Inovasi Berbasis IT Karya Pelajar Garut Berbuah Penghargaan Nasional

BELUM lama ini sejumlah pelajar SD dan SMP asal Garut mendapatkan penghargaan di tingkat nasional untuk karya inovatifnya yang berbasis IT (Informasi dan Teknologi). Untuk menunjukan kreasinyanya barau baru ini sejumlah pelajar mendemonstrasikan hasil karyanya di hadapan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Garut, Nurdin Yana, bbeserta jajarannya.

“Baik atas nama pribadi maupun Pemkab Garut, kita tentu mengapresiasi atas prestasi anak-anak di bidang teknologi informasi ini. Apalagi hasil karya ini telah mendapatkan penghargaan di ajang tingkat nasional,” ujar Nurdin, seusai menyaksikan kreasi yang diperagkan para siswa di Kantor Diskominfo Garut, Sabtu (4/11/2017).

Nurdin berjanji, pihaknya akan berupaya memediasi dan memfasilitasi dengan SKPD terkait agar betul-betul mendapat perhatian.

Sementara itu, diantara kemampuan dipertontonkan para siswa di hadapan Kadiskominfo adalah karya Saron Simulator yang kemudian dikembangkan menjadi Gamelan Simulator. Karya ini berhasil memenangkan INAICTA 2014 dan Merit Award APICTA Awards 2014.

Disamping itu, komunitas anak penggemar IT ini juga berhasil membuat beberapa karya inovatif lainnya. Tahun 2015, tercatat karya mereka masuk finalis INAICTA 2015. Kemudian pada tahun 2016, para pelajar kretaif ini berhasil juga membuat karya inovasi berupa Lab Komputer Mini, unutuk karya terakhir para pelajar ini diganjar penghargaan dari Satu Indonesia Awards 2016.

“Kami juga dapat informasi pada akhir Oktober 2017 anak-anak alumnus SD Negeri Regol 10 Garut ini juga berhasil memikat juri Geo Inovation Bootcam 2017 di Bogor. Yakni karya pemetaan pelajar dari keluarga miskin oleh pelajar. Hasil karya mereka berhasil menyisihkan hampir 270 kontestan termasuk mahasiswa dan pelajar,” ungkapnya.

Diejlaskannya, tim yang diberi nama Tim 17 Pemetaan ini juga telah dinobatkan sebagai 10 inovasi informasi geospasial terbaik 2017 oleh BIG. Pemberian penghargaan diberikan langsung oleh Menteri Perencanaan Pembangunan (PPN) Nasional/Kepala Badan Perencanan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) Prof. Dr. Bambang P.S. Brodjonegoro.

Sementara itu, saat dihadapan Kadiskominfo, salah seorang pembimbing Tim 17, Dewis Akbar, menyampaikan harapannya adar Diskominfo dapat memfasilitasi pertemuan dengan para kepala sekolah baik SD maupun SMP agar dapat dirintis kegiatan serupa di sekolah yang lain.

“Dengan demikian pelajar Garut yang bisa diajak berkolaborasi menghasilkan karya TIK yang bermanfaat ini akan lebih banyak lagi,” harap Dewis.

Dewis menjelaskan, sesuai permintaan Diskominfo, aplikasi yang baru saja meraih apresiasi dari BIG (Badan Informasi Geospasial) ini akan dikembangkan lebih luas agar dapat memetakan seluruh warga miskin yang bersinergi dengan program Dinas Sosial. Pihaknya juga akan mencoba bekerja sama dengan Dinas Kesehatan untuk dapat di-overlay dengan data ibu hamil dari posyandu sehingga bisa diperoleh data ibu hamil dari keluarga kurang mampu.

“Selanjutnya data dapat menjadi rujukan pemberian prenatal care serta support nutrisi bayi guna menurunkan tingkat kematian bayi serta mencegah gizi buruk,” ungkapnya.

