Seribuan Crosser Pacu Adrenalin dalam ‘Expedisi Laut Selatan Garut’

GARUT, (GE).- Masih dalam rangkaian HUT TNI ke 72, di kawasan selatan Garut diramaikan dengan sebuah kegiatan olahraga yang memicu adrenalin. Gelaran kegiatan yang diikuti seribuan crosser ini dipusatkan di kawasan Pantai Cicalobak, Sabtu (21/10/17).

Kegiatan pacu kuda besi ini diselenggarakan oleh Eka Jaya Motor bekerja sama dengan Komando Rayon Militer (Koramil) 1121 Bungbulang, Kodim 0611 Garut, diluar dugaan mendapatkan antusiasme peserta, sehingga kemeriahannya hampir menyamai event resmi adventure motor kelas nasional.

Gelaran acara yang mengambil start – finish di Lapang Ciwaru, Kecamatan Bungbulang tersebut tercatat diikuti sedikitnya 1007 peserta. Pesertanya pun tak hanya dari lokal, sebagian diantaranya datang dari berbagai pelosok tanah air, seperti Jawa Timur, Bali, Kalimantan hingga Sumatera.

Kapten Chb. Untung Wahyudi, selaku Komandan koramil (Danramil) Bungbulang mengungkapkan, kegiatan yang diselenggarannya tersebut tidak menyangka bisa semeriah itu.

“Kami tak menyangka antusias offroader dari berbagai pelosok memadati jalur Selatan Jawa Barat, persiapanya sebenarnya hanya 1 bulan, itu pun kami diajak oleh warga yang fanatik terhadap dunia adventure motor. Alhamdulilah acara lancar tanpa kendala, bahkan hadiahnya pun bisa membuat peserta yang ikut dalam ivent ini tertarik,” ungkap untung.

Sementara itu, H. Anwar A Purnama, selaku ketua panitia pelaksana expedisi HUT TNI 72 Garut selatan mengungkapkan event yang bertema “Expedisi Laut Selatan Garut” ini mengarungi track atau lintasan start lapang ciwaru menuju jalur tanah Sirnajaya, kemudian memasuki wilayah Puncak Guha, melintasi muara sungai dan masuk jalur hutan Gunung Toke dan kembali ke finish Lapang Ciwaru.

“Lintasanya memang dibuat baru oleh tim jalur, jalur laut atau bibir pantai, memasuki lintasan tanjakan cadas kemudian memasuki hutan gunung dan kembali ke finish,” Pungkasnya. (Fauziani)***

Editor: Kang Cep.

Indikasi Korupsi Penyelenggaraan Haornas, Wabup Dukung Langkah Hukum Kejari Garut

GARUT, (GE).- Wakil Bupati Garut, dr. Helmi Budiman menanggapi serius permasalahan kegiatan Hari Olah Raga Nasional (Haornas) yang terindikasi korupsi agar segera ditindak secara hukum. Namun sebelum itu, dirinya memastikan akan memanggil Kadispora, Kuswendi untuk dimintai keterangan.

“Tentunya jika memang terbukti ada kesalahan apalagi tindak pidana korupsi kita dukung untuk diproses. Namun saya ingin tahu dulu sejauh mana pelanggaran yang dilakukan panitia penyelenggara,” ujar Wabup, Kamis (12/10/17) di Pendopo Garut.

Ia melanjutkan, transfaransi dalam hal anggaran tentunya sangatlah penting. Semua anggara yang digunakan tentunya harus diketahui publik. Apalagi memungut anggaran dari publik untuk uang pendaftarannya.

“Memang Haornas itu sudah ada anggarannya dalam APBD. Namun jika memang kurang penyelenggara boleh memungut uang pendaftara,” ungkap Helmi.

Helmi menandaskan yang penting pihak penyelenggara jangan mencoba bermain-main dengan anggaran. Dirinya berjanji akan meminta pertanggungjawaban terkait penggunaan anggara Haornas.

Helmi mengaku sempat menerima laporan kalau penyelenggaraan Haornas memungut kepada peserta. Namun untuk kegiatan seperti ini tentunya tak melanggar. Asalkan dimusyawarahkan. Namun dirinya pun sedikit heran masalahnya alokasi dalam APBD untuk penyelenggaraan Haornas itu sudah besar. Belum lagi ada dukungan dari beberapa pperusahaan yang memberikan Corporate Social Responsibility (CSR).

