecamatan Malangbong, H. Dadan Wildan  yang sekaligus pimpinan Majelis Pondok Cendrawasih mengungguli lawan-lawannya dalam perhelatan pilkades serentak di Desa  Mekarasih, Senin, (22/5/17).

Dari lima calon Kepala Desa Mekarasih, Dadan Wildan unggul di TPS Dusun I, yang meliputi Kampung Cipeuteuy, Ciomas, Cirawa, Ciwalur Parapatan, Ciwalur Lebak, Ciwalur Tengah dan Ciwalur Kaler. Dadan berhasil mengumpulkan suara meyakinkan dengan, dengan memperoleh 609 suara.

Sementara di tempat, semisal di Dusun II, yang meliputi Kampung Caringin, Sirnasari dan Kampung Legok 1,  H. Dadan wildan kalah bersaing dengan putra daerah setempat. Selisih 59 Suara dengan Use Suryana asal Sirnasari. Sedangkan di Dusun III, meliputi Legok II, Bangbayang, Cikayulaka, Dadan juga kalah bersaing dengan calon asal daerah setempat yaitu Abdurrahman.  Di TPS ini Dadan hanya meraih 312 suara, sedangkan Abdurahman uggul dengan 398 suara.

Lima orang calon Kades Mekarasih, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut saat bertarung dalam pilkades serentak 2017, (22/5/17) foto : TAF Senopati/GE.

Namun, secara keseluruhan H. Dadan Wildan unggul dengan meraih 1127 suara. Kemenangan Dadan memang sudah diprediksi sebelumnya oleh sebagian besar warga Desa Mekarasih. Selain masih berusia relatif muda yaitu  35 tahun, Ia juga dinilai sosok yang berhasil dalam mengelola karang taruna.

Menurut warga setempat, loyalitasnya pada generasi muda sangat terasa. Tak heran H. Dadan mendapatkan simpati warga, hingga akhirnya bisa terpilih dalam pilkades ini.

Menurut Wakil Ketua Karang Taruna Desa Mekarasih, Maman, secara kelembagaan organisasi karang taruna itu bersipat netral. Namun pilkades masyarakat memiliki pilihan masing-masing.

” Secara pribadi saya menjadi tim sukses pemenangan H. Dadan Wildan.  Secara kelembagaan karang taruna itu plat merah,”  ujarnya .

Sebagai Kepala Desa terpilih, H. Dadan Wildan menyebutkan, kemenangannya dalam pilkades ini sebenarnya amanah masyarakat Desa Mekarasih. Sebab itu dirinya  berjanji akan bersungguh- sungguh menjalankan amanah warganya dengan baik.

Meski masih berusia muda, namun kecintaannya pada tanah kelahiran  membuatnya tergerak hati  untuk mencalonkan sebagai kepala Desa Mekarasih.

“Saya menginginkan Mekarasih menjadi lebih baik. Untuk mewujudkan itu, tentunya harapan saya dukungan dan kerjasama semua pihak, khususnya wara Mekarasih. Terutama khusus  tim sukses yang senantiasa berjibaku dalam mensukseskan kemenangannya. Saya mengajak agar terus menjadi tim yang solid guna membangun Desa Mekarasih,” ungkapnya.

Dalam waktu yang sama, di tempat berbeda, di Desa  Sukamanah, Kepala Desa petahana, Aten kembali terpilih untuk memimpin Desanya. Untuk di Desa Mekarmulya, pendatang baru yang merupakan guru SMPN 1 Malangbong, Mumu Mustofa, STA dipilih warganya untuk memimpin Desa Mekarmulya. Di Desa Citeras, calon incumbent Cecep Aliansyah, kembali memimpin Desa Citeras untuk periode berikutnya. Sementara di Desa Sukajaya, tokoh muda energik pengurus NU berhasil berhasil mengungguli lawan lawannya dalam pilkades di Desa Sukajaya. (TAF Senpati /GE)***

Editor: Kang Cep.

Lidya Da Vida, Anggota Majelis Hakim Pengadil Kasus Anak Gugat Ibu Kandung Rp 1,8 Miliar. Lembut di Luar, “Garang” di Persidangan