Sementara itu Ketua Relawan TIK (Teknologi Informasi Komunikasi) Garut, Rikza M. Nasrulloh, menuturkan, tujuan kedatangan mereka adalah beraudiensi dengan Kepala Dinas Kominfo Garut agar mengetahui bahwa di Garut ada komunitas yang secara konsisten melakukan pendidikan TIK yang kontinu kepada anak-anak. Tak hanya itu, komunitas ini juga konsisten tiap tahun mengharumkan nama Garut di tingkat nasional bahkan internasional.

“Kami sangat berharap Dinas Kominfo Garut dapat memfasilitasi upaya replikasi kegiatan serupa agar makin banyak pelajar sebaya mereka yang belajar TIK, baik dasar maupun lanjutan. Sehingga makin banyak pelajar Garut yang lebih produktif dengan TIK, khususnya belajar coding untuk membuat aplikasi”, harapnya. (Tim GE)***

Bangunan SLB 2 At Turmudzi Diserang Rayap, Tiga Ruang Kelas Tak Bisa Digunakan

GARUT,(GE).- Kondisi bangungan SLB 2 At Turmudzi mengkhawatirkan. Pasalnya,
SLB yang beralamat di Jalan Raya Cibares-Malangbong, Garut yang baru 3 bulan
lamanya direhab tersebut diserang rayap, akibatnya beberapa material kayu di
bagian langit-langitnya keropos.

“Sebenarnya, selama bangunan sekolah tersebut berkonstruksi kayu, sampai kapanpun
akan tetap diserang rayap. Pasalnya, tempat berdirinya bangunan SLB 2 At-Turmudzi
berada di lahan dataran tinggi. Di samping kiri dan belakang bangunannya diapit
oleh kebun bertumbuhan, seperti semak belukar, rumput ilalang, dan bambu.
Suasananya lembab dan kurang tersinari matahari. Keadaan itu membuat rayap betah
bersarang sambil memakan kayu,” ujar Jajang Suparman,S.Pd., yang baru menjabat
sebagai Kepala SLB 2 At-Turmudzi menggantikan Lili Lasmaya yang telah purna
tugas, pada bulan September tahun ini,.

SLB 2 At Turmudzi sendiri berdiri di atas lahan seluas 350 meter persegi. Dengan
luas tanha tersebut dibagi beberapa bagia. 50 meter persegi diganakan halaman
sekolah, sisanya yang 300 meter persegi ditempati bangunan gedung sekolah yang
berjumlah 7 ruang kelas.

Dari tujuh ruang kelas itu, kini hanya 4 ruang kelas yang masih layak ditempati
untuk kegiatan belajar mengajar (KBM). Sedangkan 3 ruang kelasnya lagi, yakni
ruang kelas SMALB, SMPLB dan SDLB sudah rusak diserang rayap.

“Saat ini ketiga ruangan yang berukuran sama 5X6 meter itu tidak digunakan lagi.
Soalnya ketiga ruang tersebut kondisinya mengkhawatirkan. Lihat ini! Konstruksi
material kayunya sudah rusak, langit-langitnya nyaris ambruk,” kata Jajang
Suparman, Sabtu (4/11/17).

Dokatakannya, dengan kondisi bangunan seperti itu, pihak sekolah mengaku khawatir
material bangunan mendadak ambruk. Makanya pengelola sekolah berinisiatif pelajar
berkebutuhan khusus dievakuasi. Mereka untuk sementara disatukan dalam ruangan
kelas yang masih digunakan, yaitu ruang kelas B untuk SMALB, SMPLB dan SDLB.

” Kami berharap pemerintah segera membantu merenovasinya. Kami sangat
mengharapkan ada bantuan khusus untuk merenovasi bagunan SLB 2 At-Turmudzi.
Kasihan, dengan kondisi bangunan seperti ini anak anak jadi tidak nyaman dalam
belajarnya,” tutur Jajang, lirih. (Ilham Amir)***

Editor: Kang Cep.