“Saya kira anggaran Rp 100 juta sudah besar untuk kegiatan internal ASN Pemkab Garut yang hanya diselenggarakan selama dua hari. Belum lagi ada bantuan CSR dari perusahaan,” katanya.

Terkait persoalan ini yang dalam waktu dekat akan segera ditangani Kejaksaan Negeri (Kejari) Garut, ia mendukung langkah itu. Menurutnya, jika memang ada tindakan pidana korupsi ia mendukung langkah Kejari. Tujuannya tak lain agar terwujud pemerintahan yang terbebas dari tindak korupsi. (Useu G Ramdani)***

Kental Aroma Korupsi, Kejari Garut Segera Periksa Penyelenggara Haornas

GARUT, (GE).- Aroma korupsi pada penyelenggaraan Hari Olahraga Nasional (Haornas) mulai mengemuka. Kegiatan tersebut telah menggunakan dobel anggaran yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta memungut uang pendaftaran dari peserta. Bahkan penyelenggaraan kegiatannya pun terkesan alakadarnya.

Berdasarkan hasil penelusuran “GE”, penyelenggaraan Haornas hanya dilakukan selama dua hari. Padahal anggaran dari APBD dicantumkan sebesar Rp 100 juta. Belum lagi anggaran untuk piala dan piagam dialokasikan secara terpisan. Tak berhenti sampai di situ saja, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) masih memungut uang pendaftaran dari peserta.

Pungutan yang dilakukan Dispora besarnya bervariatif, seperti untuk tim futsal dipungut Rp 250 ribu tiap timnya. Sementara untuk Cabor Catur dipungut Rp 50 ribu tiap orang yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Data lainnya mengungkapkan, peserta yang menjadi juara pada cabang olah raga (Cabor) futsal untuk juara ke satu mendapatkan hadiah sebesar Rp 2,3 juta, juara ke dua Rp 1,7 juta dan juara ke tiga 1,5 juta. Sementara untuk kejuaraan catur juara ke satu mendapatkan hadiah sebesar Rp 1,3 juta, juara ke dua Rp 1 juta, juara ke tiga dapat hadiah Rp 800 ribu, juara ke empat Rp 600 ribu, juara ke lima Rp 400 ribu dan juara ke enam mendapatkan hadiah Rp 200 ribu.

Menanggapi persoalan ini, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Garut, Mamik Suligiono, mengaku akan segera menurunkan anggotanya untuk mendalami informasi tersebut. Mamik menegaskan akan menindak semua praktik yang mengarah terhadap tindak pidana korupsi.

“Dalam waktu dekat saya akan berkoordinasi dengan insfektorat. Kita akan gali informasi yang sudah beredar ini,” ujarnya.

Menurut Mamik, tentunya Kejari Garut selalu melakukan langkah preventif agar tidak terjadi praktik korupsi. Melihat permasalahan ini, tentunya ia takkan tinggal diam. Langkah penindakan akan dilakukan jika memang ada laporan yang otentik.

“Tentu akan kita periksa. Namun kita butuh data yang lengkap,” ujarnya kepada “GE” saat ditemui di halaman Gedung Kajari Baru di Jalan Merdeka, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut. (Fauziani/Farhan SN)***

Menghibur Warga, Ratusan Kusir Delman Adu Cepat di Lapangan Cihuni

GARUT, (GE).- Ratusan kusir delman selama dua hari sengaja meliburkan diri  dari menarik delmannya. Dalam dua hari tersebut para kusir delman dari berbagai daerah beralih profesi sementara menjadi joki di landasan pacu, Lapangan Cihuni, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, Sabtu-Minggu (7-8/10/17).

Eksebisi pacuan kuda yang diikuti 200 lebih kusir ini diprakarsai oleh Paguyuban Kusir Delman Kabupaten Garut. Selain diikuti para kusir delman asal Garut, gelaran langka ini juga diikuti sejumlah penarik delman dari beberapa wilayah se Jawa Barat.

