Harga Sembako di Garut Relatif Stabil, Namun Daya Beli Masyarakat Rendah

GARUT,(GE).- Menurut Ketua Ikatan Warga Pasar Guntur Ciawitali (IWAPA) Kabupaten Garut, Asep Mithun, saat ini harga kebutuhan komoditas sembako relatif stabil. Bahkan di Pasar Guntur Ciawitali sejumlah komuditas sayuran stoknya cukup melimpah.

“Stok barang berbagai komoditas baik keringan maupun sayuran cukup berlimpah. Namun daya beli masyarakat tampaknya masih rendah sehingga berakibat menurunnya pendapatan bagi para pedagang di Pasar Induk  Guntur Ciawitali Garut,” ujarnya, Rabu (2/11/2017).

Asep menjelaskan,meski harga kebutuhan pokok mengalami fluktuatif dan pasang surut.  Namun tidak begitu berpengaruh terhadap stabilitas perekonomian di lingkungan pasar Guntur Ciawitali. “Harga kebutuhan pokok masyarakat di pasar Cawitali masih sanggup bersaing dengan pasar semi modern atau mini market lainnya,” tandasnya. (Tim GE)***

Luwak Susah Ditangkap, Produksi Kopi Garut Menurun

GARUT, (GE).- Sudah tiga bulan terakhir ini bahan baku kopi luwak Garut sulit dicari. Dampaknya, produsen kopi Garut kelimpungan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Salah seorang pengusaha kopi luwak Garut, Andri Hermawan, mengaku selama ini dirinya menerima pasokan kopi dari kawasan Kecamatan Sukaresmi, Bayongbong, dan kawasan Gunung Cikuray, Kecamatan Cilawu.

Namun belakangan dari kedua tempat itu pasokan berkurang sehingga harus mencari ke daerah lain. Andri menyebutkan, kebutuhan bahan baku kopi luwak per bulannya berkisar 1 sampai 2 ton untuk jenis cherry. Namun, saat ini menurun derastis, hanya sekitar 500 – 700 kilogram. Akibatnya beberapa pesanan dari luar Garut tidak dapat terpenuhi.

“Memang banyak tanaman kopi di Garut tapi kurang bagus kalau dibuat kopi luwak. Alhamdulillah saya menemukannya di kawasan Gunung Darajat. Saya dapat jenis cherry kopi pun dengan susah payah untung masih ada,” kata Andri saat ditemui di Kafe Luwak miliknya di Jalan Raya Garut-Tasikmalaya, Cilawu Garut, Senin (2/10/2017).

Diakuinya, kelangkaan bahan baku kopi ini dirasakannya sejak bulan Juli lalu. Untuk memenuhi bahan baku, dirinya mencari kopi ke petani lain yang memiliki kualitas tidak jauh dari standar produksinya.

“Biasa saya dapat di Cikuray, Sukaresmi, sekarang paling ngambil yang ada di Darajat dan daerah lainnya tapi masih di daerah Garut. Kopi yang punya kualitas mendekati,” ujarnya.

Untuk produksi kopi luwak, dirinya tidak bisa mengambil bahan baku kopi sembarangan dari luar Garut. Pasalnya, untuk dijadikan makanan luwak cherry kopi harus segar, dan tidak lama setelah pemetikan dari pohonnya. Andri menyebut, selain kesulitan mendapatkan kopi ia juga kesulitan mencari Luwak.

“Biasanya saya mendapatkan luwak dari daerah kaki gunung Cikuray atau sekitar tempat tinggalnya di kawasan Cilawu. Sekarang sulit, yang jual juga jarang,” katanya.

Ia menuturkan, proses pembuatan kopi luwak dibantu oleh sembilan pegawai yang sudah ahli mengurus hewan luwak, selain keluarganya juga para tetangganya.

“Kalau kopi luwak dari 1,5 ton paling jadi 150 kilogram. Kalau sekarang ada 700 kilogram paling jadi 80 kilogram. Meskipun sudah kita sortir sebelum diberikan pada luwak, tetapi si hewan juga memilih atau mensortir sendiri. Makanya harga kopi luwak lebih mahal dari kopi reguler,” tukasnya.