Percantik Lingkungan Sekolah, Orangtua Siswa SDN 1 Citangtu Bergotong royong

SEBAGAI wujud kepedulian dan kecintaannya terhdapa lingkungan sekolah, baru baru ini sejumlah warga yang mayoritas orang tua murid SDN 1 Citangtu, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut bergotong royong melakukan penataan dan pemeliharaan lingkungan sekolah. Kegiatan yang diprakarsai oleh komite sekolah SDN 1 Citangtu ini telah berlangsung sejak Selasa 31 Oktober 2017.

Gelaran kegiatan dengan dana swadaya tersebut, menurut sekertaris komite SDN 1 Citangtu,Dadan Farid Ridwan, merupakan wujud sinergitas antara pihak penyelenggara pendidikan dengan masyarakat setempat,” katanya.

“Perihal nilai nilai kepedulian di lingkungan keluarga besar SDN 1 Citangtu, Alhamdulillah partisipasinya masyarakat cukup tinggi. Termasuk upaya penataan halaman sekolah yang sekarang kita bangun melalui pemasangan paving block, dan lantai cor. Semuanya murni sebagai wujud kepedulian orang tua murid yang difasilitasi komite. Boleh dibilang juga sebagai ungkapan syukur dan rasa terimakasih karena selama ini anak anak kami sudah dididik dan dibekali ilmu ditempat ini secara gratis. Alhamdulillah, sebelumnya juga kami mendapat bantuan untuk pemagaran sekolan, ini semua buah dari pengajuan pihak sekolah,” ungkap Dadan.

Dikatakannya, tingginya partisipasi masyarakat sekitar, ditandai dengan bermunculanya berbagai bentuk swadaya. Mulai dari tenaga hingga besar anggaran yang terkumpul mencapai belasan juta rupiah. Dengan penataan halaman tersebut, diharapkannya dapat semakin meningkatkan gairah belajar mengajar. Apalagi dalam beberapa tahun ini, menurutnya grafik Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) SDN Citangtu 1 cukup meningkat dengan ditandai beberapa raihan prestasi siswa.

“Melalui beberapa kali rapat koordinasi, akhirnya kegiatan penataan lingkungan sekolah ini dapat kita laksanakan. Banyak pihak terlibat, mulai tokoh hingga para pekerja dari kalangan orang tua murid. Luar biasa semangatnya, bahkan mereka bekerja hingga malam hari agar pekerjaan cepat tuntas dan segera dinikmati para murid. Kita (komite) hanya memfasilitasi saja sesuai fungsinya, yakni menggalang dana dari luar,” jelasnya.

Sementara itu, Piah S,Pd., selaku Kepala SDN Citangtu 1, mengaku terharu atas respon positif dari para orang tua anak didiknya tersebut. Dia mengangapnya hal ini sebagai kado spesial selama setahun lebih menjabat sebagai Kepala Sekolah.

” Memang sebelumnya kita sempat bicarakan keinginan untuk menata halaman sekolah ini. Nampaknya pihak komite begitu respon dan tak disangka dapat terlaksana melalui swadaya secepat ini. Alhamdulillah, saya secara pribadi mengucapkan terimakasih yang begitu besar terutama kepada para orang tua murid . Tentunya sinergi yang telah terbangun dengan baik ini akan menjadi pemicu bagi saya pribadi dan para guru untuk mencetak generasi didik yang cerdas sesuai tujuan undang undang dasar,” pungkasnya. (Doni Melodi Surya)***

Editor: Kang Cep.

Menunggu Kadisdik Definitif, Bupati Lantik Djatjat Darajat sebagai Plt Kadisdik Garut

GARUT, (GE).-  Posisi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut definitif dipastikan baru akan ada setelah usai pilkada Garut 2018. Untuk mengisi kekosongan kursi Kadisdik, akhirnya Bupati Garut, Rudy Gunawan mengukuhkan dan melantik Djatjat Darajat sebagai pejabat pelaksana tugas (Plt)  Kadisdik Garut menggantikan Dede Sutisna yang masuk masa pensiun. Prosesi pelantikan Plt Kadisdik Garut berlangsung di Gedung Pendopo, Kabupaten Garut, Rabu (01/11/17).