Tak pelak, perlombaan langka ini menjadi hiburan menarik nan seru warga sekitar. Antusiasme warga untuk menyaksikan pacuan kuda ini begitu tampak sejak hari pertama perlombaan digelar. Terlihat ribuan penonton bergerombol di sekeliling Lapangan Cihuni. Riuh redah dan sorak sorai penonton tak terelakan saat para joki dadakan memacu kuda kudanya dengan kecepatan maklsimal.

Seolah mereka tak mempedulikan cuaca yang panas. Bahkan Bupati Garut, Rudy Gunawan tak beranjak dari tempat duduk kehormatan untuk menyaksikan adu cepat para kusir delman tersebut. Bupati nampak asyik menonton pacuan kuda, sembari sesekali memberi semangat kepada para kusir yang sedang berlomba di lintasan pacu.

Salah seorang panitia penyelenggara, Asep Heri, mengatakan, para kusir delman yang mengikuti kegiatan ini lebih dari 200 orang. Mereka tak hanya berasal dari Garut, tapi juga luar Garut seperti Bandung, Tasik, dan Cirebon.

“Kegiatan ini selain dalam rangka silaturahmi para kusir delman, juga untuk menjaring bibit atlit muda, mencari joki terbaik dan kuda terbaik. Bahkan Ini sudah merupakan budaya masyarakat di sini, setiap tahun kami menggelar acara semacam ini,” ungkapnya.

Asep menambahkan, untuk pemenang lomba selain mendapatkan uang pembinaan dan hadiah, juga mendapatkan piala bergilir dari Bupati Garut. Sementara itu, Bupati Garut, Rudy Gunawan menyampaikan apresiasinya atas gelaran acara pacuan kuda yang diadakan para kusir delman.

Menurut Rudy, selain memberi hiburan kepada masyarakat, kegiatan ini juga merupakan pengembangan wisata daerah yang bisa menarik kunjungan wisata. Ditambahkannya, Pemkab Garut dalam waktu dekat akan membangun arena pacuan kuda yang memadai di wilayah Citiis, kawasan Gunung Guntur.

“ Kita akan gunakan lahan yang berada di luar lapangan Camping di Citiis. Untuk pacuan kuda, di sana ada lahan sekitar 10 hektare yang bisa digunakan,” ujarnya.

Ada hal yang unik dalam kegiatan ini, siapa pun yang menang dalam lomba tersebut wajib menghibur penonton.  Bagi pemenang dalam pacuan kuda tersebut diwajibkan menari di atas kuda pacuannya dengan diiringi musik tradisional bangreng. Keseruan bertambah, saat pemenang dan timnya mengeluarkan saweran kepada penonton.

Salah seorang kusir delman yang menjadi peserta, Agus, mengaku bahagia bisa mengikuti acara tersebut. Sebelum bertanding, Agus mempersiapkan segalanya termasuk persiapan fisik, menjaga makanan dan berlatih, tentunya.

“Bahagia lah, bisa ikut dalam balapan kuda ini. Selain hiburan, kita juga bisa bisa melatih kuda supaya menjadi kuda yang tangguh. Untuk itu, sebelum bertanding saya mempersiapkan segalanya, termasuk fisik dan kesehatan kuda yang akan bertanding,” ungkapnya. (Fauziani) ***

Editor: Kang Cep.

Indikasi Korupsi? Anggaran Haornas Rp 100 juta, Ngakunya Hanya Rp 70 juta

GARUT (GE).- Kebijakan anggaran di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) kembali menjadi sorotan publik. Setelah gagal membangun sarana olahraga yang memadai, kini Dispora disorot terkait anggaran penyelenggaraan Hari Olahraga Nasional (Haornas).

Anggaran penyelenggaraan Haornas tercatat dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Garut sebesar Rp 100 juta. Belum lagi untuk pengadaan piala semua kegiatan di Dispora dalam setahun sudah dicadangkan dalam APBD sebesar Rp 157 juta.

Namun pada praktiknya penyelenggaraan Haornas yang diselenggarakan selama dua hari malah memungut lagi biaya dari peserta. Sehingga penyelenggaran Haornas dibiaya dari dua anggaran “dobel anggaran”.