Adapun menu makanan lain selain kopi yang diberikan ke luwak setiap harinya berbeda, misalnya telur, madu, kepala ayam, pisang, daging dan kopi.Kopi pun tidak tiap hari, luwak diberi kopi dalam seminggu hanya 4 kali dan setiap diberi kopi hanya sekitar 8 ons setiap kali makan,” ungkapnya.

Diakuinya, saat ini jumlah hewan luwak yang dipeliharanya sebanyak 92 ekor. Ia telah meyiapkan kandang luwak untuk 150 ekor. Hanya saja sampai sekarang belum terisi karena sulitnya mencari luwak.

“Kalau untuk ukuran sekarang ini jumlah itu paling banyak. Karena yang di Cikole Bandung pun yang terbesar itu hanya memiliki 42 ekor luwak,” jelasnya. (Alle)***

Editor: Kang Cep.

Ini Kisah Pedagang Kerajinan Bambu Khas Selaawi Beromzet Belasan Juta Per Hari

GARUT,(GE).- Seiring berjalannya waktu, Kawasan Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut makin termsyhur saja. Kemasyhuran Selaawi ini tidak terlepas dari denyut perekonomian warganya yang menekuni kerjadinan khas berbahan baku bambu. Hingga saat ini kerajinan bambu khas Selaawi Garut kerap jadi buruan pengunjung dari berbagai daerah.

Setiap harinya, beberapa warga Selaawi memproduksi berbagai kerjaninan tangan (handy craft) semisal bakul, nampan dan bentuk kreasi lainnya. Hampir semua produk kerajinan sejauh ini cukup laris manis di pasaran.

Salah seorang warga yang sengaja jauh-jauh datang ke Selaawi, Kartika (45) mengaku penasaran ingin memiliki kerajinan bambu khas Selaawi. Saat menyambangi kawasan Selaawi, Kartika memborong beberapa hasil kerajinan bambu di salah satu toko kerajinan di Selaawi.

“Kerajinan bambu khas Selaawi ini memang sudah saya denger jauh-jauh hari. Makanya saya sengaja datang ke sini. Walaupun cuma beberapa buah saja yang saya beli, tapi sekarang kan bisa nambah koleksi perkakas di rumah saya. Apalagi kerajinan bambu dari Selaawi ini kan sudah sangat terkenal, jadi saya bangga bisa membelinya” tutur Kartika, seraya memperlihatkan barang yang di beliannya, Minggu (24/09/2017).

Sementara itu, pemilik toko kerajinan bambu Selaawi, Empat (55) mengaku, setiap harinya ia selalu melayani pembeli yang datang dari berbagai daerah. Dalam sehari ia bisa mendapatkan omzet jutaan rupiah. Bahkan, saat hari libur omzetnya bisa mencapai belasan juta rupiah.

“Alhamdulillah, omzetnya kalau lagi rame dan musim liburan omzetnya bisa mencapai belasan juta rupiah,” katanya.

Menurut Empat, usaha kerajinan bambu khas Selaawi yang digelutinya tersebut merupakan usaha turun temurun dari kakek buyutnya. Sampai saat ini mungkin sudah puluhan bahkan ratusan tahun keluarganya berpropesi sebagai penjual kerajinan bambu Selaawi.

Barang dagangannya sendiri ia mendapatkan pasokan dari para pengrajin yang tersebar di beberapa desa di Selaawi. Disamping dijual eceran, setiap bulannya toko milik Empat yang beralamat di Jalan Selaawi sekitar Kantor Kecamatan itu, biasa memasok berang ke berbagai wilayah Kabupaten dan kota. Seperti Sumedang, Purwakarta, Cirebon dan beberapa daerah lainnya.

Menurutnya, jika bulan-bulan biasa, ia bisa mendapatkan omzet Rp 14.000.000 per hari yang ia dapat dari para langganannya di luar kabupaten. Namun, di saat menjelang hari-hari tertentu seperti lebaran, pesanan sangatlah banyak, sampai-sampai dirinya tidak bisa memenuhi orderan.