ADA yang menarik pada setiap pergelaran sidang kasus anak menggugat ibu kandung Rp 1,8 miliar di Pengadilan Negeri (PN) Garut. Ya, kehadiran sosok wanita muda yang duduk sebagai anggota majelis hakim pada persidangan tersebut.
Namanya Lidya Da Vida. Meski baru setahun bertugas di PN Garut, kehadirannya cukup menyedot perhatian para pengunjung persidangan. Bukan hanya karena paras cantiknya, sikapnya yang humanis membuat para kuli berita betah berlama-lama berbincang dengan wanita kelahiran Medan 33 tahun lalu ini.
Namun begitu di persidangan, wibawanya sebagai seorang pengadil kerap membuat para terdakwa ketar-ketir. Lidya, sapaan akrabnya, selalu bersikap tegas dalam menyikapi persidangan.
Ketika disinggung mengenai profesinya itu, Lidya mengaku enjoy. Selama delapan tahun bertugas, kata Lidya, memang banyak suka dukanya.
“Ya, yang pasti saya senang menjalani profesi ini. Di sini saya banyak melihat bagaimana perubahan seseorang dari yang buruk menjadi baik, di sini juga terkadang muncul naluri keibuan saya ketika menangani kasus tertentu,” kata Lidya kepada wartawan yang mewawancarainya usai persidangan.
Sebagai seorang hakim, kata Lidya, dirinya akan terus menjaga sikap profesionalisme dalam menangani setiap perkara. Begitu juga saat menangani kasus gugatan anak dan menantu yang menggugat ibu kandungnya sendiri. Kasus Yani Handoyo vs Amih yang kini ditanganinya.
“Yang pasti kami akan menjadi pengadil yang netral dan profesional, dalam semua kasus. Tak terkecuali kasus ini,” ungkapnya.
Menurut Lidya, sebagai seorang hakim dirinya tidak bisa berargumen terhadap suatu kasus.
“Saya nggak bisa berkomentar banyak mengenai kasus ini, hakim kan penengah, tidak boleh berpihak pada tergugat maupun penggugat,” katanya.
Lidya sendiri dipastikan kembali menjadi anggota majelis hakim pada persidangan kesembilan kasus gugatan perdata Yani-Handoyo terhadap Siti Rohaya (83) . Persidangan selanjutnya akan digelar di PN Garut, Kamis (13/4/17) mendatang. Agenda sidang, mendengarkan keterangan saksi-saksi dari kedua belah pihak. (Mempis/GE)***
Editor : SMS

Serda Romli, Sang Prajurit Pendidik

KESIBUKAN tugasnya di dunia militer sebagai anggota Koramil 1119 Pameungpeuk, tidak menjadi halangan bagi Serda Romli untuk berkiprah di dunia pendidikan. Di sela aktivitas pokoknya, ia masih sempat mengelola Yayasan Al-Mas’udiyah dan menjadi Kepala MI Al-Wasilah, di Kampung Nangela RT 04 RW 01, Desa Karangsari Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Yayasan yang didirikannya tahun 2002 itu menaungi pendidikan anak usia dini (PAUD), madrasah ibtidaiyah (MI) dan masrasah tsanawiyah (MTs) Al-Wasilah. Saat ini lembaganya eksis membina 198 orang siswa, terdiri 24 siswa PAUD, 123 MI, dan 51 siswa MTs. Selama ini para siswa mengikuti kegiatan belajar di bangunan Pesantren Al-Wasilah, dan 3 lokal bangunan lainnya hasil swadaya yayasan dan masyarakat yang didirikan di atas tanah wakaf keluarga Serda Romli sendiri.

Langkah tersebut dilakukan suami Linlin Setiani ini sebagai wujud keterpanggilan jiwa seorang prajurit sejati dalam ikut serta menyukseskan pendidikan dasar berbasis agama Islam di wilayahnya.

“Menyadari tinggal di daerah terpencil dengan letak wilayah yang jauh dari sarana pendidikan, saya terpanggil untuk mendirikan yayasan pendidikan,” ujar ayah darii empat orang anak, yakni Dila Puspita Ramadanti, Romi Agustin, Jingga Desnawati, dan Salma Kania Pebriani ini

Sebagai konsekwensi aktivitas yang dijalaninya, Serda Romli marus piawai membagi waktu, pikiran, tenaga, dan materi. Terlebih, dirinya mendapat tugas membina desa, yakni sebagai Babinsa Desa Mandalakasih Kecamatan Pameungpeuk. Namun semuanya dapat dijalani pria kelahiran Garut, 14 Mei 1967 itu dengan baik. Tiada lain, itu berkat dukungan atasannya, Danramil 1119 Pameungpeuk, Kapten ARM Darso, serta restu dari Dandim 0611 Garut, Letkol ARM Setyo Hani Susanto, S.Ip.

“Dalam menjalankan aktivitas selalu berkoordinasi dengan pimpinan, Alhamdulilah bisa berjalan dengan baik berkat restu dan arahan beliau,” tuturnya.

Sebelumnya, masyarakat setempat yang ingin menyekolahkan anaknya ke PAUD dan MI, harus rela menyaksikan kepergian anaknya menuntut ilmu dengan menelusuri jalanan terjal sejauh 3 km. Terlebih untuk melanjutkan ke  MTs, mereka harus melewati jalanan rusak menuju desa tetangga, Desa Linggamanik dengan jarak tempuh sekira 8 km. Selain itu,  juga harus ekstra hati-hati menaiki jembatan rawayan melewati derasnya Sungai Cipasarangan sepanjang 25 meter  dengan kayu penyangga banyak yang lapuk.