Menanggapi hal tersebut anggota Masyarakat Peduli Anggaran Garut (Mapag), Haryono, mengatakan Dispora telah melakukan kekeliruan. Jadi menurutnya, Dispora wajib membuka pagu anggaran ke publik agar semuanya bisa jelas.

(Kalau mengarah ke ranah korupsi tentunya harus diinvestigasi lagi. Namun jika dilihat dari caranya ini sudah salah kaprah,” ujar Haryono.

Menurutnya, kalau semua dinas berbuat seperti ini tentu bahaya bagi keuangan Pemkab Garut. Pasalnya, semua kegiatan tentunya sudah direncanakan dengan matang. Sehingga diakomodir dalam APBD. Jika tiba-tiba mengeluh kurang anggaran lalau menghalalkan segala cara tentunya tidak baik. Malah cenderung mengarah ke ranah korupsi atau pungutan liar (Pungli).

Ia memaparkan dalam APBD, anggaran langsung di Dispora tercatat sebesar Rp 20,7 miliar. Rinciannya Rp 1,1 Miliar untuk pengembangan dan kebijakan olahraga, Rp 937 juta untuk pengembangan pemasyarakatan olahraga dan Rp 14,5 miliar untuk pembenahan sarana olahraga. Sementara itu, sisanya digunakan untuk administrasi dan pembinaan kewirausahaan dan kepemudaan.

Anggaran untuk penyelenggaraan Haornas, kata Haryono, masuk ke pagu pengembangan pemasyarakatan olahraga Rp 100 juta. Belum lagi anggarannya ditunjang dari penyediaan piagam dan piala yang anggarannya mencapai Rp 157 juta.

Diberitakan sebelumnya Kadispora Garut, Kuswendi, membenarkan adanya penarikan biaya pendaftaran tersebut. Menurutnya pemungutan itu akan digunakan untuk menutupi kekurangan anggaran yang ada dalam APBD.

“Memang kita memungut biaya Rp 250 ribu untuk peserta futsal dan Rp 50 ribu untuk peserta catur. Sementara Cabor lainnya saya kurang tahu,” ujar Kuswendi kepada “GE” saat ditemui di lingkungan Gor Pesona, Jalan Proklamasi, Kamis (5/10/17).

Menurutnya anggarannya di APBD murni Rp 50 juta dan perubahan Rp 20 juta. Total anggaran Haornas Rp 70 juta.

Kuswendi menandaskan praktik serupa telah dilakukan pada kegiatan “napak tilas” hari jadi Garut. Ia berjanji akan membuka pagu anggaran secara terbuka. (Farhan SN)****

Penyelenggaraan Haornas di Garut Dobel Anggaran, ini Jawaban Kadispora

GARUT (GE).- Penyelenggaraan Haornas yang dibiayai dari Alokasi Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebesar Rp 100 juta, namun pada praktiknya masih melakukan pemungutan uang pendaftaran kepada peserta. Besarnya pungutan bervariasi antara Rp 50 ribu sampai Rp 250 ribu.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Garut, Kuswendi, membenarkan adanya penarikan biaya pendaftaran tersebut. Menurutnya pemungutan itu akan digunakan untuk menutupi kekurangan anggaran yang ada dalam APBD.

“Memang kita memungut biaya Rp 250 ribu untuk peserta futsal dan Rp 50 ribu untuk peserta catur. Sementara Cabor lainnya saya kurang tahu,” ujar Kuswendi kepada “GE” saat ditemui di lingkungan Gor Pesona, Jalan Proklamasi, Kamis (5/10/17).

Menurutnya anggarannya di APBD murni Rp 50 juta dan perubahan Rp 20 juta. Total anggaran Haornas Rp 70 juta.

“Anggarannya kan ada diperubahan. Jadi penyelenggaraan ini dari dana talangan dulu,” kata Kuswendi.

Setelah dilakukan penghitungan, ternyata anggaran yang ada dalam APBD masih kurang. Jadi sisanya harus ditutupi dari uang pendaftaran.

Kuswendi menandaskan praktik serupa telah dilakukan pada kegiatan “napak tilas” hari jadi Garut. Ia berjanji akan membuka pagu anggaran secara terbuka.

“Nanti akan saya laporkan mana uang yang dari APBD dan mana uang yang dari pendaftaran,” tuturnya.