“Ya kalau lagi ramemah, saya bisa menyuplai pesanan dengan nilai uang Rp 40.000.000 per bulannya. Harga untuk satu jenis kerajinan muali harga termurah Rp 5000 rupiah hingga yang termahal Rp 80.000 untuk satu jenis barang,” pungkasnya. (Useu G ramdani)***

Editor: Kang Cep.

Terdampak Kemarau, Harga Sejumlah Komoditas Sayuran di Pasar Guntur Naik

GARUT,(GE).- Sejumalah komoditas sayuran terpantau mengalami kenaikan. Naiknya harga sayuran ini ditenggarai dampak dari musim kemarau.Di sisi lain, kenaikan harga sayuran ini menjadikan berkah tersendiri bagi petani.

Dudi (38), salah seorang petani sayuran di kawasan Desa Sukajadi, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut mengaku musim kemarau tahun ini memang berdampak kurang baik bagi tanamannya karena minimnya pasokan air. Namun kenaikan harga sayuran bsa sedikit mengobati.

“Memang pasokan air yanng minim mengganggu tanaman sayuran. Namun kerugian akibat berkurangnya produksi hasil pertanian bisa sedikit terobati dengan naiknya harga sejumlah komoditas sayuran,” ujar Dudi, Rabu (13/9/2017).

Dijelaskannya, komoditas sayuran yang kini harganya mengalami kenaikan diantaranya cabe gepeng, cabe kriting, dan cabe rawit merah.

Diharapkannya, musim kemarau segera berakhir dan berganti dengan musim hujan. Bagaimana pun juga kalau lahan pertanian terus dilanda kekeringan seperti sekarang ini.

“Saat ini kerugian masih sedikit tertolong dengan naiknya harga sejumlah komoditas sayuran. Namun jika kemarau berlangsung lama, kami pun pasti tak akan bisa bertahan. Semoga musim hujan segera tiba,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasubag UPTD Pasar Guntur, Ciawitali, Yayat, mengatakan, selain cabe gepeng, cabe kriting, dan cabe rawit merah, jengkol harga juga naik .

“Sedangkan jengkol, untuk jengkol basah hanya mengalami kenaikan Rp 1 ribu dimana sebelumnya Rp 17 ribu kini menjadi Rp 18 ribu per kg. Sementara jengkol kering dari Rp 17 ribu menjadi Rp 20 ribu per kilo,” jelasnya.

Ditambahkannya, meski harga sejumlah komodoti sayuran mengalami kenaikan akan tetapi untuk ketersediaan stoknya sendiri saat ini masih terbilang aman. Selain itu, mayoritas komoditi sayuran di Pasar Guntur Ciawitali merupakan produk lokal.

“Namun sejumlah kebutuhan pokok lainnya di musim kemarau ini juga ada yang mengalami penurunan seperti harga ikan basah dan daging ayam. (Tim GE)***

Pemerintah Terapkan Aturan Harga Eceren Tertinggi untuk Beras Medium dan Premium

GARUT,(GE).- Untuk menaggulangi stabilitas harga jual beras, baru-baru ini pemerintah menerapkan aturan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk jenis medium dan premium. Sementara itu, untuk harga beras jenis super premium dikembalikan kepada mekanisme pasar

Menurut Ketua Satgas Pengamanan Pangan Mabes Polri, Irjen Pol Eko Hadi Sutedjo, penetapan harga beras super premium dikembalikan lagi kepada mekanisme pasar. Meski dijual melebihi HET, pedagang tak akan ditindak oleh Satgas.

“Kalau untuk beras super premium tak diatur. Jadi tergantung mekanisme pasar,” kata Eko, disela kegiatan peninjauan Gudang Bulog di Jalan Cimanuk, Selasa (12/9/17).

Dijelaskannya, dalam menetapkan harga dalam beras super premium ada ketentuannya. Namun jika HET untuk beras medium dan premium harus mengikuti aturan. Jika menjual di atas HET  bisa ditindak.

“Kami juga akan mengawasi persoalan harga jual di lapangan. Jangan sampai ada pelanggaran yang terjadi,” katanya.