Dalam sambutannya,Rudy Gunawan mengatakan, pengukuhan Plt. Kadisdik tersebut bertujuan untuk meningkatkan pelayanan masyarakat, khususnya sektor pendidikan.

“Hari ini pejabat yang ditetapkan sesuai dengan berita acara serah terima jabatan (sertijab/red.) yang dibuat oleh pejabat Sekretaris Dinas Pendidikan (Sekdisdik) Kabupaten Garut, pak Dede Sutisna. Berita acara tersebut memuat penyerahan jabatan kepada Pak Djatjat Darajat sebagai Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, dan Yudha Iman Primadi sebagai Plt Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Garut,” ungkapnya.

Rudy menambahkan, adanya 35 kepala sekolah yang masih kosong akan segera dibereskan pada bulan Desember 2017. Menurutnya, saat ini Pemkab Garut fokus mendata sekolah-sekolah yang rusak di tingkat desa.

“Untuk meningkatakan kualitas pendidikan masyarakat dan perangkat Desa, tahun ini pemerintah akan mendirikan sekolah-sekolah PKM di desa desa,” katanya. (Fauziani)***

Editor: Kang Cep.

 

Jabatan Kadisdik Kosong Hingga 2018, Besok Plt Kadisdik dan Sekdisdik Dikukuhkan

GARUT, (GE).- Sejumlah pihak menilai jabatan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) sangat penting, khususnya di Garut.  Tak heran, setelah Kadisdik lama, H. Mahmud lengser dari jabatannya, hingga saat ini Pemkab Garut  seolah “kesulitan” untuk menemukan sosok Kadisdik ideal.

Dalam pemberitaan garut-express.com sebelumnya, Pemkab Garut telah merencanakan digelarnya lelang jabatan, salah satunya posisi Kadisdik. Bahkan, Pemkab Garut katanya sudah menunjuk panitia seleksi. Namun dengan alasan terganjal Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2015, lelang jabatanpun urung dilkaksanakan.

Khusus untuk Dinas Pendidikan, yang Plt nya saat ini dijabat Dede Sutisna, kembali akan diganti. Pasalnya, Dede Sutisna akan memasuki masa pensiun per bulan November 2017. Plt. Kadisdik pengganti Dede sendiri direncanakan akan dikukuhkan besok, Rabu (1/11/17).

Kabarnya Plt. Kadisdik akan dijabat oleh Djatjat Darajat, sementara untuk Plt. Sekretaris Disdik akan dijabat Yudha.  Kedua pejabat pelaksana tugas di lingkungan Disdik Garut tersebut dikethaui merupakan pejabat eselon dua dan tiga.

Dalam surat undangan yang ditujukan untuk pihak pihak terkait dengan ditandatangani Plt. Kadisdik Garut, Dede Sutisna, prosesi pelantikan atau pengukuhan Plt. Kadisdik dan Sekdisdik  akan dilaksanakan mulai pukul 9.00 WIB di Gedung Pendopo Garut, besok, Rabu (1/11/17). (ER)**

Ratusan Guru Berstatus ASN Pensiun, Sekda Garut : Beban Kerja Guru Non ASN akan Bertambah

GARUT,(GE).-  Setiap tahuannya di Kabupaten Garut tercatat ada ratusan guru yang berstatus Aparatur Negeri Sipil (ASN) atau PNS yang memasuki masa pensiun. Dampaknya, jumlah guru yang berstatus ASN terus berkurang. Di sisi lain pengangkatan guru honorer menjadi ASN masih dibatasi pemerintah pusat.