Ia meyakinkan tindakannya ini tak akan menimbulkan masalah. Pasalnya pemungutan pendaftaran telah sesuai dengan komitmen peserta yang akan mendaftar.

“Lagipula, uangnya bukan dari peserta. Pasti dari dinas,” pungkasnya. (Farhan SN)****

Indikasi Korupsi? Penyelenggaraan Haornas di Garut Dobel Anggaran

GARUT (GE).- Hari olahraga nasional (Haornas) di Kabupaten Garut mendapat respon negatif dari para pesertanya. Kenapa tidak, anggaran Haornas yang telah diakomodir dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dalam praktiknya panitia penyelenggara (Dispora) malah memungut biaya pendaftaran kepada peserta.

“Baru sekarang penyelenggaraan Haornas harus bayar. Padahal tahun sebelumnya engga,” ujar Nurdin, salah seorang atlet futsal, saat ditemui di lapang Pesona, Kamis (5/10/17).

Ia mengaku dipungut biaya pendaftara sebesar Rp 250 ribu. Padahal sepengetahuannya, penyelenggaraan Haornas telah dibiayai Pemkab Garut.

“Kalau begini caranya dobel anggaran dong. Itu tak boleh dilakukan,” kata Nurdin.

Nurdin berharap, Dispora mau transfaran terkait anggaran penyelenggaraan Haornas. Jangan sampai Dispora mengambil keuntungan dari momen kebangkitan olahraga ini.

Sementara itu, Sekjend Garut Governance Watc (GGW), Yuda Ferdinal, mengatakan setiap kegiatan tentunya telah direncanakan dengan baik. Jadi tidak mungkin pemerintah memberikan anggaran kegiatan yang tekor.

“Saya jadi curiga dengan pengelolaan keuangan Dispora. Jangan-jangan ada permainan,” ujar Yuda.

Yuda berharap Dispora mau transparan terkait anggaran penyelenggaraan Haornas. Pasalnya kalau dobel anggaran tentu nantinya jadi rancu.

“Nanti bentuk laporannya mau seperti apa? Kalau yang termaktub dalam APBD sangat mudah diawasi tapi kalau pungutan seperti yang dilakukan Dispora tentunya jadi liar,” ungkapnya.

Terkait persoalan ini, GGW berjanji akan turun tangan melakukan investigasi. Ia mencurigai ada tindak pidana korupsi dalam pungutan penyelenggaraan Haornas di Garut. (Farhan SN)***

Lolos 8 Besar Liga 3, Persigar Berharap Tempat Pertandingan Netral

GARUT, (GE).- Persigar masuk jajaran tim elit peserta babak 8 Besar Super Jagoan Bola Pasundan (Jalapa) Liga 3 wilayah Jawa Barat. Kepastian itu setelah “Maung Sancang Garut” berhasil mengalahkan Persikab Kabupaten Bandung dengan skor 6-5 lewat drama adu finalti di Stadion Mashud Wisnu Saputra Kabupaten Kuningan, Senin (18/9/2017) lalu.

Adapun tujuh tim lainnya adalah, Bina Putra Cirebon, PSB Bogor, Patriot Bekasi, PSKC Kota Cimahi, Maung Anom Kota Bandung, Maung Bandung, dan Bandung Barat United.

Di babak 8 besar, Persigar akan menghadapi juara grup L, tim Kabupaten Bandung Barat United. Manager Persigar, Dadang Johar Arifin memastikan timnya akan menambah pemain baru terutama untuk pemain depan. Karena sejauh ini Persigar tidak memiliki pemain dengan posisi striker murni setelah dua pemain andalannya dibekap cedera.

“Soal pemain akan diurus oleh tim pelatih,” kata Dadang di base camp Persigar, Jalan Pembangunan, Kec. Tarogong Kidul, Minggu (24/9/2017).

Disamping memperkuat kerangka tim, pengurus Persigar tengah mengupayakan sejumlah langkah dalam rangka menghadapi babak 8 besar itu. Diantaranya sudah malayangkan surat keberatan kepada Asprov PSSI Jawa Barat agar tidak menggunakan lagi wasit yang memimpin pertandingan saat Persigar kontra tim Maung Anom Bandung.