Yusuf Supriadi, salah seorang pedagang beras di Pasar Guntur, mengakui telah diberi tahu terkait HET yang ditetapkan pemerintah.  “Contohnya seperti pandanwangi dan setra. Harga jualnya bisa sampai Rp 20 ribu per kilo. Beras premium saja HETnya hanya Rp 12 ribu per kilo,” tukasnya. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

Garam Masih Mahal, Pengusaha Telur Asin Tekor 30 Persen

GARUT, (GE).- Warga menilai harga garam masih mahal. Dampak mahalnya harga garam ini diakui sejumlah pengusaha telur asin di Kabupaten Garut. Mereka mengaku mengalami penurunan keuntungan hingga 30 persen.

Marpuah (57), salah seorang pengusaha telur asin di Desa Cigawir, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, mengakui mahalnya harga garam ini berdampak pada usaha yang memang sangat tergantung dengan garam.

“Garam tentu sangat dibutuhkan pembuatan telur asin. Jadi mahalnya harga garam ini sangat bedampak pada usaha telur asin,” tukasnya.

Menurut pengakuannya, harga garam kasar saay ini mencapai Rp 7 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya, hanya Rp 2 ribu per kilogram. Kenaikan harga garam seperti ini diakuinya baru pertama kali terjadi sejak dirinya menggeluti usaha telur asin.

” Harga garam mahal seperi ini, seingat saya, baru pertama kali terjadi,” katanya.

Diungkapkannya, dia memproduksi telur asin sampai 500 butir dalam seharinya. Tiap butirnya, telur asin tersebut dijualnya dengan harga Rp 2.500.

“Keuntungan dari satu butirnya, Rp 300. Sejak kenaikan harga garam, keuntungannya tekor Rp 30 persen,” tukasnya.

Dijelasnnya, untuk pembuatan 500 butir telur asin, dibutuhkan garam kasar sebanyak 5 kilogram per harinya. Dengan kenaikan garam ini tentunya memberatkan.

Namun demikian Marpuah menyebutkan, sampai saat ini dirinya tidak mengurangi jumlah produksi. Meski keuntungan yang diperolehnya tidak begitu besar, akan tetapi dia masih setia menggeluti usahanya tersebut. (Tim GE)***

Rangginang Hj. Kokom, Sensasi Renyahnya Dirasakan Sampai Belanda

POTENSI ekonomi kretaif di Kabupaten Garut selama dikenal variatif, khususnya dari produk perkulineran. Selain dodol Garut yang memang sudah termasyhur, produk penganan khas Garut yang belum tereksplorasi secara maksimal ternyata masih cukup banyak. Padahal berbagai produk penganan khas jika dikelola secara maksimal dan profesional bisa menjadi ladang bisnis yang menjanjikan.

Desa Mekargalih, Kecamatan Tarogong Kidul adalah salah satu desa di Kabupaten Garut yang memiliki potensi ekonomi kreatif yang cukup bagus. Desa Mekargalih sejak kepemimpinan Kades H. Yana Mulyana, Mekargalih mengalami kemajuan cukup pesat, khususnya dalam pembangunan infrastruktur. Kini jalan pedesaan di wilayah Mekargalih mulus dihotmix. Dengan infrastruktur yang cukup mulus, tak heran perekonomian warganya pun mengalamai kemajuan signifikan.

Rangginang khas Hj. Kokom saat proses pengeringan dengan cara dijemur, Senin (14/8/17)***

Salah satu pendukung perekonomian warga di Desa Mekargalih diantaranya bidang ekonomi kretaif yang ditekuni beberapa wargannya. Penganan khas di Mekargalih yang sudah dikenal luas diantaranya makanan khas yang berbahan baku dari beras ketan, yaitu rangginang, angleng serta wajit.

Menurut Kades Mekargalih, H. Yana Mulyana, di desanya ada salah satu pengrajin rangginang yang sudah dikenal luas, yakni rangginang buatan Hj. Kokom. Berbeda dengan rangginang kebanyakan, rangginan buatan Hj. Kokom dikenal renyah luar dalam. Selain terkenal dengan kerenyahannya, rangginang Hj. Kokom jika digoreng lebih mengembang.

“Ya, rangginang Hj. Kokom ini memang berbeda dengan rangginang pada umumumnya. Selain renyah luar dalam, rasanya juga lebih nikmat juga ketika digoreng ukuruanya jeadi besar mengembang,” ujar H. Yana.