Menurur Sekretaris Daerah Kabupaten Garut, Iman Alirahman, setiap tahunnya sekitar 300 sampai 400 guru memasuki masa pensiun. Banyaknya guru yang pensiun tentunya sangat mempengaruhi terhadap proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah.

“ Sebetulnya, BKD (Badan Kepegawaian dan Diklat) sudah ajukan kebutuhan formasi untuk guru ASN. Tapi belum bisa dipenuhi pemerintah pusat,” katanya, Minggu (29/10/17).

Dijelaskannya, dari data terakhir ada 12 ribu guru ASN,  sementara guru non ASN mencapai 7 ribu lebih. Banyaknya guru yang pensiun tak diimbangi dengan pengangkatan guru. “Kemarin saja kategori 2 itu hanya 1.000 an yang diangkat menjadi guru. Sementara kebutuhannya lebih dari itu. Masih terkendala aturan di Kemenpan soal pengangkatan ASN,” tukasnya.

Jika tahun depan tak ada pengangkatan guru ASN, Sekda menyebut akan menyulitkan sekolah. Walau begitu pihaknya sangat terbantu dengan adanya guru sukarelawan (sukwan) yang ada di sekolah-sekolah.

“Perhatian Pemkab ke sukwan sebenarnya besar. Tapi jumlahnya banyak, jadi tak terasa. Kalau daerah lain sukwannya hanya sedikit jadi pemerintah seperti memberi perhatian yang lebih,” katanya.

Iman mengatakan terkait pengangkatan ASN berada di ranah pemerintah pusat. Kebijakan pengangkatan ASN masih sangat terbatas. Diharapkannya formasi untuk guru dan tenaga kesehatan bisa kembali dibuka.

“Yang masuk kategori 2 saja masih ada 4 ribu. Di luar itu (kategori 2) ada sekitar 12 ribu. Sebenarnya kami berharap ada pembukaan kembali karena memang sangat dibutuhkan,” katanya.

Pada tahun 2018 dipastikan guru yang measuki masa pensiun akan bertambah. Jika dibiarkan, maka beban kerja guru non ASN bisa bertambah. Sedangkan harapan untuk diangkat tidak jelas.  (Tim GE)***

“ Kemah Qur’an,” Ajak Siswa Dalami Al Qur’an di Alam Terbuka

MENDALAMI dan menghafal Al Qur’an di alam terbuka nan sejuk menjadikan sensasi tersendiri bagi para pelajar atau santri. Hal inilah yang dirasakan ratusan pelajar tingkat sekolah dasar di Kabupaten Garut.

Baru-baru ini ratusan pelajar ini diajak menikmati wisata religi dalam sebuah acara bertajuk “Kemah Qur’an” di area perkemahan Cilopang, tepanya di kaki Gunung Guntur , Kecamatan Tarogong kaler, Kabupaten Garut.

Selain mendalami dan menghafal Al Qur’an, para pelajar juga diperkenalkan dengan olahraga yang memacu adrenalin. Pengenalan olah raga out bond bagi pelajar ini dirasakan perlu untuk melatih kebernaian anak dan survive di alam bebas.

Menurut Soni Ahmad , Kepala Taman Qur’an Al Furqon (SDTQ) Al Furqon, Kecamatan Cibiuk, dengan konsep alam bernuansa alam ini, diharapkan anak didiknya bisa cepat menyerap hafalan dan lebih menghargai alam ciptaanNYA.

“ Dalam kegiatan Kemah Qur’an ini, anak anak diharapkan bisa lebih menghargai alam cipaan Yang Maha Kuasa. Para pelajar juga diajak lebih khususk beribadah di alam terbuka. Para siswa diajak berjamaah shalat di tenda, kita pun mewajibkan anak anak untuk menghafal setiap ayat di setiap waktu istirahat, “ ungkapnya.

Ditambahkannya, dengan kegiatan berkemah ini juga para pelajar dilatih untuk hidup mandiri, tidak tergantung oada orang tuannya. Mereka dibina untuk dapat hidup bersosial, menjaga kekompakan, dan bertanggung jawab terhadap tugasnya.