“Soalnya wasit itu sudah jelas-jelas merugikan tim kami. Masa handball di dalam kotak finalti bisa ditarik keluar jadi tendangan bebas. Makanya kami mengirimkan surat keberatan kepada Asprov PSSI Jawa Barat,” kata Dadang.

Selain itu, pihak Persigar juga meminta kepada panitia pelaksana agar tempat pertandingan babak delapan besar kontra Bandung Barat United dilaksanakan di tempat netral. Jika tidak di Banjar, misalnya di Tasikmalaya.

Babak 8 besar sendiri semula akan mulai digelar pada Sabtu-Minggu, 23-24 September 2017. Namun ditunda karena masih menunggu adanya banding atau tidak dari kontestan babak 16 besar. Jika ada tim yang melakukan banding maka jadwal akan ditentukan setelah proses dan hasil banding selesai.

Dikatakan Dadang, sebelumnya pihaknya menerima informasi akan bertanding melawan tim Kabupaten Bandung Barat United di Lapangan Arca Manik, Sabtu (23/9), tetapi dibatalkan. Pihaknya sekarang menunggu informasi lanjutan dari Asprov PSSI Jawa Barat.(Alle)***

“Maung Sancang” Siap Berlaga di 16 Besar Super Liga Jalapa

GARUT,(GE).- Pada babak 16 besar Super Liga Jago Bola Pasundan  (Jalapa) Liga 3 PSSI zona Jawa barat 2107. Dalam bakak 16 besar ini Persigar Kabupaten Garut akan bertanding di Stadion Kuningan, Kabupaten Kuningan mulai Sabtu (16/9) melawan PSGJ Kabupaten Cirebon.

Persigar Kabupaten Garut yang kini dijuluki tim Maung Sancang Garut  masuk dalam grup K bersama Persikab Kabupaten Bandung, Maung Anon Bandung FC (Persib U 21), dan PSGJ Kabupaten Cirebon.

Ketua Persigar Dadang Johar Arifin mengatakan, kendati timnya kehilangan 4 pemain pilar, karena menerima dua akumulasi kartu kuning dan dua cedera. Namun, Maung Sancang siap tampil penuh motivasi untuk merebut tiket ke babak selanjutnya.

“Kami tak gentar dengan nama Bandung. Kami juga pernah tahan imbang Bintang-bintang Persib di Garut. Bola itu bundar, kami siap meladeni nama Persikab dan Maung Anom, apalagi main ditempat netral,” kata Dadang, Rabu (13/9/2017).

Dadang menambahkan, dengan segala keterbatasan anak anak siap mengharumkan, dan membela nama Kabupaten Garut untuk bertarung di babak perdelapan final nanti.

Sementara itu, pelatih Persigar asal Karawang, Ega Raka Galih, mengatakan, anak buahnya siap tempur  habis-habisan untuk maraih tiket ke babak knock out (KO) delapan besar. Ia mengaku, sudah mempersiapkan taktik dan strategi guna menghadapi tim superior asal Kota Bandung, yakni Maung Anom FC.

“Kita beberapa kali melakukan simulasi latihan taktik. Karena kita kehilangan 4 pemain. Tentunya ada perubahan komposisi dan susunan pemain,” kata mantan pelatih fisik Persija Jakarta itu.

Ega mengaku sempat memburu pemain pemain Persikotas. Namun, setelah ditanyakan ke Asprov PSSI Jawa Barat ternyata pemain tersebut tidak boleh bertanding, karena sebelum bermain di Persikotas, pemain nomor punggung 25 itu sempat bermain pula di Liga 3 membela Cilacap.

“Makanya kita mamfaatkan pemain yang ada, syukur-syukur besok atau lusa ada pemain tambahan. Kita masih menunggu mantan pemain Persitas Kabupaten Tasik yang main pada tahun 2014. Dan juga menunggu kabar lainnya dari Jakarta.” katanya.

Menurut Ega, anak-anak sekarang ini tambah motivasi saat diketahui satu grup dengan pemain Bandung. “Kami akan mamfaatkan tempat bertanding di area netral. Dan kami mengharapkan kolektivitas dan motivasi anak anak serta keberuntungan tempat bermain,” ujarnya.