Kelezatan rangginang Hj. Kokom, memang bukan sekedar isapan jempol belaka. Terbukti, yang menjadi pelanggannya datang dari berbagai daerah. Sejumlah pelanggan penikmat rangginang ini datang dari berbagai daerah, semisal Jakarta, Bandung dan kota kota besar lainnya. Bahkan, menurut Hj. Kokom, ada diantara pelanggannya yang secara khusus membeli rangginang untuk oleh-oleh ke luar negeri seperti negeri Belanda dan Saudi Arabia.

“Alhamdulillah, pelanggan mah udah banyak. Ada juga dari luar daerah seperti dari Bandung, Jakarta dan lainnya. Bahkan, yang ada membeli rangginang katanya khusus untuk dijadikan oleh-oleh ke Belanda dan Arab Saudi,” tutur pemilik usaha rangginang asal Kampung Cirengit ini, Senin (14/8/17).

Meski produk ranggiang Hj. Kokom sudah termasyhur, bahkan produk industri rumahan ini telah eksis puluhan tahun. Uniknya pemilik home industry ini sama sekali belum meiliki merek dalam kemasan produknya.

“Polos saja, kemasannya tidak pakai merek. Karena memang sudah pada kenal yang beli dari mana-mana biasa sengaja datang ke sini (Kampung Cirengit/ Desa Mekargalih/red.),” tuturnya.

Menurutnya, untuk memenuhi permintaan konsumen, Hj.Kokom di hari hari biasa dalam seharinya bisa menghabiskan bahan baku utama, yakni beras ketan hingga satu kuwintal. Jika memasuki musim hari raya, seperti Idul Fitri kebutuhan bahan baku ini bisa meningkat beberapa kali lipat.

“Ya, untuk hari hari biasa bisa menghabiskan satu kwintal beras ketan. Kalau musim Lebaran bisa meningkat beberapa kali lipat,” ungkapnya.

Kades Mekargalih berharap, keberadaan potensi ekonomi kretaif di wilayahnya ini bisa mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Selama ini dukungan untuk pengemabangan ekonomi kreatif, khususnnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dirsakan sangat minim.

“Belum ada mungkin. Sampai saat ini memang belum ada semacam kunjungan khusus atau pelatihan dari pihak terkait untuk pengembaang ekonomi kreatif atau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Mudah-mudahan ke depannya bisa tersujudkan,” harapnya. (ER)***

Jelang HUT RI Pedagang Bendera Bisa Raup Untung Rp 700 Ribu Sehari

GARUT, (GE).- Mejelang peringatan Hari Ulah Tahun (HUT) kemerdekaan RI merupakan saatnya “marema” bagi para pedagang bendera dan atribut utnuk acara Agustusan. Para pedagang musiman di beberapa kawasan Kabupaten Garut yang menjual bendera merah putih, umbul-umbul dan sejenisnya sejak dua mingguan sebelum hari H Perayaan mulai ramai menjajakan barang dagangannya.

Menurut pengakuan beberapa pedagang di kawasan perkotaan Garut, keuntungan dari berjualan bendera dan sejenisnya ini cukup lumayan. Sebagian pedagang ada yang mengaku bisa meraup keuntungan hingga RP 700 ribu dalam seharinya.

Bagi para pedagang musiman, momentum HUT kemerdekaan RI merupkan berkah tersendiri. Dengan berjulanan benedra menjelang perayaan HUT RI ini keuntungannya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari hingga beberapa bulan.

“Tahun sekarang cukup lumayan, jika dibaningkan tahun lalu (2016/red.). Alhamdulilah lumayan, penghasilan perhari bisa sampai Rp 700,” tutur Suprianto, salah seorang pedagang bendera yang dijumpai “GE” beberapa hari yang lalu.

Selain menjual bendera berbagai ukuran, para pedagang musiman ini juga menjula berbagai corak umbul-umul dengan harga variatif. Para pedagang menjual bendera mulai dari harga Rp 20 ribu hingga Rp  125 ribu per buah. Sementara untuk umbul umbul atau bandir dijual mulai Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu per 10 meter. (Andri)***

Editor: Kang Cep.