“Selain itu, anak anak pun dikenalkan pengetahuan bagaimana menjaga alam dan lingkungan sekitar,” katanya. Alhamdulillah, konsep Kemah Qur’an ini disukai anak didik kami,” katanya.

Jaenal Arif , salah seorang peserta kemah mengaku senang bisa belajar dan menghafal Al Qur’an, dan bermain di alam terbuka. “Pokoknya seru. Kita bisa belajar dan bermain bersama teman teman di alam terbuka. Selain bisa belajar dan menghafal Al Qur’an, bersama temean-teman kita juga bisa bermain dengan seru dan mengasyikan,” ungkapnya.

Menurut panitia penyelenggara,dalam hal ini SDTQ Al Furqon, kegiatan Kemah Quran tahun ini (2017) merupakan yang kedua kalinya digelar. Untuk meningkatkan keterampilan siswa, kegiiatan tersebut diwajibkan kepada semua siswa, mulai dari kelas satu sampai enam. (Andri)***

Editor: Kang Cep.

SMPN 1 Sukawening Borong 7 Penghargaan Prestasi Jenjang SMP Tahun 2017

GARUT, (GE).- Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Sukawening kembali menorehkan prestasi. Dalam gelaran “Samen Kabupaten dan Pemberian Penghargaan Prestasi Jenjang SMP Tahun 2017”, di Pendopo Garut, Selasa (3/10/2017), SMPN 1 Sukawening meraih 7 penghargaan dari Pemda Garut. Disamping itu, satu penghargaan bergengsi dari kejuaraan pencak silat terbuka tingkat se-Nasional Asia Eropa. Penghargaan tersebut diserahkan langsung Bupati Garut, Rudy Gunawan dan diterima Kepala SMPN 1 Sukawening Aceng Mulyana.

Bupati Garut Rudy Gunawan, menyampaikan, sangat mengapresiasi kegiatan ini. Kepada siswa-siswi yang berprestasi pun akan diberikan reward yang lebih baik lagi. “Di tahun 2017 ini, bidang pendidikan di Kabupaten Garut ini memang sarat prestasi, baik di kalangan siswa, guru maupun kepala sekolah. Itu semua karena kerja keras semua pihak untuk terus meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Garut,” ucap Rudy.

Penghargaan yang diraih SMPN 1 Sukawening itu bisa dikatakan prestasi yang luar biasa karena bisa melebihi perolehan penghargaan yang diraih SMP ternama lainnya di Kabupaten Garut.

Dimintai tanggapannya, Aceng Mulyana, mengatakan untuk mencapai semua ini perlu proses dan kerja keras. “Hampir sekitar 2 tahun seluruh elemen mulai dari komite sekolah, kepala sekolah, staf pengajar dan para anak didik bahu membahu untuk membangun pendidikan yang bermutu,” katanya.

Ditegaskan Aceng, lokasi sekolah yang jauh dari pusat kota, serta memiliki sarana dan prasarana yang sederhana tidak membuat patah arang untuk memajukan sekolah. Ia mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Garut khususnya Bidang SMP, yang selalu mendukung dalam melaksanakan berbagai kegiatan dan program sekolah. Ucapan serupa juga disampaikan kepada semua stakeholder yang ada di lingkungan sekolah, mulai dari komite sekolah sampai dengan anak didik. Berkat kerja sama yang baik dan solid dari semua pihak itulah, prestasi ini bisa diraih.

Dalam waktu dekat, SMPN 1 Sukawening akan melakukan persiapan untuk menghadapi Lomba Sekolah Sehat (LSS) tingkat Provinsi Jawa Barat mewakili Kabupaten Garut. “Semoga apa yang sudah diraih ini, bisa jadi motivasi untuk lebih baik lagi kedepannya,” tandas Aceng.