Kabar terakhir yang diterima dari pengurus Persigar, sudah bergabung pemain asal Kabupaten Karawang, Deni, yang berposisi sebagai gelandang serang. (Jay)***

Editor: Kang Cep.

Dililit Persoalan Keuangan, Persigar Ngadu ke Wakil Rakyat

GARUT,(GE).- Keluh kesah pengurus, pelatih hingga pemain Persigar membuncah di ruang aspirasai Komisi D DPRD Garut, Jumat (8/9/2017). Dari mulai janji-janji Bupati Garut yang tak kunjung ditepati, serta tidak adanya dukungan moril maupun materil dari birokrasi.

Ketua Persigar, Dadang Johar Aripin, menjelaskan, Persigar masuk 16 besar Liga 3 Indonesia. Pihaknya sangat berat sekali membiayai tim apalagi babak 16 besar nanti akan digelar di luar kota. Bahkan, kalau di Subang akan lebih berat lagi dari segi budget karena harus menginap dan menyiapkan hal lainnya. “Untuk itu, kita curhat ke DPRD. Mudah-mudahan nyampai ke eksekutif,” kata Kepala SMKN I Garut ini.

Ditambahkannya, waktu pertandingan akhir penentuan lolos ke 16 besar di Stadion Wira Dadaha Tasik, yang pertama mengucapkan selamat itu justru Walikota Tasikmalaya, H. Budi Budiman. Sedangkan pejabat dari Garut tak satu pun yang datang padahal bertanding hari Minggu. “Alahmdulillah rekan wartawan, orang tua pemain dan bobotoh saja yang datang. Kami disana dilempari,” ucapnya.

Dadang berharap adanya peran serta Pemerintah Daerah dalam mendukung sepak bola di Kabupaten Garut. Khususnya Persigar yang satu-satunya tim dari Garut yang masih berlaga di Liga 3 Indonesia.

Dia juga berharap, para wakil rakyat khususnya komisi D DPRD bisa memfasilitasi Persigar guna mendapat dukungan baik moral maupun materi dari semua pihak termasuk Pemerintah Kabupaten Garut. Pasalnya, sampai saat ini peran serta Pemda ke Persigar nyaris tidak ada.

Dadang menyebut, eksistensi Persigar Garut di liga 3 patut menjadi suatu kebanggaan termasuk bagi Kabupaten Garut. Dengan berlaganya Persigar tentu membawa nama Kabupaten Garut di antaranya dalam prestasi olahraga sepakbola. Sudah selayaknya tim sepak bola kebanggaan Garut ini mendapat dukungan khususnya dari Pemda dalam meraih prestasi khususnya di Liga 3. “Yang saya tahu, berdasarkan aturan baru per tanggal 7 Februari 2017 lalu, tim yang berlaga di liga 3 bisa mendapat bantuan dari Pemerintah Kabupaten, karena masih terbilang klub amatir alias bukan professional,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Garut, Asep De Maman merasa ngeri dan prihatin mendengar curahan hati Pengurus dan pemain Persigar yang sengaja datang ke gedung dewan.

Mereka, lanjut Asep, mengungkapkan kepedihannya. Jangankan diberi bantuan oleh pemerintah, menggunakan lapangan Merdeka Kherkop saja waktu pertandingan putaran pertama berlangsung di Garut harus bayar sebesar Rp 5 juta. “Sungguh ngeri saya mendengarnya, lapang yang dipakai pertandingan putaran pertama di kerkof harus bayar Rp 5 juta. Artinya, ya keterlaluan saja. Terus terang saja, saya ngeri, sedih lah. Di rumah sendiri, kampung sendiri harus bayar. Kok bisa begitu yah,” ujarnya.

Asep berjanji akan mengkomunikasikan hal tersebut ke pihak terkait, agar hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi. Tidak ada salahnya Pemda memberi dukungan penuh kepada Persigar, terlebih sampai saat ini belum ada satu sponsor yang bersedia mensupport Persigar.

“Jadi begini, disana ada anak-anak muda Garut yang potensial tengah berjuang dan terus mengembangkan potensinya. Maka itu harus didukung penuh. Untuk itu kami siap dan akan menghadapi Bupati untuk bagaimana Persigar ke depannya. Mereka kan membela nama Garut,” katanya.(Alle)***