Revitalisasi Lima Pasar di Garut, Bupati: Nilainya Rp 28 – Rp 36 Miliar

GARUT, (GE).- Sebagai bentuk upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan di Garut, Pemda Garut mulai membenahi sejumlah pasar tradisional di beberapa kawasan Garut. Dengan pembenahan ini diharapkan mampu menarik pengunjung dan berdaya saing dengan pasar modern.

“Ya, ekonomi kerakyatan terus kita dorong. Salah satunya kita menjalankan program revitalisasi pasar-pasar tradisional di Garut,” ujar Bupati Garut, Rudy Gunawan, Rabu (2/8/17).

Diakuinya, Kabupaten Garut memiliki potensi pertumbuhan perekonomian yang baik. Sementara, pemerintah daerah sendiri siap mendorong ekonomi kerakyatan dengan membangun pasar-pasar tradisional untuk menyediakan tempat perdagangan yang nyaman.

“ini kita lakukan sebagai upaya untuk mendongkrak potensi ekonomi,” katanya.

Rudy menyebut, Pemerintah Kabupaten Garut telah mencanangkan program revitalisasi lima pasar tradisional yang ditargetkan selesai 2019. Besaran anggaran ada yang mencapai Rp3 6 miliar.

“Beberapa pasar yang kita bangun nilainya muali dari Rp 28 hingga Rp36 miliar,” tukasnya.

Dijelaskannya, Pemerintah Kabupaten Garut saat ini tengah memperbaiki pasar tradisional Samarang di Kecamatan Samarang yang ditargetkan selesai akhir 2017, selanjutnya akan membangun Pasar Tradisional Leles pada tahun anggaran 2018. (Tim GE)***

Penganan Khas Malangbong Tersaji di Prukades Expo BUMDes Nusantara

GARUT, (GE).- Beberapa produk penganan khas Malangbong selama ini dipercaya menjadi mampu menjadi penopang perekonomian masyarakat sekitar. Selain penganan khas, di Malangbong juga dalam beberapa tahun terakhir sempat menjadi primadona dengan buah stroberi nya.

Namun beberapa tahun kebelakang rasa manisnya stroberi Malangbong  itu  nyaris sirna terkena hama tanaman yang mematikan. Beruntung masih tersisa beberapa petani yang terus memelihara dan menjaga budidaya stroberi  ini.

Baru-baru ini melalui pengelolaan BUNDes, strobery Malangbong turut dipamerkan dalam gelaran Prukades Expo Bumdes 2017. Dalam kegiatan bersekala nasional ini Kecamatan Malangbong dipercaya  mewakili Provinsi Jawa Barat.

Prukades Expo  Bumdes 2017 merupakan kegiaan Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Kegiatan ini merupakan kegiatan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di desa-desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Pentingnya BUMDes juga disosialisasikan melalui Expo BUMDes Nusantara hingga Tour to BUMDes.

Menurut Teten Sundara, yang erupakan Camat Malangbong, dalam expo ini, selain menyajikan stroberi juga memaerkan beberapa penganan khas semisal Endog Lewo dan ladu Malangbong yang konon sudah termashur hingga mancanegara.

“Expo BUMDes Nusantara menampilkan dan memperkenalkan produk-produk unggulan BUMDes. Tujuannya untuk memasarkan keragaman usaha BUMDes dari berbagai provinsi di tingkat nasional . Alhamdulillah Kecamatan Malangbong, dipercaya mewakili Provinsi Jawa Barat. Ini tentunya sebuah peluang untuk mempromosikan produk unggulan Garut,” ujar Camat Malangbong, Teten Sundara, (28/7/17).

Teten menambahkan, eksoktiknya keindahan pesona alam Malangbong,  miniatur kesenian khas Malangbong juga turut diperkenalkan. Prukades Expo Bumdes juga akan menambah wawasan untuk melihat keunggulan dari Kabupaten lain,

“Jua bisa menambah motivasi, menyadari kekurangan nilai jual, dan berani bersaing dengan daerah lain,” ujar Teten Sundara didampingi staf Kecamatan Malangbong,  Azis DM,  Yoyo dan eful. (TAF Senopati/ GE)***

Editor: Kang Cep.