Adapun penghargaan yang diraih SMPN 1 Sukawening adalah (1) SMP Terbaik 1 dalam Penerapan Sistem Pendidikan Berbasis Agamis, (2) Sekolah Terbaik 1 Tingkat Kabupaten Kegiatan Gerakan Embun Pagi Jenjang SMP Tahun 2017, (3) Sekolah Terbaik 1 Tingkat Rayon 3 Kegiatan Gerakan Embun Pagi Jenjang SMP Tahun 2017, (4) Sekolah Terbaik 1 dalam Penerapan Program Sekolah Hijau dan Sekolah Sehat, (5) Juara 1 Lomba Sekolah Sehat Tingkat Kabupaten Garut Tahun 2017, (6) Kepala Sekolah Terbaik 2 Uji Kompetensi Kepala Sekolah Daerah, (7) SMP Terbaik Pelaksana Penumbuhan Budi Pekerti Tahun 2017, serta (8) Juara 1 Tanding SMP Putra Dalam Kejuaraan Pencak Silat Terbuka PPS Pakubumi Cup III 2017 se-Nasional Asia Eropa an. Faiz Rohmatulloh Arrido. (Dedi Sofwan)***

Desember 2017 Semua UPT di Garut Sudah Dibubarkan

GARUT (GE).- Wacana pembubaran Unit Pelaksana Teknis (UPT) di semua dinas semakin menguat. Bupati Garut, Rudy Gunawan, menandaskan pembubaran semua UPT akan dilakukan di Bulan Desember 2017.

“Bulan Desember 2017 semua UPT harus sudah dibubarkan. Ini aturan PP 18 tahun 2016. Meski UPT dibutuhkan namun aturannya melarang jadi terpaksa dibubarkan,” katanya.

Bupati melanjutkan, selaku pimpinan daerah dirinya mengikuti aturan tersebut. Menurutnya, sebelum PP itu diterbitkan pembentukan UPT memang diperbolehkan. Oleh sebab itu dibentuklah peraturan bupati (Perbup) untuk menjadi payung hukumnya.

“Sebelum UPT ini dibubarkan saya harus mengganti dulu Perbupnya. Tentunya amanat PP akan dilaksanakan. Jadi pada prinsifnya UPT memang harus dibubarkan,” kata Bupati.

Saat disinggung terkait sumber daya manusia (SDM) yang ada di UPT saat ini, Bupati menandaskan akan merekontruksi ulang SOTK di Pemkab Garut. Nantinya, kata Rudy, pegawai di UPT Pendidikan akan dialihkan menjadi staf atau fungsional.

“Kita tidak mungkin menampung semua pejabat struktural UPT. Nantinya mereka harus terima kalau menjadi fungsional,” ujarnya.

Sebenarnya dulu, kata Bupati, PP 18 tahun 2016 memperbolehkan pembentukan UPT. Sehingga kita buat Perbupnya. Padahal itu, ujarnya, sudah dikonsultasikan ke gubernur.

“Sebenarnya UPT yang harus dibubarkan bukan hanya UPT pendidikan tapi UPT Kesehatan pun sama,” tandasnya.

Ia menegaskan, di Bulan Desember semua UPT sudah dihilangkan. Nantinya, alur kendali dilakukan dinas masing-masing.

Namun secara tidak langsung, bupati menyayangkan terkait aturan yang memaksa UPT harus dibubarkan. Pasalnya, secara geografis Kabupaten Garut sangat luas. Jadi rentang kendalinya sangat sulit jika hanya mengandalkan dinas semata. Jadi sebenarnya, secara kinerja UPT ini sangat dibutuhkan Pemkab Garut.

“Kalau seperti Kota Bandung sangat logis UPT ini dihilangkan. Tapi alau ukurannya Garut tentu akan menyulitkan,” keluh Bupati.