Namun, diakui Serda Romli, lembaga pendidikan yang didirikannya masih membutuhkan kelengkapan sarana prasarana. Untuk itu, dengan segenap kemampuan ia bertekad mewujudkannya.

“Seiring berjalannya waktu, melalui lembaga terkait  di berbagai kesempatan, kami berupaya menempuh segala prosedur untuk memenuhi kekurangan sarana prasarana pendidikan,” cetusnya.

Ternyata, sepak terjang tentara yang meniti karier militer sejak tahun 1987 ini di dunia pendidikan bukan yang pertama. Selama 12 tahun ia sempat menjadi guru  Penjaskes di Mts dan MA Al-Falah Desa Linggamanik dan di MTs. Al-Khoeriah Desa Ciroyom. Kini eksis pula membina Paskibra dan LDDK SMAN 5 Garut.

Tugas kemiliteran Serda Romli sendiri dimulai di Batalion Infanteri 310 Brigif 15 Kujang Sukabumi. Kemudian dipindahtugaskan ke  Kodam III Siliwangi, lalu Korem 062 Tarumanagara Setelah itu ke Kodim 0611 Garut, dan sekarang ia bertugas di Koramil 1120 Cikelet dan Koramil 1119 Pameungpeuk. (Roy/GE)***

Editor : SMS

Guru Sukwan ini Menggadaikan KTP-nya demi bisa Kuliah, Bagaimana Ceritanya…

KISAH pilu guru sukwan seolah tak pernah habis. Perjalanan karirnya yang pahit kerap kali jadi penghias berbagai media massa. Mengabdi puluhan tahun sebagai pendidik seperti tak pernah mendapatkan penghargaan dari pemangku kebijakan.

Gajinya yang jauh dari kata layak, tak sedikit memaksa sejumlah guru honorer untuk mendapatkan penghasilan dari usaha lain. Julukan “Pahlawan tanpa Tanda Jasa” yang disematkan untuk para guru yang sejak zaman “baheula” hingga sekarang tak lebih dari sekadar pemanis belaka.

Satu dari sekian banyak kisah pilu guru sukwan atau honorer dialamai pendidik di kawasan Garut Selatan. Adalah salah seorang guru sukwan yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mendidik di  SDN 2 Margamulya, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Setiap hari Neli, sapaan akrabnya, harus menempuh perjalanan berkilo meter dengan menggunakan speda motornya untuk bisa mengajar di SDN 2 Margamulya. Seiring tuntutan profesinya sebagai guru, ia pun diharuskan memiliki gelar S1 untuk memenuhi kompetensinya sebagai guru. Dengan motor kesayangannya itu pula, Neli “ngeureuyeuh” menempuh pendidikan tingginya di kota Garut.

Neli menceritakan salah satu kisah pilunya menjadi seorang guru sukwan. Satu ketika ia melakukan perjalanan Cisompet-Garut Kota untuk kuliah kelas karyawan di salah satu perguruan tinggi terkemuka. Belum separuh perjalanan, tiba-tiba ban motornya kempes. Setelah ditambal, tepat di bilangan Kampung Sodong ban motornya kempes lagi. Padahal perjalannan ke kota Garut masih sangat jauh.

Namun, sesampainya di tukang tambal ban berikutnya, ban motor tersebut malah sobek. “Ini tidak bisa ditambal bu, harus diganti yang baru. Begitu kata tukang ban. Dalam hati saya bingung karena sisa uang hanya tinggal Rp 12.000. Dengan bekal nekat dan malu, akhirnya KTP saya simpan di tukang tambal sebagai jaminan. Karena uang tidak akan cukup untuk membeli ban yang baru,” kenangnya.

Diungkapkannya, kisah memilukan yang dialaminya bukan saja soal ban kempes. Saat pulang kuliah dari Garut, tak jarang harus basa kuyup kehujanan.

“Kisah menyedihkan seperti ini biasa saya alami. Bahaya di pejalanan saat hujan, seperti sambaran petir dan longsoran tanah menjadi hal yang biasa,” tutur ibu dua anak ini kepada “GE”, lirih.

Neli yang dilahirkan pada 2 Februari 1984 juga bersuamikan seorang pekerja di lingkungan pendidikan.  Arman, suami Neli, adalah seorang operator di sekolah yang sama (SDN 2 Margamulya) Kampung Datar Waru RT 01/RW 05, Desa Margamulya, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut.

Dengan semangatnya yang tinggi, meski dengan tertatih akhirnya Neli bisa meraih gelar S1. Namun impian yang diidamkannya menjadi seorang PNS hingga saat ini belum juga terwujud.

“Dengan susah payah dan izin suami tentunya, Alhamdulillah saya bisa meraih gelar S1. Saya bekerja keras untuk memenuhi standar komptensi sebagai guru. Namun sudah puluhan tahun impian menjadi seorang PNS sepertinya masih angan-angan saja. Mungkin ini sudah takdir saya, ” tuturnya, seraya menyeka air matanya. (Iwan Setiawan ).***

Editor: Kang Cep