Bupati menambahkan, jika UPT dibubarkan, tentunya para Kasie harus lebih sering terjun ke lapangan. Terkait tambahan tunjangan dan hal teknis lainnya sedang dibuatkan aturannya. (Farhan SN)***

Uniga Lahirkan Kembali Dua Doktor Perempuan

GARUT, (GE).- Universitas Garut (Uniga) kembali melahirkan dua doktor perempuan yang akan mengabdikan ilmunya di tengah kehidupan masyarakat. Kedua doktor tersebut yaitu Dr. Ir. Tati Rohayati, MP dan Dr. Nenden Munawaroh, M.Pd.I.

Dr. Ir. Tati Rohayati, MP, dinyatakan lulus dalam sidang promosi doctor di Program Pasca Sarjana, Program Studi Ilmu Peternakan Universitas Padjadjaran Bandung. Sedangkan Dr. Nenden Munawaroh, M.Pd.I dinyatakan lulus dalam sidang promosi doktor di Program Pasca Sarjana, Program Studi Ilmu Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Kedua doktor tersebut melengkapi 15 doctor perempuan dan 18 doktor Laki-laki yang dimiliki Uniga. Dengan demikian Uniga telah memiliki 32 doktor dengan persentase hampir 50 persen terdiri dari doktor perempuan.

Rektor Universitas Garut (UNIGA) Dr. Ir. H. Abdusy Syakur Amin, M.Eng mengungkapkan, Uniga menempatkan peran perempuan sejajar dengan kaum laki-laki. Tradisi tersebut telah ditanamkan oleh para pendiri Uniga sejak dulu.

“Komitmen Uniga meningkatkan kualitas dan harkat martabat masyarakat Garut. Salah satu caranya dengan memberi kesempatan seluas-luasnya kepada siapapun yang mempunyai potensi. Saya tahu yang dominan dalam peran pendidikan anak di rumah adalah perempuan. Jadi jika seorang ibu berpendidikan tinggi maka diharapkan anak anaknyapun diberikan ilmu yang baik pula,” ungkapnya.

Itu artinya, kata Syakur, perempuan bisa dijadikan partner sejati dalam membangun keluarga, bangsa dan Negara. Sehingga, peran perempuan dalam perjalanan Uniga memang tidak banyak terekspos. Padahal di balik pesatnya kemajuan Uniga, peran perempuan tak bisa terbantahkan.

Kebijakan institusi yang memberikan ruang terbuka bagi kaum perempuan untuk mengembangkan karir dosennya, ternyata membuahkan hasil. Kini rasio perempuan bergelar doktor tersebut nyaris seimbang dengan dosen laki-laki. Bahkan Uniga mampu melahirkan doktor perempuan pertama penyandang disabilitas yang meraih gelar doktor yaitu Dr. Akmala Hadita, S.Sos, M.Pd.

Keberhasilan mereka dalam meraih gelar doktor tentunya tidak lepas dari peran Uniga. Bentuk bantuan berupa perijinan serta bantuan moril dan materil sangat nyata diterima oleh para dosen peraih gelar doktor di Uniga. Pasalnya, selain mendapat beasiswa dari pemerintah, institusi Uniga pun memberikan kontribusi nyata.

“Secara khusus saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dukungan Pak Dr. Syakur selaku Rektor Uniga serta Pak Dr. Tendy selaku Dekan fakultas pertanian yang secara nyata memberikan dukungan,” ujar Dr. Ir. Tati Rohayati.

Hal yang sama diungkapkan oleh Dr. Nenden Munawaroh, M.Pd.I dosen tetap di Fakultas Pendidikan Islam dan Keguruan (FPIK) Uniga ini yang mengambil Judul Disertasi “ Peningkatan Mutu Pendidikan Pondok Pesantren melalui Standar Nasional Pendidikan”. Ia mengungkapkan perempuan harus mempunyai cita cita pendidikan setingi tingginya. Karena hal itu akan mempunyai manfaat yang banyak, selain membuka kesempatan bersaing dari sisi SDM juga bisa menjadi guru dan teladan terbaik bagi Keluarga. (Farhan SN)***